Journal

Gadis Hujan

PUKUL tiga sore, kafe tempatku bekerja masih sepi. Pengunjung biasanya ramai selepas jam kerja. Pukul enam atau tujuh sore, kafe ini dipenuhi orang-orang yang baru pulang atau pengunjung setia yang memang sengaja datang untuk nongkrong. Mereka minum, makan, rapat, pacaran atau sekadar ngobrol-ngobrol asyik bersama teman-teman. Ada pula yang ngopi sambil menunggu kemacetan reda, browsing memanfaatkan Wi-Fi gratisan atau sekadar mencari colokan listrik untuk mengisi batere gadget yang sudah lemah. Atau,menjadikannya sekadar tempat singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan entah ke mana.

Sekarang hanya ada tiga meja yang terisi. Satu meja ditempati sepasang remaja yang tampak baru mulai pacaran. Usia mereka mungkin masih 19-20 tahunan. Sejak muncul dari pintu masuk, tangan mereka hampir tak pernah lepas, terus-terusan berpegangan. Si lelaki tiap sebentar merapikan rambut yang tergerai di dahi si perempuan yang punya wajah cantik dan senyum yang manis. Dan si perempuan tiap sebentar meninju bahu si lelaki yang agak gemuk tapi tampan dengan gemas, saat lelaki muda itu melontarkan canda. Kemesraan mereka seolah tak habis-habis, membuat siapa pun yang melihat jadi sedikit iri. Kalau ini bukan Indonesia, aku yakin keduanya sudah saling rangkul dan berciuman. Mereka berpotensi menjadi pasangan yang serasi. Tiap sebentar tersenyum. Tiap sebentar saling berbisik. Aduhai.

Meja kedua ditempati dua orang lelaki yang mungkin berusia pertengahan 30-an, dua orangy ang tampak sedang reuni kecil-kecilan, mungkin dua sahabat yang sudah lama tak jumpa, tiap sebentar keduanya tertawa, sesekali terpingkal-pingkal. Pasti ada lelucon masa lalu yang membuat mereka seperti itu.

Meja ketiga, meja yang berada paling dekat ke pintu masuk, ditempati seorang gadis muda berumur kira-kira 25 tahun. Dia gadis yang cantik. Kulitnya bersih dan terang. Hidungnya pun bangir. Di bibirnya yang pucat, dia memoles lipstik warna beige pekat, yang membuat wajahnya tampak lebih pucat. Gadis itu mengenakan baju dan rok panjang sampai ke mata betis yang dua-duanya didominasi warna hitam. Dia juga membawa sebuah tas jinjing yang juga didominasi warna hitam. Sejak datang, matanya yang gelisah tiap sebentar menoleh ke arah pintu masuk, bahkan kadang-kadang tatapannya tampak lebih jauh, menembus dinding-dinding kaca kafe, sampai ke perempatan yang ramai oleh kendaraaan dan orang yang lalu-lalang. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang, mungkin teman atau pacar. Di depan meja gadis itulah sekarang aku sedang berdiri menunggu dia memesan.

“Saya pesan segelas cappuccino,” katanya. “Oke. Cappuccino satu. Ada lagi?” Aku mencatat di buku kecilku. Gadis itu melirik jam tangannya, memikirkan sesuatu beberapa detik, kemudian menjawab, “Itu saja. Saya sedang menunggu seseorang. Mungkin nanti kalau dia datang, saya akan pesan lagi.” “Oh, baik. Jadi, satu cappuccino, ya. Saya akan siapkan.” “Terima kasih.” “Sama-sama.” Aku pergi, dan beberapa menit kemudian datang lagi membawa pesanan gadis itu. Saat aku mau kembali ke belakang, gadis berbaju hitam itu bertanya, “Menurut Mbak, apakah di Depok sekarang sedang hujan?” Aku mulanya heran mendengar pertanyaan itu. Kenapa tiba-tiba gadis itu menanyakan itu? Tapi kemudian aku menyahut, “Saya tidak tahu, Mbak. Tapi belakangan ‘kan memang sering hujan. Di luar juga sedang mendung sepertinya.” “Jadi menurut Mbak, apakah di Depok sedang hujan?” kejarnya lagi. Aku tersenyum. Pertanyaan yang sama dan sudah kujawab. Tapi dengan ringan aku menjawab kembali, “Sepertinya begitu.” Gadis itu diam. Jawabanku berlalu bagai angin begitu saja. Merasa percakapan itu telah selesai, aku memutar badan mau beranjak pergi. Tapi gadis itu tiba-tiba berkata lagi, “Ya, semoga dia tidak kehujanan di jalan.” “Maaf?” “Orang yang saya tunggu.” “Oh.” Aku menunggu sebentar, berjaga-jaga kalau gadis itu masih ingin bicara, tapi ketika dia mengeluarkan novel “Norwegian Wood” karya penulis Jepang Haruki Murakami dari dalam tas hitamnya dan mulai membaca, aku meninggalkannya. Menit-menit berlalu seperti biasa. Sejoli yang tampak seperti baru jadian tertawa terkikik-kikik, membuat dua pria di meja lain melirik mereka sembari tersenyum. Dua pria itu tak lama kemudian bangkit dari kursi masing-masing, bersalaman, kemudian salah seorang di antaranya melangkah ke pintu. Pria satunya lagi kemudian mengeluarkan laptop dari sebuah tas ransel, kemudian asyik dengan benda itu. Seorang remaja berpakaian seragam SMA masuk ke kafe, memesan segelas besar Ice Blended Cappuccino kemudian pergi lagi. Lalu, ada satu pelanggan lagi datang dan memesan kopi untuk dibawa pergi. Pukul empat sore kurang beberapa menit, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Jendela kaca kafe berembun, dan beberapa pejalan kaki yang menghindari hujan merapatkan diri ke pinggiran kafe, membuat cahaya di dalam jadi semakin gelap. Gadis yang duduk sendirian melambaikan tangan ke arahku. Aku datang mendekat. “Saya pesan secangkir kopi. Kopi hitam, tanpa gula,” katanya. Aku menggangguk. “Ada lagi?” tanyaku. Dia menggeleng. Gelas Cappuccino-nya hanya berkurang sedikit, mungkin baru seteguk. Bekas lipstiknya menempel di bibir cangkir yang berwarna putih santan. Lalu, dia kini memesan secangkir kopi pahit. Aku berpikir, jangan-jangan dia tak suka cappuccino buatan kami kemudian memesan yang lain. Tapi tunggu… secangkir kopi pahit? Aku jarang menemukan perempuan yang suka jenis minuman ini. “Kopi pahitnya bukan buat saya, tapi pacar saya, dia sebentar lagi datang,” katanya seolah tahu isi kepalaku. Mendengar kata-katanya itu, aku terus terang jadi sedikit kikuk, kalau tak mau disebut malu. Tatapan matanya—yang baru kusadari ternyata maniknya teramat hitman—kini membuatku agak gugup. Cepat-cepat aku minta maaf kemudian berlalu. Sambil membuatkan kopi pahit pesanannya, aku berpikir aneh: jangan-jangan gadis itu punya indra keenam yang bisa membaca pikiran orang lain. Aku mengantar kopi hitam tanpa gula pesanannya dan cepat-cepat kembali ke belakang konter tempat tugasku. Beberapa orang yang terjebak hujan akhirnya memilih masuk ke dalam kafe dan duduk-duduk minum kopi sambil menunggu hujan berhenti. Aku dan rekanku Rio bergantian melayani mereka. Pukul setengah lima, hujan mulai reda, dan kerumunan orang-orang di balik dinding kaca kafe pergi satu-satu. Sepasang sejoli yang baru jadian dan pria yang duduk sendirian akhirnya juga pergi, dan kini di kafe hanya ada satu tamu; gadis bermanik mata hitam itu. Manajerku keluar dari kantor yang ada di belakang dapur, bicara basa-basi denganku dan Rio soal cuaca dan curhat tentang kemacetan yang kian parah, kemudian pergi lagi ke ruangan kerjanya beberapa menit kemudian. Rio pergi pipis ke toilet dan kini hanya ada aku dan gadis itu, gadis yang sedang menunggu pacarnya. Di depan kafe tampak sepi. Daniel, anak magang yang bertugas menyambut tamu tampak berdiri dengan tampang bosan. Aku mengisi kekosongan dengan merapikan bungkus gula dan krim sambil nonton televisi yang tergantung di pojok kafe. Aku nonton acara infotainment seperti biasa, tentang artis kawin-cerai, dan hal-hal semacam itu. Lalu, aku mendengar suara itu, suara isak perempuan. Awalnya kupikir suara isak dari acara di televisi, tapi suara itu begitu dekat denganku. Ternyata gadis berbaju hitam itulah yang terisak. Awalnya isakannya nyaris tak terdengar, tapi makin lama makin jelas. Aku agak bingung. Apa yang harus kulakukan? Diam saja atau bertanya? Aku memilih yang pertama. Mungkin dia cuma butuh beberapa detik untuk melepas perasaan sedihnya. Biarkan saja. Tapi memasuki menit ketiga, isak itu tak juga berhenti. Apakah gerangan yang membuat dirinya seduka itu? Rio, teman sejawatku datang dari toilet dan langsung ikut terpaku menatap gadis yang sedang terisak itu. “Kenapa dia, Del?” bisik Rio. Aku menggeleng. Rio juga tampak bingung. “Samperin saja, sana,” kata Rio sambil menyenggol pelan siku tanganku. Aku bergeming, meneruskan menonton televisi. “Kamu aja sana,” kataku pada Rio. Rio memilih pura-pura sibuk merapikan meja. Isak gadis itu kini berubah jadi tangisan. Tepat pada saat itu, dua orang tamu pria masuk dan langsung menatap heran ke arah gadis itu. Aku dan Rio saling pandang. Ini mulai tak baik. Salah seorang dari kami harus melakukan sesuatu. Rio memilih melayani tamu yang baru masuk, dan aku terpaksa melangkah mendekati gadis itu. “Mbak… maaf, ada apa? Kenapa Mbak menangis?” Aku menata baik-baik kata-kata yang meluncur dari mulutku. Bagaimanapun, aku adalah seorang pelayan dan gadis itu tamuku. Aku harus sesopan mungkin bertanya, agar tak menyinggung perasaannya. Gadis itu menatapku, lalu cepat-cepat menyapu airmata di pipinya dengan saputangan yang juga berwarna hitam. “Ah, maaf, Mbak. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud…” Dia berusaha sekuat tenaga mengulas senyum. Meskipun kini tangisnya sudah berhenti, tetap saja dia gagal mengubur kesedihan itu dari matanya. Usahanya untuk menghapus dukanya tampak sia-sia saja. Aku mendadak merasa iba. Aku jadi ingat Ranti, adik sulungku, yang suka menangis. “Mbak mau saya ambilkan air putih? Air putih bisa…” kata-kataku tertahan saat gadis itu tiba-tiba meraih lengan kananku dan melalui gerakan yang lembut menyuruhku duduk di depannya. “Maukah menemani saya sebentar?” katanya meminta, atau lebih tepatnya memohon. Lewat sudut mata, aku menoleh ke arah Rio yang sedang sibuk menyiapkan pesanan para tamu, minta pendapat. Rio hanya mengangkat bahu, lalu kembali sibuk. Aku tak punya pilihan yang lebih baik, jadi kuputuskan duduk di depan gadis itu lalu memberanikan diri menatap matanya. “Apa yang bisa saya bantu, Mbak? Maaf saya bukannya tidak sopan, tapi…” “Maafkan saya. Saya menangis karena baru saja diputuskan oleh pacar saya. Saya sedih sekali. Saya tidak menyangka sama sekali dia memutuskan hubungan kami.” Suaranya parau. Aku tidak tahu harus berkata apa, jadi aku diam saja. Tangisnya kembali pecah. Rio menatap dari kejauhan dengan gestur bertanya, aku menggeleng pelan. Setelah menghapus air matanya dengan saputangan, gadis itu meneruskan, “Dia terlambat karena jalanan macet akibat hujan lebat. Tempat parkir mobilnya agak jauh dan dia tidak bawa payung. Jadi dia menerobos hujan deras untuk sampai ke sini. Pakaiannya dan rambutnya basah kuyup. Dia tadi langsung minum kopi yang saya pesan, sampai tak bersisa, mungkin dia kedinginan. Dia memang suka sekali kopi hitam, beda sekali dengan saya. Dia bilang dia sering ke sini, makanya mengajak saya bertemu di sini. Saya sendiri baru pertama kali ke sini. Mungkin Mbak sudah akrab dengan wajahnya. Dia tadi bilang Mbak sering melayaninya.” Aku bingung. Kucerna lagi apa yang dikatakan gadis itu. Dia bilang pacarnya datang dengan kondisi basah kuyup, duduk bersamanya persis di tempat aku duduk sekarang, dan meminum kopi hitam yang tadi dipesan gadis itu. Tapi aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu saat datang atau saat pergi. Aku hanya tahu gadis itu duduk menunggu sejak pukul setengah tiga, memesan Cappuccino kemudian kopi hitam, dan beberapa menit yang lalu terisak-isak sendirian. Tak ada lelaki. Tak ada siapa pun kecuali aku dan Rio. “Maaf, tapi tak ada yang datang dan duduk di sini bersama Mbak sejak tadi,” kataku. Gadis itu menatapku, kini dengan sorot sedikit heran. “Apa maksud Mbak?” “Ya, saya tidak ke mana-mana sejak tadi. Saya tidak lihat ada orang duduk dan ngobrol dengan Mbak di meja ini,” kata saya menjelaskan. “Jadi, maksud Mbak saya mengarang-ngarang cerita itu?” Kini aku bingung. Entah mana yang harus kuutamakan, menghargai perasaan tamu atau menghormati keyakinanku sendiri. Sumpah disambar gledek, aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu. “Maaf, Mbak, saya tidak bermaksud begitu. Tapi saya memang tak melihat pacar Mbak itu.” “Coba tanya teman Mbak yang menjaga pintu masuk, dia pasti ingat,” katanya, kini dengan nada agak sengit. Aku ke depan memanggil Daniel. Kuceritakan apa yang terjadi. Di depanku dan gadis itu, Daniel mengerutkan keningnya. Pemuda 19 tahun itu menggeleng. “Tidak, Mbak Della, saya tidak lihat orang denganciri-ciri seperti itu masuk ke kafe,” katanya. Mendengar jawaban Daniel, gadis itu tiba-tiba bangkit, buru-buru mengambil selembar seratus ribuan dari dalam dompet dan menaruhnya di atas meja, kemudian beranjak ke pintu dengan lagak kesal. Begitu tubuhnya hilang di koridor, aku mengambil uang itu dan mengemasi gelas kopi di atas meja. “Aneh banget ya, Mbak,” kata Daniel. “Banget,” sahutku. “Ya, sudah, terima kasih, Daniel, silakan kembali ke depan lagi.” Daniel pergi. Aku mengangkat nampan ke dapur. Saat meletakkannya di tempat cuci piring, sesuatu membuatku nyaris terhenyak. Cangkir kopi hitam yang dipesan gadis tadi untuk pacarnya sudah kosong. Tidak itu saja, aku tiba-tiba merasa bagian pantat celanaku agak lembab. Aku pergi memeriksa jok kursi tempat aku duduk bersama gadis tadi, dan jok kursi itu lembab seperti baru ditumpahi air. Aku kembali teringat cerita gadis itu tentang pacarnya. Apakah dia berkata yang sebenarnya? Seketika aku merinding.[] © Melvi Yendra, 2014

Standard
Journal

Bangkai

JAM dinding di ruangan ini menunjuk pukul tujuh tepat. Belum satu orang pun terlihat. Aku berangkat terlalu pagi dari rumah. Selepas subuh, aku sudah berdiri di halte bus terdekat. Aku tidak ingin terlambat di hari pertamaku. Padahal jarak rumahku dan kantor sebenarnya tak terlalu jauh. Tapi ini kota besar, dan ini hari Senin. Apa pun bisa terjadi di hari Senin. Tapi, aneh juga bila di kantor besar ini, belum satu pegawai pun hadir. Tapi bukan itu sebenarnya yang menggangguku. Aku mencium bau tak sedap, busuk. Tapi entah apa. Bau tak sedap itu, sebenarnya tercium sejak pertama kali aku memasuki ruangan ini. Awalnya kukira aroma tong sampah yang belum dikuras. Tapi, bau ini terlalu busuk untuk sebuah tong sampah di ruang kerja. Apakah ada yang membuang bangkai tikus atau makanan basi di dalamnya? Ah, mungkin saja ada tikus yang mati di salah satu lorong angin entah di mana, dan sialnya, tikus malang itu mati tak jauh dari meja kerjaku. Walaupun bau itu sangat mengganggu dan membuatku tidak nyaman, aku masih sungkan untuk bertanya. Saat seorang office boy masuk ke ruangan kemudian sibuk mondar-mandir menaruh gelas-gelas teh manis di atas meja, aku diam saja. Yang mengherankanku, dia tampak seolah tak mencium bau busuk itu.

AKU baru saja pindah ke kota besar ini. Bulan lalu, aku dimutasi ke kantor pusat ini. Meskipun istriku keberatan karena kami terpaksa mencari kontrakan baru, aku tak punya pilihan lain. Bau tak sedap di ruangan kerjaku itu segera terlupakan saat aku mengikuti apel pagi. Kepala Bagian Kepegawaian, Pak Sohib, memperkenalkanku kepada seluruh jajaran staf. Apel pagi itu berlangsung setengah jam, sebagian besar diisi oleh sambutan-sambutan oleh Bapak Kepala dan Bapak Wakil Kepala. Ketika apel pagi usai, dan aku kembali ke ruanganku, bau busuk itu masih tercium. Bahkan, baunya semakin kuat ketika aku duduk di mejaku. Pegawai yang lain sudah mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi, aku semakin heran, tak seorang pun tampak terganggu dengan bau busuk itu. Apakah mereka sungguh-sungguh tak menciumnya?

Pak Sohib mendadak muncul di depan mejaku.

“Pak Andre, mari ikut ke ruangan saya sebentar,” katanya. Dalam hati aku merasa senang. Aku punya kesempatan untuk kabur sementara dari ruangan yang berbau busuk itu. Di ruangan Pak Sohib bau itu memang tak tercium benar. Tapi, samar-samar, bau itu masih tertangkap juga olehku, seolah-olah biangnya sudah lekat di pucuk hidungku. Ataukah ini cuma perasaanku saja?

Pak Sohib menyerahkan SK baruku dan berkas-berkas kerja pegawai yang posisinya kini aku gantikan.

“Oh ya, atasan langsung Pak Andre, Pak Bobby sedang cuti. Jadi untuk sementara Pak Andre silakan langsung koordinasi dengan Bapak Wakil Kepala. Kalau ada hal lain yang Pak Andre perlukan, jangan sungkan-sungkan menemui saya,” Pak Sohib berkata. “Selamat bergabung dan selamat bertugas.”

“Terima kasih, Pak Sohib…” ucapku agak menggantung. Haruskah aku bertanya soal bau busuk itu sekarang, di hari pertamaku? Apakah cukup sopan?

“Hmmm… begini, Pak Sohib… ruangan saya…” “Kenapa dengan ruangan, Pak Andre?” Aku mendadak merasa sungkan. “AC-nya kurang dingin, ya?”

Lelaki tambun di depanku langsung menyambar. Dia tersenyum. “Jangan kuatir, hari ini kebetulan ada tukang AC yang datang, Biar nanti saya minta mereka memeriksa AC di ruangan Pak Andre,” kata Pak Sohib.

Aku cepat menukas, “Tidak perlu, Pak Sohib. Di sana AC-nya sangat sejuk.”

Aku kembali ke ruanganku. Beberapa langkah sebelum sampai di meja, bau busuk itu kembali tercium. Aku mendadak mual. Aku mencari-cari saputangan di dalam tas dan cuma menemukan masker penutup hidung yang biasa aku pakai bila mengendarai motor. Tapi aneh rasanya, mengenakan masker di dalam ruangan ber-AC, bisa-bisa aku dikira sudah senewen. Jadi, kubiarkan bau busuk itu tetap menerjang hidungku. Tapi rasa penasaranku sudah memuncak. Aku tidak tahan lagi untuk tidak bertanya. Kucegat office boy saat lewat di depan ruanganku. Joni—begitu nama yang terjahit di atas saku seragamnya—bingung mendengar penjelasanku.

“Bau busuk apa ya, Pak?” tanyanya penuh keheranan sambil melihat ke loteng.

“Bau bangkai tikus atau kucing barangkali,” jawabku sambil menutup hidung. Terpikir juga olehku, jangan-jangan itu bau bangkai manusia, tapi apakah mungkin?

“Saya tidak mencium apa-apa, kok, Pak, kecuali bau pewangi ruangan,” kata Joni. Dia menatapku yang sedang berusaha menahan napas dengan tatapan makin heran.

Apa yang harus kukatakan lagi? Apakah aku benar-benar sudah sinting karena sepertinya hanya aku yang mencium bau busuk itu sementara di ruangan ini ada belasan orang?

“Tapi, saya akan coba cek ke atas, Pak,” janji Joni. Itu membuatku sedikit lega.

“Terima kasih, Mas,” sahut saya. Joni nyengir, kemudian berlalu.

Jam istirahat datang juga setelah tiga jam penuh siksaan di meja kerja. Sehabis makan siang, aku mendengar suara-suara di loteng di atas ruanganku. Perasaanku sedikit lega. Pastilah si Joni sekarang sedang merangkak-rangkak di lorong angin sambil menyeret bangkai tikus besar.

Tapi, setengah jam kemudian, Joni kembali dengan wajah sedikit kesal. “Di atas tidak ada apa-apa, Pak,” katanya merungut, kemudian bergegas pergi. Aku menghela napas karena tak diberi kesempatan bertanya. Aku kembali duduk di mejaku dan mencoba berkonsentrasi pada pekerjaan. Tapi sampai jam pulang, yang ada di kepalaku hanya soal bau busuk itu. Tak ada yang lain.

Di rumah, Suri, istriku heran dan sama sekali tak percaya mendengar ceritaku.

“Abang becanda, kan?” tanyanya. Tapi demi melihat wajahku yang serius, Suri akhirnya mau percaya. Tapi, akibatnya, malam itu juga, aku diajak mendatangi sebuah klinik THT yang tak jauh dari rumah kami.

“Hidung Anda tidak apa-apa,” kata perempuan muda berbaju putih setelah selesai memeriksa hidungku.

Suri dan aku makin bingung.  “Tapi kenapa cuma saya yang bisa mencium bau itu?” tanyaku.

PERTANYAAN itu kuulang-ulang puluhan kali. Kepada dokter spesialis, kepada tetangga, kepada sahabat dekat, bahkan tukang ojek langgananku. Puluhan jawaban muncul, tapi tak ada yang bisa memberi jawaban yang masuk akal.

Di kantor, aku sudah seperti orang gila, bekerja mengenakan masker, dan tiga kali sehari aku muntah-muntah di kamar mandi. Anehnya, aku tak pernah jatuh sakit. Baru dua minggu bekerja di sana, berat badanku memang menurun drastis, tapi aku sehat walafiat. Istriku mulai tidak tahan melihat penderitaanku. Terutama ketika hampir setiap malam aku mendapat mimpi buruk.

“Berhenti saja. Cari pekerjaan lain,” kata Suri suatu malam sambil menangis.

“Jangan. Ini satu-satunya sumber nafkah kita. Ini satu-satunya keahlianku. Kalau aku mengundurkan diri, kita makan apa?”

Pertanyaan itu membuat Suri terdiam. Dan, aku memaki-maki diriku sendiri sampai pagi.

SUATU kali ada tanggal merah yang jatuh pada hari Kamis. Jumat aku bolos kerja. Kumanfaatkan libur panjang itu untuk jalan-jalan bersama keluargaku. Soal bau busuk dan hidungku yang aneh itu, sedikit terlupakan.

Hari Senin, saat masuk kerja kembali, aku berharap bau busuk itu tak ada lagi. Namun, ketika aku sampai di meja kerjaku, aku salah besar. Bau itu bahkan lebih sengit dari biasanya. Perutku terasa mual dan aku muntah-muntah di kamar mandi. Teman-teman sekerja yang sejak awal sudah heran dengan tingkah anehku, kini mulai bertanya ada apa. Aku coba menjelaskan tentang bau busuk itu. Kubawa mereka ke ruanganku dan reaksi yang kudapatkan hanya kerutan kening dan gelengan kepala. Alih-alih ikut prihatin, mereka semua malah meninggalkan aku sendirian sambil senyum-senyum. Setelah istirahat siang, perutku kembali mulas. Aku ingin muntah lagi. Aku lari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutku yang tersisa ke dalam lubang kakus. Di cermin, wajahku memucat. Sebagian karena kehabisan cairan, setengahnya lagi karena rasa bingung campur takut. Apa sebenarnya yang terjadi denganku?

“Kau bukan yang pertama.”

Aku tersentak kaget. Entah sejak kapan lelaki itu ada di sana, duduk di atas bangku kayu, di sebuah ruangan sempit penuh peralatan pembersih di depan kamar mandi. Separuh baya, ringkih, dan tampak penyakitan. Baru hari ini aku melihat sosoknya. Di manakah dia selama ini?

“Maaf, apa maksud Bapak?”

“Kau bukan yang pertama,” katanya lagi dengan misterius, kemudian bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu. Kuikuti langkahnya. Aku penasaran, bagaimana lelaki itu bisa tahu soal bau itu. Dan siapa yang pertama kalau bukan aku? Tapi aku kehilangan jejak lelaki itu saat membuka pintu pantri. Di ruangan sempit itu hanya ada Joni.

“Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

“Tadi ada bapak-bapak setengah baya masuk ke sini. Kamu lihat tidak?” Joni mengerutkan kening.

“Bapak yang mana?”

“Bapak yang barusan masuk ke sini. Saya tadi bicara dengannya di depan kamar mandi.”

“Pegawai juga? Tidak ada yang masuk ke sini dari tadi, Pak. Hanya ada saya,” kata Joni yakin.

“Dia bukan pegawai, sepertinya rekan kerja Mas Joni. Sudah agak berumur, saya baru lihat dia hari ini,” kataku masih yakin. Joni terdiam sebentar, lalu kembali sibuk mengelap gelas basah yang baru saja selesai dicuci.

“Tidak ada OB lain di kantor ini, Pak. Hanya ada saya,” katanya sambil menatapku heran.

Aku pergi. Saat melangkah kembali ke ruanganku, kepalaku terasa sakit. Segala keanehan yang kualami ini membuat otakku mendidih. Belum satu bulan bekerja di kantor ini, aku sudah mulai tak betah. Soal bau tak sedap itu membuat rekan-rekan kerja mengira aku sudah sinting. Tatapan yang diikuti tawa cekikian sering aku terima dari mereka. Siang itu aku menelepon istriku dan mengutarakan niatku untuk mengundurkan diri. Istriku, meskipun pernah mengusulkan aku mengambil langkah ini, tetap terkejut mendengar keputusanku.

Malam itu Suri menangis mendengar ceritaku. Kalau aku benar-benar berhenti bekerja, maka kami terpaksa mulai menjual beberapa barang sampai aku mendapat pekerjaan lain. Sekitar pukul sepuluh malam, saat menutup gorden jendela, aku melihat ada orang berdiri di luar pagar depan rumahku. Sosok itu berdiri di bawah tiang listrik dan diam di sana tanpa melakukan apa-apa: hanya matanya saja yang menatap ke arah rumah kami. Aku keluar dari rumah dan menghampiri.

“Bapak mencari siapa?” tanyaku setelah membuka pintu. Dia bergeming. Bagian depan rumahku memang tak banyak mendapat cahaya lampu, jadi sosoknya tampak gelap dari tempatku berdiri. Aku mendekat agar bisa melihat wajahnya. Darahku seperti diisap tak bersisa ketika kukenali siapa sosok itu. Lelaki itu, lelaki setengah baya yang tadi siang bicara denganku di depan kamar mandi kantor! Aku refleks bergerak mundur.

“Bapak… bagaimana Bapak bisa tahu rumah saya?” tanyaku gemetar. “Dan ada perlu apa ke sini?” 

Lelaki itu melangkah dari bawah bayangan gelap yang menutupi tubuh kurusnya dan kini aku bisa melihat matanya yang gelap.

“Maafkan saya, saya hanya ingin bicara sebentar dengan Saudara. Itu pun kalau Saudara tidak keberatan…” sahutnya.

Tangannya memegang tiang besi pagar kuat-kuat, seolah-olah kalau tidak begitu tubuhnya akan ambruk ke tanah.

“Bicara tentang apa?” tanyaku khawatir. Lelaki ini, sungguh membuatku takut. Siang tadi dia muncul dan menghilang begitu saja, sekarang tiba-tiba nongol di depan rumahku. Dari mana dia tahu tentang aku?

“Bau itu…” katanya parau.

Suaranya mendadak serak. Sebentar kemudian dia terbatuk-batuk. Dengan susah payah dia meredakan sesak yang menyelubungi dadanya.

“Kalau tidak keberatan, saya mau segelas air,” ucapnya. Aku jatuh kasihan. Kubuka gembok pagar dan kubukakan jalan menuju pintu rumahku. Kami duduk di ruang tamuku yang kecil. Kuambilkan dia segelas air di dapur, dan dengan suara pelan kami mulai bicara. Dan apa yang kemudian kuceritakan setelah ini—sama sepertiku—pasti membuat Anda tak bisa percaya.

Lelaki gaek itu mengaku bernama Ihsanuddin. Dulu, dia adalah office boy di kantorku. Tujuh tahun silam, tepat saat berusia 55 tahun, dia pensiun, setelah menjadi office boy hampir selama dua puluh tahun! Pak Ihsan adalah karyawan yang tekun. Sebagaimana semua office boy, dia datang paling pagi dan pulang paling malam. Rentang paling panjang yang dia miliki itu membuat dia tahu segala peristiwa yang terjadi di kantor itu. Kadang-kadang, dia tanpa sengaja memergoki para staf atau pimpinan melakukan hal-hal tak senonoh di ruang kerja mereka—antara sesama karyawan kantor atau dengan orang di luar kantor. Dia pernah misalnya memergoki, Kepala Bagian Keuangan waktu itu, bercinta dengan seorang wanita panggilan malam-malam saat semua karyawan sudah pulang. Pak Ihsan beruntung, si Kepala Bagian Keuangan, tidak sadar perbuatan kotornya ada yang mengetahui. Banyak sekali yang sudah dia lihat dan saksikan. Yang paling sering adalah selingkuh kecil-kecilan antarsesama karyawan. Sering dia menangkap basah sepasang kekasih berciuman di pantri atau di dalam kamar mandi, padahal Pak Ihsan tahu, masing-masing sudah punya pasangan dan anak sah di rumah. Sering pula dia menemukan kondom-kondom (atau bungkus kondom) di tong-tong sampah di samping meja pegawai. Pak Ihsan juga tahu siapa berselingkuh dengan siapa, dan siapa saja yang sengaja menutupi perselingkuhan itu.

Tak hanya soal perempuan nakal atau perselingkuhan, Pak Ihsan juga sering jadi saksi hidup praktik-praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme yang terjadi di kantor itu, terutama di ruanganku berada. Dia berkisah, lelaki-lelaki berdasi datang dengan koper-koper berisi uang-uang haram dan membawa pergi surat-surat izin yang sudah ditandatangangi dan distempel oleh Bapak Kepala. Pak Ihsan juga tahu dan hafal, mana saja karyawan yang masuk dengan jalur yang legal, dan mana yang masuk dengan amplop besar.

“Tapi ada satu rahasia besar yang sampai saat ini belum saya ceritakan pada siapa pun,” kata lelaki itu di tengah cerita.

“Rahasia apa?” sergapku penasaran. Pak Ihsan menghela napas, memandang isi ruang tamuku untuk mengisi waktu sebelum paru-parunya terisi udara kembali. Dia lalu menatapku penuh harap. “Saya percaya pada Saudara, karena Saudara orang baik. Jadi tolong pegang rahasia ini baik-baik.”

“Baik, saya berjanji demi nyawa saya,” kataku meyakinkannya.

Lelaki seusia ayahku itu kini menatapku penuh harap. “Satu tahun sebelum saya pensiun, terjadi pembunuhan di kantor itu,” kata Pak Ihsan nyaris berbisik. Aku tercekat. Tak kusangka akan mendengar hal itu.

“Siapa, Pak? Siapa yang dibunuh?”

“Namanya Ahmad, seorang office boy.”

“Siapa yang membunuh dia dan kenapa?”

Raut muka Pak Ihsan tampak makin risau.

“Bapak Kepala.”

“Bapak Kepala di zaman Pak Ihsan?” kejarku.

“Ya, dan dia masih menjabat Kepala sampai sekarang.”

Napasku tiba-tiba serasa berhenti saat mendengar kata-kata itu. Wajahku mendadak memucat. Tubuhku terasa dingin. Terbayang olehku wajah Bapak Kepala. Kami sering bertemu saat rapat. Tak kusangka lelaki yang tampak alim dan santun itu ternyata seorang pembunuh.

“Kenapa Ahmad dibunuh?” tanyaku bergetar.

“Dia juga sih yang cari gara-gara. Dia tidak bisa tutup mulut. Semua orang di kantor sudah tahu bajingan seperti apa Bapak Kepala itu, tapi tak satu pun yang berani macam-macam. Semua orang takut, semua orang diam, semua orang tutup mulut.”

“Apa yang dilakukan Pak Kepala sehingga dia Bapak katakan bajingan?” Lelaki ini makin membuatku penasaran.

“Berzina di kantor. Tapi yang diketahui Ahmad jauh lebih banyak, termasuk soal suap dan korupsi. Dia ini pandai menyelidik. Punya bakat jadi intel. Dia menyimpan bukti-bukti.”

Mengejutkanku, Pak Ihsan tiba-tiba bangkit dan beranjak ke pintu. Aku kaget. Sebelum keluar dia berkata, “Ahmad dibunuh persis di ruangan tempat Saudara sekarang bekerja. Mayatnya tak pernah ditemukan. Saya satu-satunya saksi mata atas terbunuhnya Ahmad. Karyawan kantor tak seorang pun yang tahu. Sejak kejadian itu, saya selalu mencium aroma tak sedap di ruangan celaka itu. Anehnya, hanya saya saja yang bisa menciumnya, yang lain tidak. Sama seperti yang Saudara rasakan.”

Aku tercenung.

“Apa yang harus saya lakukan, Pak?” tanyaku.

“Tetaplah bekerja di sana. Setelah malam ini, bau itu akan hilang. Saya pamit. Terima kasih sudah mendengar kisah saya.” Lelaki itu keluar dari pintu rumahku dan dengan cepat menghilang di balik pagar rumah. Aku sama sekali tak sempat menahan langkahnya.

PAK IHSAN benar. Pagi-pagi, ketika sampai di kantor, bau itu sudah hilang, yang tinggal hanya aroma segar pewangi ruangan. Aku merasa lega. Persoalan bau itu selesai sudah dan surat pengunduran diri yang kemarin mau aku serahkan ke Pak Sohib, aku remuk dan kulempar ke tong sampah. Dengan lega aku beranjak ke kamar mandi. Joni tampak sedang sibuk menyiapkan teh pagi. Dengan ramah kuhampiri dia dan mengabarkan soal bau yang sudah lenyap itu.

“Oh, ya? Syukurlah,” jawabnya singkat kemudian melanjutkan pekerjaannya.

Sebelum meninggalkan office boy pendiam itu, mataku menangkap sebuah foto usang tertempel di lemari tua di sudut pantri. Aku penasaran.

“Foto siapa itu, Mas?” Joni menoleh ke arah foto yang kumaksud dan menyahut dengan nada suram.

“Namanya Pak Ahmad. Dulu office boy di sini. Suatu hari dia lenyap. Tak pernah kembali lagi. Hilang seperti ditelan bumi,” jelas Joni.

Ya, Tuhan… lelaki yang mati dibunuh Bapak Kepala itu… Dengan dada berdebar aku melangkah mendekati lemari tua itu dan memerhatikan foto itu dari dekat. Saat melihat wajah siapa dalam foto itu, napasku mendadak berhenti. Wajah dalam foto usang itu adalah wajah Pak Ihsanuddin, lelaki yang semalam bertamu ke rumahku. Hanya saja, di foto itu dia tampak lebih muda beberapa tahun. 

“Bukannya ini Pak Ihsanuddin?” tanyaku cepat pada Joni. Badanku seketika panas dingin.

“Ya, betul, ada juga yang manggil dia begitu. Nama lengkapnya memang Ahmad Ihsanuddin.”

Kini, kerongkonganku seolah tersumbat. Aku terpaku di atas kedua kakiku. Badanku menggigil.[] 

Tanah Baru, 7 Oktober 2011

photo credit: Atelier Teee Wicker Man via photopin (license)

Standard
Journal

Datuk Rajo Malano

SALIM baru saja turun dari bendi ketika Upik adiknya bergegas menuruni tangga batu rumah gadang dan bersorak-sorak kegirangan. Gadis itu berlari-lari kecil melintasi halaman sehingga jilbab putihnya bergoyang-goyang. Bibir Salim menyungging senyum. Upik sudah 18 tahun, tapi perangainya tak berubah juga. Masih juga seperti anak-anak.

“Biar Upik yang angkat Uda,” gadis itu mengambil alih dua kantong plastik dari tangan Salim sambil menunggu udanya membayar bendi. Kemudian Salim menyandang ranselnya yang besar.

“Ada apa sih, Pik? Kenapa Bundo meminta Uda bergegas pulang? Bundo kan tahu sekarang Uda sedang butuh konsentrasi untuk menyelesaikan TA,” Salim menatap adik semata wayangnya. Sejak Salim kuliah di Padang, ia selalu mencemaskan adiknya itu. Mereka jadi jarang bertemu dan Salim sulit mengontrol semua kegiatannya. Untunglah bulan puasa tahun lalu Upik sudah mau memakai jilbab.

Upik bersikap seolah-olah tidak mendengar pertanyaan udanya. Tadi malam, sesudah menelepon Salim, Bundo mengingatkan agar Upik tidak bicara apapun sebelum Bundo sendiri yang bicara. Jadi sekarang dia diam saja.

“Hei, Upik tak mendengar Uda bertanya?”

Upik memain-mainkan kantong di tangannya. Ia menunduk saja ke bawah. Tapi akhirnya diangkatnya juga kepalanya sampai matanya menangkap sorot mata Salim.

“Sebentar lagi Uda juga akan tahu. Jadi ya percuma. Kalaupun Upik paksa, nanti penjelasannya tidak akan memuaskan.”

Mereka berjalan terus menuju rumah bagonjong. Di depan tangga Salim melihat sepasang sepatu milik mamaknya. Salim yakin karena ia hapal betul model sepatu mamaknya itu. Salim mengerutkan keningnya. Mamak? Ada apa pula mamaknya jauh-jauh dari Jambi pulang ke Payakumbuh. Tak biasanya adik Bundonya itu rela meninggalkan kedai kainnya kalau tak ada keperluan yang penting. Pasti ada apa-apa, pikir Salim.

Pemuda itu menaiki tangga batu rumahnya dengan hati bertanya-tanya. Tiba-tiba dia berhenti dan memegang bahu Upik. Karena kaget hampir saja si Upik menjerit.

“Ssstt! Pik, apa kepulangan Uda ini ada hubungannya dengan Nisa?”

Nisa adalah putri sulung mamaknya. Usianya dua tahun di atas Upik. Sekarang jadi bidan desa di Situjuh Batur, hanya sekali naik mobil dari rumahnya. Sesekali Nisa datang berkunjung ke Koto Nan Gadang, melihat bakonya. Dulu Salim sempat mendengar-dengar dirinya mau dijodohkan dengan Nisa. Itu yang sekarang ditakutkannya. Jangan-jangan karena kuliahnya hampir selesai, mamaknya ingin cepat-cepat menikahkannya dengan Nisa.

“Ah, Uda ko ge-er bana ma! Siapo nan nio jo Uda buruak ko?” Upik terkekeh.

“Indak usah takuik, Uda sayang. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan uni Nisa. Kepulangan Uda kali ini Upik rasa akan jadi kesempatan yang baik sekali untuk Uda.”

“Kesempatan, kesempatan apa, Pik?” Kening Salim berkerut lagi. Dipandanginya wajah Upik dengan bingung. Adiknya itu benar-benar sukses membuatnya penasaran. Upik tertawa-tawa senang melihat udanya kebingungan. Diacak-acaknya rambut ikal Salim.

“Yang Upik dengar, Uda mau diangkat jadi datuk. Bagaimana, lai jelas?” Upik merapikan jilbabnya dan menunggu reaksi Salim.

Salim terpaku. Datuk? Aku dipilih jadi datuk?
Seulas senyum terukir di wajah Salim. Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah! Akhirnya Engkau berikan juga kesempatan itu, doa Salim dalam hati.

“Uda? Apa Uda akan berdiri saja di luar?”
Salim tidak mendengar lagi panggilan Upik dari jendela.

@@@

Mereka semua duduk di tikar pandan yang digelar di ruang tengah. Mereka sedang menunggu penuturan akhir dari Kaharuddin, mamak Salim.

“Jadi begitulah Salim. Kami para ninik mamak, bundo kanduang dan tuo-tuo di pasukuan kita sudah sepakat akan mengangkat engkau jadi datuk, menyandang gelar dan meneruskan tugas Datuk Rajo Malano yang terdahulu. Apakah engkau bersedia?”

Suara mamaknya terdengar sangat jelas di telinga Salim. Rapat kaum itu dihadiri orang-orang tua, ninik mamak, bundo kanduang dan keluarga-keluarga sesuku lainnya. Mereka semua menunggu jawaban dari Salim.

Salim melempar pandang mancari wajah Upik. Upik dilihatnya tersuruk dibalik wajah amak-amak. Sekilas dilihatnya Upik tersenyum dan mengangguk.

“Dengan segala senang hati, saya bersedia,” akhirnya Salim menjawab, disambut suara dengungan di mana-mana. Wajah-wajah di ruangan itu terlihat senang.

Sekarang kaum mereka punya datuk baru. Datuk yang akan menjadi tiang sangga dalam kaum, tempat bertanya tempat mengadu. Datuk yang akan mengangkat batang tarandam, tempat para kemenakan bergayut dan tempat orang kampung berunding. Datuk yang akan mengangkat harga diri suku Piliang di tengah suku-suku lain di Minang Kabau. Datuk itu bergelar Salim Datuk Rajo Malano.

@@@

Sudah lama sebenarnya Salim ingin merubah tatanan adat yang telah berlaku di kampungnya. Banyak adat dan kebiasaan yang sudah melenceng dari syariat Islam. Tapi ia sering tidak berdaya menghadapi para datuk-datuk itu. Ini menurutnya, itu pula kata para datuk. Jadinya, keras sama keras, buruk akibatnya.
Pernah suatu kali, ia mengkritik adat yang berlaku ketika khutbah Jum’at. Pulang dari sana datang ke rumahnya seorang datuk tua berpakaian hitam dengan kopiah berlilik. Bundo-nya sampai-sampai bertindak tidak patut waktu itu. Beliau menerima saja semua omelan orang tua itu tentang anaknya. Dikatakannya perempuan itu tidak pernah mengajari anaknya etika sopan santun. Dan yang membuat Salim sakit hati, bundonya diharuskan meminta maaf secara adat pada para datuk yang duduk di Kerapatan Adat Nagari.
Secara adat, fungsi datuk mulai dilaksanakan setelah acara Batagak Pangulu diadakan. Batagak Pangulu adalah sebuah upacara penobatan gelar para datuk yang baru diangkat yang diadakan dalam sebuah baralek gadang. Sejak hari itu, kemana-mana Salim memakai kopiah berlilik, sebagai tanda kalau dirinya seorang datuk. Terlebih-lebih dalam acara-acara adat, pakaian yang dikenakan harus sesuai dengan ketentuan adat yang sudah turun temurun. Pakaian pergi baralek berbeda dengan pakaian untuk pergi melihat kematian. Dan yang paling terasa, dimana-mana, tua muda, besar kecil akan memanggilnya ‘Datuk’.

@@@

Tugas pertama Salim sebagai seorang datuk datang tiga bulan kemudian. Ketika pulang kampung begitu wisudanya selesai, ke rumahnya datang seorang wanita sebaya bundonya. Wanita itu langsung minta bertemu dengan Salim.

“Begini Datuk, anak saya si Husna kan baru tamat dari AQABAH Bukittinggi. Kemarin ada anak muda datang ke rumah, nampak-nampaknya teman sekolah si Husna juga waktu SMA. Anak muda itu ternyata mau mengambil si Husna jadi istrinya.”

Datuk Rajo Malano tersenyum saja. Dalam Islam, tradisi seperti ini tidak ada. Sebenarnya orang tua saja sudah cukup buat memutuskan perkara pernikahan anak gadis mereka. Tak perlu minta ijin atau memberi tahu mamak suku segala. Kadang-kadang urusannya malah makin berbelit-belit bila sudah di tangan sang datuk. Banyak perkara dan syarat yang harus dipenuhi sebagai syarat adat. Pepatah minangnya, banyak pintak yang harus diisi dan kandak yang harus diberi. Padahal, nikah merupakan pekerjaan mulia yang harus disegerakan.

“Baguslah itu, Tek. Kapan rencananya?” jawab Salim.

Bundo dan etek Sanin, ibu si Husna itu, jelas-jelas tercengang. Bukan begitu seharusnya jawaban seorang datuk.

“Tapi Datuk, tentu saja kita harus berunding dulu mengenai uang jemputan…”
“Uang jemputan?” Salim menyela. Ia segera bisa menebak sesuatu.

Etek Sanin dengan risau berkata, “Benar Datuk. Calon si Husna itu, si Amin namanya, orang asli Pariaman. Tapi masalahnya tidak sampai disitu saja. Si Husna dan si Amin tidak ingin kawin secara adat. Mereka katanya ingin, apa itu, etek hampir lupa, walim…”

“Walimahan, Tek,” ujar Salim membantu.
“Ya, betul walimahan. Dan herannya si Amin tidak ingin uang jemputan pula. Bahkan dia mau memberi kita uang lima juta, katanya untuk walimahan itu.”

Dalam hati Salim tersenyum. Alhamdulillah, sudah mulai ada keluarganya yang menerapkan sunah Rasulullah. Sekarang tugasnya tinggal meyakinkan eteknya itu bahwa keputusan si Husna sudah tepat.
“Sebenarnya Tek, keputusan anak dan calon menantu Etek itu sudah benar. Saya sebagai orang yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting dalam kaum kita, setuju-setuju saja.”

Kedua wanita setengah baya di depan Salim cuma bingung mendengar ucapan datuk mereka.

@@@

Akhirnya, walau banyak protes dan sikap-sikap kontroversial di beberapa pihak, pernikahan Husna dan Amin berhasil dilaksanakan tanpa insiden apapun. Tapi banyak orang kampung mengatakan, tidak layak kemenakan Datuk Rajo Malano dikawinkan dengan cara sederhana seperti itu. Tapi kehadiran Salim dalam acara walimahan hanya dengan mengenakan baju koko, membuat merah telinga bundo.

“Ondeh, Salim! Datuk macam apa kau ini? Dalam baralek kampung tak pantas seorang datuk terhormat seperti engkau datang cuma berbaju gunting cino itu. Apalagi kau datang ke baralek kemenakanmu. Apa kau bermaksud mempermalukan Bundo?”

Saat itu Salim cuma tertunduk. Ia tahu tabiat ibunya kalau sedang marah. Pantang dibantah. Tapi sudah saatnya Salim meluruskan pemahaman ibunya.

“Maafkan Salim, Bundo. Tapi Salim tidak ingin terlalu disanjung-sanjung orang kampung secara berlebihan. Seorang datuk seharusnyalah lebih merakyat. Salim tidak ingin seperti menara gading, yang berada tinggi di atas langit tapi tidak memberikan manfaat apa-apa pada orang lain kecuali rasa takut dan segan. Seorang datuk juga seorang manusia, yang bisa salah dan berdosa. Cukuplah fungsi seorang datuk lebih banyak pada usaha membimbing anak-kemenakan dan mengurus kampung halaman. Yang lebih penting adalah bagaimana mengembalikan pepatah kita: Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Syara’ mangato, adat mamakai, dalam arti yang sebenarnya. Yang di atas itu syara’, Bundo, bukan adat. Adat lah yang harus menyesuaikan diri dengan syara’, bukan sebaliknya.

“Salim tidak ingin nama datuk cuma terpakai dalam acara baralek, dalam rapat-rapat adat dan dalam sapaan orang-orang kampung.

“Salim ingin jadi datuk yang sesungguhnya, Bundo; yang peduli pada perkembangan anak-kemenakan, yang bertanggung jawab secara utuh terhadap kerusakan moral generasi muda dan yang paling penting, tidak memanfaatkan kedudukan datuk untuk menguras harta milik kaum dan kekayaan anak-kemenakannya. Salim cuma ingin merubah segala sesuatunya, Bundo. Dan itu yang sekarang mulai Salim lakukan.”

Setelah berkata begitu, Salim beranjak dari kursi dan melangkah ke kamarnya. Tinggallah bundo seorang diri dengan perenungannya.

@@@

Malam hari sebelum tidur, Bundo kembali mengingat-ingat semua kata-kata Salim siang tadi. Uraian panjang lebar Salim mengena juga di hatinya. Pengalaman hidupnya yang hampir enam puluh tahun sedikit banyak membenarkan apa yang dikatakan anaknya itu. Matanya sudah banyak melihat, telinganya sudah banyak mendengar dan hatinya sudah banyak merasakan apa yang sudah terjadi selama ini di kampung halamannya. Seorang datuk tak lebih cuma sebuah simbol keagungan, yang tak memberi perubahan apa-apa lagi pada orang kampung. Kerusakan moral masyarakat, mulai jauhnya pemuda dari langgar dan surau serta menguapnya tradisi anak-anak gadis berbaju kurung dan berkerudung, sesungguhnya juga merupakan tanggung jawab seorang datuk, bukan hanya tanggung jawab para ulama.

Yang terjadi adalah sebaliknya. Ada datuk yang malah bertindak semena-mena, melarang ini, menyuruh itu sementara periuk nasinya ditanggung kemenakan-kemenakannya. Istri dan keluarga tak terurus dan orang kampung terabaikan. Sering menangguk di air keruh dan hidup bagai parasit di tengah-tengah masyarakat.
Dalam hati bundo tersenyum. Menurun benar watak mendiang ayah si Salim pada anaknya itu. Sudah saatnya semuanya dikembalikan pada tempat yang semestinya.

Bundo bangkit dari dipannya meninggalkan Upik yang sudah lama terlelap. Perlahan ia melangkah keluar dari kamar dan mendapati anak bujangnya tengah khusyuk membaca al-Qu’an. Mungkin pertengkaran siang tadi telah membuat hati anaknya gundah.

“Salim,” Bundo berdiri di depan Salim. Salim menghentikan tilawahnya dan menatap bundonya.
“Bundo belum tidur?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Maafkan Bundo, Salim,” Bundo mendekat, matanya basah. Salim bangkit dan memeluk bundonya dengan haru.

“Salim yang seharusnya minta maaf, Bundo.”

Dari balik kain gorden kamar Bundo, Salim melihat wajah Upik menyembul. Adiknya itu tersenyum sambil memberi dua acungan jempol buatnya.

@@@

Salat Jum’at baru saja usai.

Salim hendak beranjak dari masjid ketika Datuk Rangkayo Basa datang menghampirinya. Salim tersenyum dan menyalami ketua KAN itu.

“Apa kabar, Datuk?” Salim menyapa lebih dulu.

Datuk Rangkayo Basa sudah hampir 70 tahun. Dari umurnya yang sebanyak itu, ia sudah jadi datuk selama 60 tahun. Jadi sudah cukup banyak dia mencoba asam garam kehidupan. Tapi sayang, sikapnya sangat keras dalam mempertahankan adat.

“Baik-baik saja Datuk Salim. Oh, begini, sebelum pulang ke rumah, saya mau mengajak Datuk mampir ke rumah saya. Kami ada acara mendoa sedikit.”

Salim mengangguk-angguk.

“Baguslah kalau begitu, Datuk. Langkah suok kiranya. Tapi ngomong-ngomong acara mendoa dalam rangka apa, Datuk? Apa Datuk mau berminantu?” ujar Salim tertawa, mencoba bergurau.

“Oh, tidak Datuk Salim. Hari ini kan bertepatan seratus hari meninggalnya ibu si Aminah. Ya, manyaratu lah tepatnya.”

Wajah Salim langsung berubah. Ini salah satu kebiasaan yang harus segera diperbaikinya. Dalam Islam tidak ada istilah acara peringatan hari ketujuh, hari keseratus atau hari keseribu kematian seseorang. Apalagi acara mendoa itu selalu disertai acara makan-makan dengan mengundang kaum laki-laki sekampung. Bukannya membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan, kebiasaan seperti itu justru memberatkan mereka. Apalagi kalau yang meninggal itu misalnya suami atau anak lelaki mereka yang selama ini jadi tumpuan hidup keluarga.

“Maaf Datuk. Kalau acaranya seperti itu, terus-terang saya tidak bisa menghadirinya. Karena dalam Islam tidak dibenarkan tradisi seperti itu,” ujar Salim tegas-tegas.

Wajah Datuk Rangkayo Basa merah padam. Lancang sekali anak muda itu menolak undangan darinya.
“Apa salahnya? Ini kan adat kita yang sudah berlaku jauh sebelum aku atau engkau sendiri dilahirkan?”
Kata-kata Datuk Rangkayo begitu pedas sampai ke telinga Salim. Ajaran Rasulullah jauh lebih tua dari itu, maki Salim dalam hati. Tapi ia tahu, sudah kepalang basah jika ia tiba-tiba mundur. Tekadnya sudah bulat sejak awal pertama diangkat jadi datuk. Ia sudah siap menerima resiko apapun dari pendiriannya itu.
“Maafkan saya, Datuk. Mulai saat ini anak-kemenakan saya, saya larang melakukan atau menghadiri acara-acara seperti itu. Acara itu tidak sesuai dengan dengan hati nurani dan bertentangan dengan yang saya anut. Permisi, assalamualaikum!”

Salim beranjak meninggalkan Datuk Rangkayo yang tampak kepanasan mendengar-kata-kata Salim. Darah Datuk Rangkayo mendidih, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat karena marah.

“Anak kurang ajar! Umur belum setahun jagung, darah belum setampuk pinang, sudah berani menentang adat negeri ini. Awas kau, akan kuperkarakan kau nanti di rapat adat!”

Kata-kata Datuk Rangkayo Basa cukup keras didengar orang-orang, tapi tak sedikitpun sampai ke telinga Salim yang sudah jauh dari masjid.

@@@

Bundo Salim tidak tahu menahu tentang pertengkaran anaknya dengan Datuk Rangkayo hari Jum’at tersebut. Ia baru tahu ketika suatu siang, Upik berlari tergesa-gesa menaiki tangga batu.

“Bundo! Bundo! Uda Bundo! Uda!”

Bundo yang sedang menjerang nasi di dapur, terkejut mendengar suara Upik yang seperti dikejar-kejar hantu.
“Ada apa, Pik? Kenapa kau ini?” Bundo bertanya dengan perasaan was-was.

Upik dengan suara terisak-isak dan mata basah langsung memeluk Bundonya.

“Uda Salim, Bundo! Uda Salim ditikam orang di pasar!”
Kata-kata Upik seperti suara petir sampai ke telinga Bundo.
“Apa? Apa yang terjadi, Pik?”

Upik tidak bisa menjawab, karena tiba-tiba pelukannya melonggar dan ia jatuh pingsan. Bundo cuma bisa berterik-teriak minta tolong.

@@@

Bulan Nopember, hujan yang turun tiada henti menyebabkan ranah minang dilanda bencana. Solok dan Pasaman dilanda banjir besar, Pesisir Selatan dan Padang Panjang ditimpa tanah longsor dan galodo. Ratusan jiwa melayang dan ratusan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.

Salim yang baru saja keluar dari rumah sakit setelah tiga minggu dirawat intensif, cuma bisa melihat beritanya dari televisi.. Ia sering menangis sendirian menatap rumah-rumah yang hancur dan potongan-potongan tubuh yang pucat dan busuk bercampur lumpur yang ditayangkan televisi. Hatinya pilu mendengar jerit tangis anak-anak kecil kelaparan yang kehilangan ayah ibunya…

Bagian dirinya yang lebih dalam menjerit meneriakkan bahwa ia termasuk satu diantara sekian banyak orang yang bertanggung jawab terhadap malapetaka itu. Bukan kerusakan alam yang menyebabkan semua bencana tersebut. Tapi peringatan Allah-lah yang telah berlaku. Allah telah menurunkan peringatanNya pada negeri yang sudah mulai meninggalkan ajaranNya, melecehkan sunah nabiNya. Surau dan masjid yang dulu ramai sekarang sepi bahkan kadang tak terurus. Jemaahnya sudah menjelma menjadi pengunjung setia lapau-lapau yang menyediakan kartu remi, kartu koa, domino, kaset VCD porno dan play stasion. Di bulan Ramadhan bertebaran warung-warung kelambu. Bar-bar, diskotik-diskotik mulai tumbuh bak cendawan di musim hujan. Anak-anak gadis mulai menanggalkan baju kurung mereka dan menggantinya dengan baju-baju ‘kutung’ yang lebih pantas dipakai adik-adik mereka. Narkotika meruyak, alkohol sudah jadi kebanggaan. Suara azan kadang hilang lenyap ditelan suara-suara musik dari kedai-kedai kaset dan pasar.

Salim ingin mengembalikan mereka. Salim ingin negerinya kembali disebut serambi mekah, negeri seribu masjid dan tempat orang-orang jauh datang untuk belajar mengaji.

Tapi tangan Salim terlalu kecil untuk mengemban itu semua.[]

Air Tawar, 20 Ramadhan 1421 H.

Keterangan bahasa Minang :
uda = kakak laki-laki
bundo = ibu
bagonjong = bergonjong
mamak = paman, saudara laki-laki ibu
bako = keluarga ayah
ge-er bana ma = geer sekali
siapo nan nio jo Uda buruak ko = siapa yang mau dengan Uda jelek ini
indak usah takuik = tidak usah takut
uni = kakak perempuan
datuk = gelar kebangsawanan
ninik mamak = para datuk
bundo kanduang = kaum wanita yang dihormati
tuo-tuo = orang-orang tua
pasukuan = suku
batagak pangulu = acara penobatan penghulu/datuk
baralek gadang = pesta besar
pintak = permintaan
kandak = kehendak, keinginan
etek = panggilan untuk wanita yang sebaya dengan ibu atau saudara perempuan ibu
ondeh = aduh
gunting cino = koko
menangguk = menjala
mendoa = berdoa yang diiringi dengan acara jamuan makan
langkah suok = langkah kanan, beruntung
minantu = menantu
manyaratu = memperingati hari keseratus kematian seseorang
galodo = gempa bumi
lapau-lapau = warung-warung

  • Dimuat dalam Majalah Annida No. 13/X/16 April 2001
  • Termasuk salah satu cerpen dalam buku Merajut Cahaya, Kumpulan Cerpen Terbaik 10 Tahun Annida Berkarya (Pustaka Annida, 2001)
Standard
Journal

Paderi

MATAHARI tepat di ubun-ubun ketika pedati beratap daun rumbia itu berhenti di bawah sebuah pohon beringin besar yang tumbuh tak jauh dari jalan. Suara ganto yang sepanjang perjalanan jadi musik pengusir sepi ikut pula berhenti. Sutan Pandeka, lelaki pemilik gerobak kayu itu melompat turun sambil melihat posisi matahari. Sudah masuk zuhur, pikirnya. Setelah membelitkan kain sarung di pinggang, ia memeriksa keadaan kerbaunya yang sejak dari Bukit Ngalau mulai banyak perangai.

Kerbau besar itu dibelinya di Pekan Rabaa tiga hari yang lalu. Si Penjual meyakinkannya setengah mati bahwa hewan itu bekas penghela pedati, sesuai syarat yang diberikan Tuanku Sulaiman padanya. Tapi kini Sutan Pandeka tidak percaya lagi. Kerbau itu tidak sekali dua kali membuat ulah sepanjang perjalanan. Kini kerbau pongah itu mendengus-dengus mengusir langau yang beterbangan di sekitar kepalanya.

Sekilas melihat, orang-orang akan menyangka Sutan Pandeka seorang saudagar yang akan pergi ke pekan-pekan untuk berdagang. Pedati itu penuh berisi muatan kelapa, beras, cabe giling dan garam, seolah-olah akan dibawa ke Piladang dan Bukittinggi untuk di jual.

Tapi sebenarnya bukan begitu. Sutan Pandeka bukan pedagang dan gerobak kayu itu hanya dimuat setengahnya.

“Tuanku,” Sutan Pandeka berbisik ke dalam pedatinya. “Sudah waktunya salat zuhur. Di bawah sini ada batang air. Kita bisa istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.”

Sembari berkata begitu, mata Sutan Pandeka melihat ke jalan, berjaga-jaga kalau-kalau ada pedati atau orang lain yang akan melewati tempat itu. Namun tidak ada siapapun di sekitar tempat itu.

Dari balik tirai kain, di belakang tumpukan kelapa dan sagu, muncul seorang lelaki muda. Dialah Tuanku Sulaiman.

“Apakah keadaan aman, Sutan?”

“Insya Allah, Tuanku. Ambo mengenal daerah ini dengan baik. Sewaktu bujang-bujang tanggung dulu sering bermain randai ke daerah sini. Pos Balando paling dekat ada setengah hari perjalanan dari sini.”

Tuanku Sulaiman keluar dari pedati. Ia mengenakan pakaian seperti rakyat kebanyakan. Hanya wajahnya saja yang terlihat lebih putih dari wajah orang-orang Minangkabau kebanyakan. Ia sudah mencukur jenggotnya yang panjang sebelum berangkat. Kecuali bagi yang benar-benar mengenalnya, tidak akan ada yang tahu bahwa ia adalah salah satu murid kesayangan Tuanku Imam Bonjol yang diutus kaum Paderi untuk berangkat menemui keluarga Kerajaan Minangkabau di Pagaruyung.

Sutan Pandeka dan Tuanku Sulaiman turun ke batang air mengambil air wudhu. Berdua mereka salat di atas batu picak yang ada di tengah sungai.

Sebenarnya tidak ada yang perlu mereka khawatirkan. Sejauh ini mereka belum menemui halangan apa-apa. Di setiap kota dan nagari, mereka berhenti dan beristirahat, sambil mencari-cari kendaraan yang lebih aman untuk melanjutkan perjalanan. Di Limo Puluh Koto mereka terpaksa menjual kuda-kuda mereka dan membeli sebuah pedati dan kerbau penghelanya. Mereka perlu mengganti penyamaran. Lewat dari Limo Puluh Koto, mereka sudah memasuki daerah kekuasaan orang-orang kaum adat.

Sebenarnya, ada jalan yang lebih aman. Mereka bisa berkuda lewat jalan hutan dan gunung dari Bonjol ke Pagaruyung, tapi perjalanan bisa makan waktu berhari-hari. Karena urusannya sudah mendesak, terpaksa diambil jalan biasa, walau dengan resiko tertangkap Belanda atau dicegat orang-orang kaum adat.

Sejak pos Belanda di Tanjung Alam, Panampung, Koto Baru dan Lubuak Agam berhasil direbut pasukan Paderi, Belanda mengerahkan kekuatan terbesarnya di bawah komando Letkol Raaff untuk mengejar orang-orang Paderi. Celakanya belasan ribu orang-orang pribumi yang tergabung dalam pasukan adat masih berpihak kepada Belanda dan ikut memburu para pemimpin dan pengikut kaum Paderi yang dipimpin delapan ulama Harimau nan Salapan. Entah kapan orang-orang adat akan sadar bahwa lawan mereka yang sebenarnya bukan orang-orang Paderi —saudara mereka sendiri— tapi adalah si kafir penjajah kolonial Belanda.

@@@

Satu jam kemudian pedati itu berangkat melanjutkan perjalanan. Sutan Pandeka merasa tak perlu lagi cemas ada yang melihat mereka dan mengenali Tuanku Sulaiman. Ia mengendalikan kerbau pedatinya dengan tenang seperti pedagang biasa. Dalam hitungannya besok sore mereka sudah sampai di Pagaruyung.

Tapi Sutan Pandeka salah.

Sepasang mata tak bersahabat yang dibingkai wajah separoh cacat telah melihat semuanya.

@@@

Masyarakat Minangkabau telah memeluk ajaran Islam sejak Abad 16 atau bahkan sebelumnya. Namun hingga awal abad 19, masyarakat tetap melaksanakan adat yang berbau maksiat seperti judi, sabung ayam maupun mabuk-mabukan. Hal demikian menimbulkan polemik antara Tuanku Koto Tuo -seorang ulama yang sangat disegani—dengan para muridnya yang lebih radikal. Terutama Tuanku nan Renceh.

Mereka sepakat untuk memberantas maksiat. Hanya, caranya yang berbeda. Tuanku Koto Tuo menginginkan jalan lunak. Sedangkan Tuanku nan Renceh cenderung lebih tegas. Tuanku nan Renceh kemudian mendapat dukungan dari tiga orang yang baru pulang haji dari Mekah (1803) yang membawa paham puritan Wahabi. Mereka Haji Miskin dari Pandai Sikek, Haji Sumanik dari Delapan Koto, dan Haji Piobang dari Limo Puluh Koto.

Kalangan ini kemudian membentuk forum delapan pemuka masyarakat. Mereka adalah Tuanku nan Renceh, Tuanku Bansa, Tuanku Galung, Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Padang Lawas, Tuanku Padang Luar, Tuanku Kubu Ambelan dan Tuanku Kubu Sanang. Mereka disebut “Harimau nan Salapan” (Delapan Harimau). Tuanku Koto Tuo menolak saat ditunjuk menjadi ketua. Maka anaknya, Tuanku Mensiangan, yang memimpin kelompok tersebut. Sejak itu, ceramah-ceramah agama di masjid berisikan seruan untuk menjauhi maksiat.

Ketegangan meningkat setelah beberapa tokoh adat sengaja menantang gerakan tersebut dengan menggelar pesta sabung ayam di Kampung Batabuh. Konflik terjadi. Beberapa tokoh adat berpihak pada ulama Paderi. Masing-masing pihak kemudian mengorganisasikan diri. Kaum Paderi menggunakan pakaian putih-putih, sedangkan kaum adat hitam-hitam.

Tuanku Pasaman yang juga dikenal sebagai Tuanku Lintau di pihak Paderi berinisiatif untuk berunding dengan Kaum Adat. Perundingan dilangsungkan di Koto Tangah, antara lain dihadiri Raja Minangkabau Tuanku Raja Muning Alamsyah dari Pagaruyung. Tapi perundingan damai tersebut malah berubah menjadi pertempuran sengit. Raja Muning Alamsyah melarikan diri ke Kuantan, Lubuk Jambi. Pada 1818, Raja Muning mengutus Tuanku Tangsir Alam dan Sutan Kerajaan Alam untuk menemui Jenderal Inggris Raffles di Padang. Gubernur Jenderal Inggris Lord Minto yang berkedudukan di Kalkuta saat itu menolak untuk campur tangan soal ini. Melalui “Tractat London”, Inggris bahkan menyerahkan kawasan Barat Sumatera pada Belanda.

Pada 10 Februari 1821, Tuanku Suruaso memimpin 14 penghulu dari pihak Adat mengikat perjanjian dengan Residen Du Puy. Du Puy lalu mengerahkan 100 tentara dan dua meriam untuk menggempur kota Simawang. Perang pun pecah. Sejak peristiwa itu, permusuhan kaum Paderi bukan lagi terhadap kalangan Adat, melainkan pada Belanda. Mereka pun memperkuat Benteng Bonjol yang telah dibangun Datuk Bandaro. Muhammad Syahab –kemudian lebih dikenal dengan panggilan Tuanku Imam Bonjol—ditunjuk untuk memimpin benteng itu.

@@@

Seorang pejuang Paderi berpakaian putih-putih berlari sekuat tenaga menuju masjid tempat Tuanku Imam Bonjol berkumpul dan menyusun strategi. bersama sahabat-sahabatnya. Masjid itu dibangun di dalam benteng Bonjol.

Sampai di tangga masjid itu, prajurit itu disambut seorang pengawal. “Sanak, sampaikan kabar pada Tuanku Imam Bonjol, ada seorang utusan ingin bertemu dengan beliau. Ini penting sekali,” ucapnya terburu-buru.
Pengawal itu mengangguk, lalu naik ke atas masjid.

Utusan yang dimaksud ternyata seorang pejuang Paderi yang telah lama disusupkan di kubu orang-orang adat. Sekali sebulan ia melaporkan perkembangan yang terjadi di kubu lawan.

“Langsung saja, Sutan Sati, apa yang ingin kau laporkan?” tanya Tuanku Sinaro nan Balang.
Di ruangan masjid itu berkumpul empat dari delapan pemimpin pejuang yang menjadikan Bonjol sebagai basis. Tapi sang utusan tidak melihat Imam Bonjol di sana. Namun ia kemudian diberitahu bahwa Tuanku Imam Bonjol sedang sakit.

Sutan Sati memulai laporannya.

“Tuan-tuan, Belanda telah berhasil menguasai Sulit Air, Simabur dan Gunung,” ucapnya memulai. Terdengar ucapan-ucapan khawatir diruangan itu. “Dari Batavia, Belanda telah mengirim bantuan 494 pasukan dan 5 pucuk meriam. Pagaruyung dan Batusangkar dapat direbut, walaupun istana tidak diapa-apakan. Mereka juga telah membangun benteng Fort van der Capellen, dan menawarkan damai pada Taunku Lintau. Tapi Tuanku Lintau menolak. Pertempuran sengit terjadi lagi. Alhamdulillah, pasukan Belanda yang dipimpin Letkol Raaff yang hendak menyerang melalui Kota Tengah dan Tanjung Berulak berhasil dijebak Tuanku nan Gelek.”

Tuanku Koto Gadang, Tuanku Samek Perak, Tuanku Gunuang Sago dan Tuanku Sinaro Balang saling berpandangan.

Tuanku Samek Perak, yang paling muda diantara mereka angkat bicara, “Kalau begitu posisi kita mulai terancam. Tuanku Imam Bonjol sedang sakit, jadi kita tidak bisa memberitahu beliau mengenai berita ini. Saya ingin pendapat Tuan-tuan yang lain.”

“Yang paling penting sekarang adalah menyadarkan Tuanku Suruaso, para penghulu dan para pemimpin adat bahwa sekarang tidak ada lagi gunanya kita saling berpecah,” Tuanku Koto Gadang urun rembuk. “Musuh kita sudah sangat jelas. Tidak perlu lagi jatuh korban dari kalangan kaum kerabat dan anak kemenakan kita sendiri,” tambahnya sedih.

“Aku berharap, pihak kerajaan di Pagaruyung bisa menerima Tuanku Sulaiman dengan hati bersih. Walaupun Raja Muning Alamsyah masih di Jambi, kita bisa berunding dengan para Sultan Kerajaan yang masih berada di Pagaruyung. Kalau perlu ikut sertakan Bundo Kandung dalam masalah ini. Kurasa sudah saatnya kita bersatu melawan si kapia Belanda itu,” Tuanku Gunuang Sago melihat pada Sutan Sati.

“Apa kau mendengar kabar tentang Tuanku Sulaiman dan Sutan Pandeka? Sudah sampai di manakah mereka?”

“Antah, Tuanku. Mungkin karena penyamarannya begitu sempurna, saya sendiri tak mendengar apapun tentang mereka. Tapi perlu saya katakan pada Tuan-tuan, diantara orang-orang kaum adat, banyak yang mengasapi dapurnya dengan jadi mata-mata Belanda. Mereka banyak yang berhasil membocorkan segala rahasia tentang pasukan kita ke telinga Belanda. Mereka juga tak segan-segan membantai para pengikut kaum Paderi yang mereka temui di jalanan.”

Para pemimpin Paderi itu mendesah khawatir.

“Semoga utusan kita bisa selamat sampai di tujuan dan bisa menyerahkan pesan yang telah dibuat Iman Bonjol kepada orang-orang di istana Pagaruyung.”

@@@

Pedati yang ditumpangi Tuanku Sulaiman bergerak terseok-seok di jalanan tanah mendekati daerah Barulak, Tanah Datar. Senja sedang menjelang, sebentar lagi gelap. Sutan Pandeka sesekali melontarkan beberapa patah kata kepada Tuannya untuk mengusir rasa bosan. Melewati rimba seluas itu, tak ada yang tak mustahil akan terjadi. Singa dan Harimau kumbang sudah sering terdengar penguasa belantara itu. Tak sedikit pula kabar terdengar tentang para penyamun yang sering merampok para pedagang yang lewat di tempat itu malam-malam.

Sutan Pandeka memasang pusung dan mengebatnya di tiang pedati. Api pusung itu melambai-lambai di tiup angin malam, terlihat seperti bintang kecil di jagat raya hutan yang maha lebat itu.

Si kerbau besar entah kenapa tidak banyak ulah sejak habis ashar tadi. Ketika berhenti untuk makan di Batu Ampar, Sutan Pandeka telah mencarikan rumput untuk si besar bangkalai itu. Mungkin perutnya sudah kenyang. Suara genta di lehernya mengeluarkan irama seolah-olah ingin menunjukkan betapa gembiranya dia.
“Tidak adakah surau untuk tempat salat di dekat sini, Sutan?” Suara halus Tuanku Sulaiman terdengar. “Aku ingin salat dan membaca al-Quran barang sepatah dua patah ayat. Kering sekali jiwaku sejak lima hari ini.”
Sutan Pandeka tersenyum. “Bukankah Tuanku sudah hapal al-Quran luar kepala?” tanyanya. Terdengar Tuanku Sulaiman tertawa.

“Betul, Sutan. Tapi aku rindu sekali duduk dalam surau dan berdoa panjang-panjang di hadapan Allah.”
“Tidak akan lama lagi, Tuanku. Sebentar lagi kita akan sampai di sebuah surau tua di pinggir hutan ini. Di sana aman. Kita akan istirahat di sana,” janji Sutan Pandeka.

Tak lama kemudian ia mendengar senandung lantunan ayat al-Quran dari dalam pedatinya. Begitu terasa betapa rindunya Tuanku Sulaiman untuk segera bersujud di hadapan Tuhannya. Tuanku Sulaiman masih sangat muda, tidak sebanding dengan tanggung jawab yang kini dipikulnya.

Sesuatu lalu terdengar berkelebat dalam kegelapan malam. Sutan Pandeka menggenggam pedang yang ia sampirkan di dada. Di antara suara-suara halus tilawah Tuanku Sulaiman, ia mendengar suara-suara mencurigakan di sekitar mereka. Sutan Pandeka menarik kekang kerbau sampai pedati itu berhenti.
“Tuanku…” ia berbisik memberi tanda. Tuanku Sulaiman menghentikan tilawahnya. Seketika itu pula hutan itu sunyi senyap. Hanya suara kibaran api pusung tertiup angin dan lenguhan kerbau pedati yang terdengar. Tapi kesunyian itu tak berlangsung lama. Dari rimbunan semak belukar, dari balik kegelapan pohon-pohon raksasa, melesat lima bayangan hitam. Dalam tiga detik mereka menghadang jalan pedati Sutan Pandeka. Kelimanya memakai topeng dan pakaian hitam-hitam. Pantulan cahaya lampu pusung memantulkan kemilau golok-golok di tangan mereka.

Sutan Pandeka bukan pendekar sembarangan. Ia sudah menuntut ilmu dan berguru silat ke berbagai gunung. Dan selama perang berlangsung, ia termasuk prajurit yang paling ditakuti kaum adat dan Belanda. Tak salah jika para pemimpin Paderi memilihnya untuk mengantar Tuanku Sulaiman ke Pagaruyung.

“Tak ado gadiang nan tak ratak. Tak ado tupai nan tak gawa. Manusia basifat kilaf. Nan qadim hanyo sifat Tuhan. Ampunkan denai dek Mamak-mamak, kok lah sasek denai masuak, kok salah denai malangkah. Apo garan nan mambuek Mamak-mamak mahambek jalan denai. Apo garan kasalahan denai?”

Sahut sapa pembuka itu ternyata tidak mendapat balasan yang setimpal. Sutan Pandeka menerka-nerka siapakah orang-orang ini? Penyamun kah? Atau sekelompok orang-orang adat yang santer terdengar suka menghadang orang-orang Paderi?

“Jangan banyak cincong, wa-ang!” Terdengar suara hardikan. “Periksa pedatinya!”

Tak jelas siapa yang memberi perintah. Tapi Sutan Pandeka merasa hal itu tidak perlu lagi sekarang. Sekali sentak ia meniup pusung pedatinya. Ia merasa lebih leluasa bertempur dalam gelap. Lagipula ia merasa orang-orang ini tak lebih dari penyamun biasa.

“Siapa dunsanak-dunsanak ini sebenarnya? Kenapa menghalangi jalan saya?” Sekali lagi Sutan Pandeka mencoba menghindari pertempuran. Tapi ia tidak menerima jawaban apa-apa. Tiga orang penghadang itu malah meloncat ke atap pedati dan mencoba menghancurkannya.

Sutan Pandeka menerjang lawan-lawannya. Dalam perkiraannya, tak akan lama baginya menghabisi kelima perampok itu. Tapi ternyata mereka bukan penyamun biasa. Tampaknya mereka telah terbiasa bertempur dalam kegelapan malam.

“A..aah!” Sutan Pandeka mengaduh. Sabetan golok seorang diantara perampok itu merobek pinggangnya. Tapi tak diduganya kalau hal itu telah menimbulkan akibat yang belakangan disesalinya seumur hidup. Mendengar suara pengawalnya, Tuanku Sulaiman keluar dari dalam pedati dan melibatkan diri dalam pertempuran.

Dengan tidak percaya, ia melihat Tuanku Sulaiman dalam waktu sebentar saja telah melumpuhkan kelima perampok itu.

“Ampunkan saya, Tuanku. Kenapa Tuan keluar dari pedati? Saya masih bisa mengatasi mereka.” Penuh rasa bersalah Sutan Pandeka berkata.

“Aku dengar kau kewalahan, Sutan. Aku tak ingin kau mati di sini,” Tuanku Sulaiman menjawab tegas.
“Tapi kita tidak tahu siapa mereka. Saya sempat berpikir kalau ini hanya jebakan. Ini suatu pancingan agar Tuanku keluar dari persembunyian. Mereka bisa jadi mata-mata musuh yang ingin membongkar penyamaran kita.”

Belum sempat kata-kata Sutan Pandeka selesai, dari balik pepohonan di sekeliling mereka muncul belasan tentara Belanda dengan bedil siap ditembakkan. Di bawah cahaya bulan yang samar-samar, Sutan Pandeka melihat ada satu orang pribumi di antara para kumpeni itu. Tentara-tentara itu lalu menyalakan obor.

“Masya Allah!” Kedua pejuang Paderi itu berseru kaget. Benar rupanya dugaan Sutan Pandeka. Ini jebakan. Mereka telah dicido!

“Bunuh mereka!” Lelaki pribumi berpakaian hitam-hitam memberi perintah.

“Tahan!” Sutan Pandeka menyahut. Ia ingin mencoba taktik lain. Mereka masih dalam penyamaran. Lagipula Tuanku Sulaiman berpakaian seperti rakyat jelata. Belum ada yang tahu siapa mereka sesungguhnya. Kecuali jika ada yang telah berkhianat pada Tuanku Imam Bonjol.

“Tidak perlu mencoba meneruskan penyamaranmu, Sutan,” suara lelaki pribumi itu bercampur tawa. “Kami sudah tahu siapa kalian berdua. Kalian utusan Imam Bonjol yang akan berunding dengan para pemimpin adat di Pagaruyung. Dan kami tidak ingin itu terjadi. Kami tidak ingin kalian berdamai. Kami lebih suka kalian terus bertempur satu sama lain. Tamatlah riwayat kalian malam ini!”

Tubuh Sutan Pandeka dan Tuanku Sulaiman manggariti karena marah. Tak disangka mereka justru tertangkap karena pengkhianatan yang dilakukan sesama kaum pribumi.

“Kalian akan menerima balasan setimpal,” ancam Tuanku Sulaiman akhirnya. “Setidaknya dari anak cucu kami kelak. Kalian tak layak hidup di ranah minang ini. Jiwa kami boleh kalian ambil. Tapi tidak semangat juang kami.” Seiring dengan itu ia menerjang maju, memanfaatkan saat-saat terakhir perjuangannya. Sutan Pandeka mengikuti tindakan Tuanku-nya.

Suara letusan bedil-bedil Belanda memecah kesunyian rimba raya Tanah Datar.
Kedua utusan yang dikirim Tuanku Imam Bonjol itu tak pernah sampai ke Pagaruyung.

@@@

Epilog
Pada 16 Desember 1823, Letkol Raaff kemudian diangkat menjadi Residen Belanda di Minangkabau menggantikan Du Puy. Ia berhasil membuat perjanjian damai di Bonjol. Namun, diam-diam ia juga mengkonsolidasikan pasukan. Dan bahkan menggempur Guguk Sigadang dan Koto Lawas. Pemimpin Paderi, Tuanku Mensiangan terpaksa hijrah ke Luhak Agam. Paderi semakin kuat karena saat itu pasukan adat mulai berpihak ke mereka.

Raaff meninggal lantaran sakit. Penggantinya, de Stuers memilih jalan damai. Langkah ini ditempuhnya karena Belanda mengkonsentrasikan kekuatan untuk menghadapi pemberontakan Diponegoro. Stuers menugasi seorang Arab, Said Salim al-Jafrid, untuk menjadi penghubung. Tanggal 15 Nopember 1825, perjanjian damai pun diteken antara de Stuers dan Tuanku Keramat. Suasana Ranah Minang kemudian relatif tenang.
Namun pengkhianatan terjadi lagi. Kolonel Elout menggempur Agam dan Lintau. Ia juga menugasi kaki tangannya, anak Tuanku Limbur, untuk membunuh Tuanku Lintau dengan bayaran. Pembunuhan terjadi pada 22 Juli 1832. Usai Perang Diponegoro itu, tentara Belanda dikerahkan kembali ke Sumatera Barat. Kota demi kota dikuasai. Benteng Bonjol pun bahkan berhasil direbut. Namun sikap kasar tentara Belanda pada tokoh-tokoh masyarakat yang telah menyerah, membuat rakyat marah. Ini membangkitkan perlawanan yang lebih sengit.

Pada 11 Janurai 1833, Paderi bangkit. Secara serentak mereka menyerbu dan menguasai pos-pos Belanda di berbagai kota. Benteng Bonjol berhasil mereka rebut kembali. Seluruh pasukan Letnan Thomson, 30 orang, mereka tewaskan. Belanda kembali menggunakan siasat damai lewat kesepakatan “Plakat Panjang”, 25 Oktober 1833. Namun Jenderal Van den Bosch kembali menyerbu Bonjol. Namun ia gagal, 60 orang tentaranya tewas. Kegagalan serupa terjadi pada pasukan Jenderal Cochius.

Namun serangan dadakan berikutnya menggoyahkan kubu Paderi. Masjid dan rumah Imam Bonjol terbakar. Paha Imam Bonjol tertembak. Ia juga terkena 13 tusukan, meskipun ia sendiri berhasil menewaskan sejumlah serdadu. Dalam keadaan terluka parah, Imam Bonjol terus memimpin Paderi dari tempat perlindungannya di Merapak, lalu pindah ke Ladang Rimbo, dan terakhir Bukit Gadang.

Benteng Bonjol kembali jatuh pada 16 Agustus 1837. Belanda kemudian menawarkan perundingan damai. Saat itulah Tuanku Imam Bonjol dapat dijebak dan kemudian ditangkap pada 28 Oktober 1837. Imam Bonjol kemudian diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat, lalu dipindah ke Ambon pada 19 Januari 1839. Pada 1841, ia dipindahkan ke Manado dan wafat di sana pada 6 Nopember 1864.

Tuanku Tambusai melanjutkan perlawanan dan berbasis di Mandailing -Tapanuli Selatan. Tuanku Tambusai inilah yang menjadikan Mandailing sebagai daerah berbasis muslim.[]

Keterangan :
pekan : pasar
langau : lalatrandai : seni yang memadukan silat, tari dan cerita
picak : lempeng, datar
nagari : negeri, pembagian daerah menurut adat
kapia : kafirantah : entah
pusung : obor
wa-ang : kamu
dicido : ditipu
manggariti :menggigil menahan marah

Standard
Journal

Seperti Purnama

“JADI, mungkin nanti malam Mas pulang agak telat.”

Imron memasang helm dan menatap Ines.

“Lembur lagi?” tanya Ines cemberut. Wanita itu memberikan rantang bekal makan siang pada suaminya.

“Iya, sekarang sedang banyak kerjaan. Sementara montir yang ada tidak seberapa.”

“Kenapa Pak A Seng itu nggak nambah karyawan saja, Mas?”

Imron menghidupkan vespanya. Begitu hidup, suara motor tua itu melengking, ribut sekali. Sampai-sampai ada tetangga yang melongokkan kepalanya dari dalam rumah.

“Nggak tau tuh, Mas sudah pernah usulkan. Tapi Pak A Seng itu bilang, sekarang susah nyari montir yang berpengalaman. Maksudnya, banyak yang tidak mengerti mesin. Nah, katanya lagi, biarlah punya montir sedikit asal terampil dan punya pengalaman. Dan…”

Imron berhenti bercerita ketika dilihatnya Ines menyilangkan telunjuknya di bibir. “Sudah, Mas. Nanti saja ceritanya. Sekarang ayo berangkat, nanti telat lagi seperti kemarin.”

Imron tersenyum mendengar ucapan istrinya. “Iya deh. Kalo gitu Mas berangkat. Jaga rumah baik-baik. Assalamu’alaikum.”

Vespa itu melaju, meninggalkan kepulan asap putih. Ines menutup pintu pagar dan melangkah ke dalam. Ia segera ingat bahwa ia ada janji menelepon Rani, teman kuliahnya. Ada sedikit perubahan pada kegiatan bedah buku yang sedang mereka persiapkan. Mas Imron, suaminya yang tercinta, tidak jadi mengisi acara tersebut, karena harus keluar kota pada hari yang sama.

Ines sudah mengangkat telepon ketika didengarnya suara pagar dibuka seseorang. Dibukanya tirai jendela dan mengintip keluar.

O la la, Ines tersenyum geli. Diletakkannya lagi gagang telepon dan ia memburu keluar. “Mogok lagi ya, Mas?”

Imron mengangguk. Ia mendorong vespa masuk.

“Mas jadi heran deh, mobil sebandel apapun bisa Mas perbaiki, tapi motor butut milik sendiri, kok nggak pernah bersahabat ya?”

“Mungkin sudah waktunya diganti, Mas,” ucap Ines bercanda. Ia ikut jongkok di samping suaminya. Imron mengutak-atik vespanya itu sebentar. Lantas dicobanya menghidupkan motor warisan ayahnya itu. Tapi vespa itu nggak kunjung hidup. Dicobanya lagi, tapi gagal lagi.

“Naik angkot saja, Mas. Udah hampir siang nih,” tahan Ines ketika Imron mencoba membongkar mesin motornya. Imron mengangguk setuju. Ia segera membereskan alat-alat motornya dan mencuci tangan. Setelah itu ia berangkat.

“Hati-hati ya, Mas,” pesan Ines melepas suaminya.

@@@

Ketika Imron turun dari angkot, ia melihat Pak A Eng berdiri di pintu gerbang bengkel. Imron langsung deg-degan. Soalnya sudah empat kali dia terlambat dalam minggu ini. Perkaranya, ya, masih soal vespa tua itu. Tidak ada alasan lain.
Imron berjalan mendekat. Ia sudah siap menerima apa saja yang akan dikatakan lelaki Cina itu. Dengan tenang ia menyapa. “Selamat pagi, Pak.”

Pak A Seng tersenyum. Lho? Debar di dada Imron langsung lenyap menatap senyum lebar lelaki itu.

“Vespanya mogok lagi ya, Im?”

“Iya, Pak. Baru saja satu kilo, eh sudah mogok lagi,” jawab Imron akrab. Pak A Seng tersenyum lagi.

“Masak sih, kamu nggak bisa betulin. Kamu kan montir terbaik di sini.”

Imron tersipu juga menerima pujian itu.

“Ya…memang mesinnya sudah tua begitu. Diperbaiki pun tidak akan bertahan lama, Pak.”

“Kenapa nggak diganti saja motornya?”

Sekarang Imron yang tersenyum. Ia menangkap nada canda dalam ucapan lelaki itu.
“Orang kecil macam saya mana bisa beli motor, Pak? Wong untuk makan sehari-hari saja susah,” jawab Imron sekenanya.

Pak A Seng tertawa. “Ya, sudah. Sekarang kamu kerja yang rajin. Kalau kamu sungguh-sungguh, jangankan motor, kapal terbang bisa kamu beli. Ya, kan?”

“Iya, Pak,” jawab Imron sambil berlalu dari hadapan lelaki itu. Hatinya benar-benar lega.

@@@

“Kalau dipikir-pikir, sikap Pak A Seng akhir-akhir ini kok agak lain, ya?” Imron membuka perbincangan itu sebelum mereka tidur. Ines menatap sekilas pada suaminya, lalu matanya terjuju lagi pada buku di pangkuannya.

“Lain bagaimana sih, Mas?” tanyanya.

“Ya. Sikapnya pada Mas dari hari ke hari makin baik. Tadi pagi, ketika Mas terlambat, ia tidak marah. Padahal kemarin Mas lihat sendiri dia mendamprat Parto habis-habisan karena terlambat masuk.”

“Barangkali, tadi pagi suasana hatinya sedang baik,” duga Ines.

“Mungkin juga. Tapi masih ada sikap-sikapnya yang membuat Mas semakin heran.”

“Contohnya?”

“Ya, pokoknya ia begitu baik. Itu saja.”

Keduanya kemudian diam. Imron masih berpikir tentang Pak A Seng. Dan Ines sedang hanyut dengan bukunya. Namun tak lama kemudian ia teringat sesuatu.

“Mas…,” panggilnya.

“Hmm?” Imron menatap istrinya.

“Mas tidak berpikir kalau Pak A Seng itu sedang merencanakan sesuatu terhadap Mas?”
Imron membalikkan tubuhnya menghadap Ines. Ia menatap istrinya heran. “Rencana apa?”

“Ya, barangkali saja ia punya maksud yang tidak baik di balik sikap-sikapnya itu.”

“Hush! Nggak baik berburuk sangka begitu. Biarpun Pak A Seng itu nggak seaqidah dengan kita, kita nggak boleh menuduh dia yang macam-macam.”

Ines terdiam. Suaminya benar. Nggak baik berburuk sangka pada orang lain. Apalagi pada orang sebaik Pak A Seng.

@@@

Imron sedang sibuk mengutak-atik perut sebuah Kijang ketika seseorang menepuk kakinya. “Mas Im, dipanggil Bos!”

Suara Aji membuat Imron melongokkan kepalanya. “Ada apa Ji?” tanyanya seraya melap tangannya.

“Nggak tau tuh. Kayaknya penting!” jawab Aji, anak STM yang magang di bengkel itu.
Imron segera ke ruangan Pak A Seng. Ketika Imron masuk, bosnya itu sedang menelepon. Pak A Seng menggerakkan tangannya, menyuruh Imron menunggu.

“Kerjamu sudah beres, Im?” tanya Pak A Seng setelah meletakkan telepon.

“Sedikit lagi, Pak.”

“Kalau begitu suruh si Parto melanjutkan kerjamu. Sekarang ikut saya ke Menara Agung,” ucap Pak A Seng sambil mengantongi handphonenya.

Imron tersentak. Menara Agung? Ngapain bos mengajaknya ke showroom Honda itu?
“Maaf, Pak. Boleh saya tahu…”

“Ah, ikut saja. Saya ingin memperlihatkan sesuatu padamu.”

Imron tidak bertanya lagi. Segera ia ke bengkel menyuruh Parto membereskan Kijang yang masih terbengkalai. Ia kemudian mengikuti langkah Pak A Seng memasuki sedan yang terparkir di depan kantor.

Dalam perjalanan, Imron tidak banyak bicara. Ia masih diliputi kebingungan. Ia sungguh heran melihat tingkah bosnya akhir-akhir ini. Orang Cina itu dirasanya terlalu mengistimewakannya. Pokoknya dia terlalu baik. Buktinya?

Pertama, ketika ia melamar kerja di bengkel itu, Pak A Seng langsung menyamakan gajinya dengan pegawai yang sudah senior. Padahal setahu Imron tidak begitu untuk karyawan yang lain. Kedua, ia diizinkan untuk melaksanakan semacam kelompok pengajian untuk karyawan bengkel itu. Bahkan orang Cina itu memberikan jatah setengah hari setelah Jum’at kepada Imron dan teman-temannya untuk melaksanakan kegiatan mereka. Ketiga, soal keterlambatannya tempo hari, Pak A Seng sama sekali tidak menegur atau memarahinya.

Benarkah dugaan Ines kalau lelaki itu punya ‘udang di balik batu’ di balik semua kebaikannya?

“Mungkin karena Bang Imron rajin dan tekun bekerja,” jawab Parto ketika Imron bercerita padanya suatu kali. “Jadi, Bos kita jatuh sayang pada Abang.”

“Kamu yakin cuma karena itu?” tanya Imron kurang puas.

“Ya, lalu apalagi kalau bukan itu? Lagian Pak A Seng itu nggak punya siapa-siapa lagi lho, Bang. Istri dan anak-anaknya tewas dalam kecelakaan beberapa tahun yang lalu.”

Imron diam saja mendengar penjelasan Parto. Parto memang lebih banyak tahu. Lelaki lulusan SMP itu sudah bekerja di bengkel Pak A Seng sejak lima tahun yang lalu.
Imron tercenung. Kini apalagi kebaikan laki-laki itu yang akan diterimanya?

@@@

Imron sudah menduga kalau istrinya akan terkejut melihat ia pulang dengan sebuah motor baru.

“Motor siapa, Mas?” tanya Ines ketika Imron memasukkan motor baru itu ke dalam rumah.

“Mas akan mandi dulu, trus makan yang lahap. Nah, setelah itu baru Mas akan cerita. Setuju?” usul Imron. Ines segera menyiapkan handuk dan pakaian ganti. Setelah itu ia menyiapkan makan malam.

@@@

Setengah jam kemudian.

“Jadi Mas terima saja pemberian itu?” tanya Ines khawatir.
Imron menangkap kegelisahan istrinya. “Mas sudah coba menolak, tapi Pak A Seng mengancam akan memecat Mas kalau pemberiannya itu ditolak.”

Ines tercenung. Matanya menatap motor baru yang kini ada di rumah mereka. Ines tidak tahu, apakah ia senang atau justru harus membenci pemberian bos suaminya itu. Semestinya ia bersukacita, tapi dugaan lain menyelinap di kepalanya. Apa maksud Pak A Seng memberi hadiah motor yang harganya hampir tiga belas juta itu?

Oh, semoga pemberian itu didasari oleh ketulusan, bukan oleh niat jahat terselubung, harap Ines dalam hati.

@@@

Hari-hari terus berlalu. Sejak menerima hadiah motor baru itu, Imron jadi tambah rajin bekerja. Ia tak pernah lagi datang terlambat. Ia merasa jadi punya hutang budi pada Pak A Seng. Untuk membalas kebaikan lelaki itu ia harus bekerja dengan baik dan rajin. Ia tak akan mengampuni dirinya sendiri, kalau kedapatan melalaikan pekerjaannya.

Waktu terus saja berlalu. Tapi sampai saat ini Imron masih belum juga mengerti maksud pemberian hadiah itu. Akhirnya Imron menyerahkan semuanya pada Allah. Imron berdoa, semoga tidak ada maksud yang tidak baik dari kebaikan bosnya itu.

@@@

Jam sepuluh malam, saat Imron sedang khusyuk membaca Al-Quran, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Imron meletakkan Al-Quran dan bergegas membukakan pintu.
Sebuah wajah bermata sipit berdiri di luar pintu. Imron terkejut. Sangat terkejut!

“Oh, Pak A Seng. Silakan masuk, Pak.”

“Terima kasih, Im. Apakah saya mengganggumu?”

“Oh, tidak Pak,” jawab Imron cepat.

Pak A Seng duduk. Ia mengenakan sweater yang serasi sekali dengan warna kulitnya yang putih. Tapi wajahnya terlihat begitu lain. Wajah itu seakan menanggung sesuatu yang amat berat.

Imron memanggil Ines dan menyuruhnya membuatkan minum. Ia lalu duduk menemani tamunya.

“Maaf, Pak. Rumah saya masih berantakan begini,” ucap Imron memecah kebisuan diantara mereka.

“Ah, tidak apa-apa. Saya dulu juga begini.”

Imron tersenyum. “Ngomong-ngomong, Bapak tahu rumah saya dari siapa?” Ia ingat, ia tak pernah cerita tentang tempat tinggalnya pada laki-laki itu.

“Dari si Aji.”

Imron mengangguk-angguk lagi. Ines kemudian muncul membawan minuman dan kue.

“Silakan diminum, Pak. Saya cuma punya ini.”

“Ah, tidak apa-apa,” Pak A Seng mengangkat gelasnya dan meneguk minuman itu perlahan. Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dan matanya terpaku pada sebuah kaligrafi besar di dinding. Imron menangkap perubahan wajah lelaki setengah baya itu.

“Begini, Im. Saya mau minta tolong,” Pak A Seng berkata begitu pelan.

“Apa yang bisa saya lakukan untuk Bapak?”

Pak A Seng kelihatan ragu. Ia menatap Imron daam-dalam. “Saya sudah memikirkannya masak-masak tadi malam. Dan akhirnya saya memutuskan ini,” lanjutnya. Imron masih bingung. Apa yang akan diminta lelaki itu? Apa ia mau mengambil kembali motor pemberiannya?

Tidak! Imron tidak akan keberatan sama sekali. Ia sudah siap melepas motor itu kembali pada pemiliknya. Ia ikhlas.

“Saya…saya…,” kata-kata itu terputus dari mulut Pak A Seng.

“Katakan saja, Pak. Saya akan bantu sebisa saya,” dorong Imron.

Pak A Seng menatap lelaki muda di depannya. Ia yakin, Imron pasti orang yang tepat.
“Saya ingin masuk Islam, Im,” ucapnya akhirnya.

Kata-kata itu membuat tubuh Imron tersentak. Allahu Akbar! Pekiknya dalam hati. Tidakkah telinganya salah dengar?

“Alhamdulillah…,” ucap Imron tersenyum lebar. Pak A Seng ikut tersenyum.

“Bagaimana, Im? Bisa bantu Bapak mengenal Islam lebih dalam?”

Imron mengangguk kuat-kuat.

Ya, Rabb, inikah hikmah dari semua kebaikan lelaki itu?

@@@

Semua jadi senang dan terharu. Masing-masing karyawan bergantian memeluk dan menyalami Pak A Seng. Ketika tiba giliran Imron, lelaki Cina itu menangis.

“Terima kasih, Im. Aku tertarik pada Islam lewat pribadimu. Kau menjadi pintu dari setiap kebenaran yang aku cari selama ini.”

Imron juga tak kuasa menahan air matanya. Ia memeluk lelaki yang kini sudah seiman dan seaqidah dengannya itu.

“Allah telah mengatur semuanya, Pak. Semoga jalan ini benar-benar membuat kita lebih mencintai-Nya.”

Imron memperkuat pelukannya. Entah kenapa, ia merasa sudah lama mengenal Pak A Seng.
Imron menatap sekali lagi pada lelaki itu sebelum melepas pelukannya. Dalam baju koko dan peci yang dikenakannya, Pak A Seng benar-benar lain dari sebelumnya. Tapi ada yang lebih patut diperhatikan.

Wajahnya.

Wajah itu sungguh memancarkan kebahagiaan. Seperti purnama.[]

(Majalah Ishlah No. 77/IV/1997)

Standard
Journal

Peacemaker F-3000


Washington DC, 20 April 2008

“…Pesawat tempur ini dirancang oleh empat belas orang pakar dari seluruh dunia dengan investasi US$ 1 Milyar. Dimisikan untuk perdamaian terutama membantu Dewan Keamanan PBB dalam menjalankan sangsi-sangsinya terhadap negara-negara pembangkang. Anda semua akan tercengang kalau saya beritahu bahwa benda ini punya bobot hanya 2,8 ton, jauh lebih ringan dari F-117 Nighthawk Stealth. Dari segi bentuk keduanya tidak jauh berbeda.
Tapi F-117 kalah jauh dari segi teknologi. Disamping anti radar, benda ini juga mampu mengacaukan radar musuh, mendeteksi objek bergerak dari jarak 30.000 mil dan terbang di ketinggian 70.000 kaki. Selain itu mampu terbang dengan kecepatan 500 knot sekaligus mampu mengapung di udara tanpa suara. Harganya sangat mahal, US$ 10 juta. Mengenai persenjataan yang dimiliki dan spesifikasi lainnya dapat Anda lihat sendiri dalam brosur yang kami bagikan. Untuk sementara, saya rasa cukup. Kecuali jika ada pertanyaan dari Anda.”

Jendral Vincent Stewar, Kepala Staf AU Amerika Serikat membuka kacamatanya. Ia kembali duduk di kursinya dan mencoba menatap silau cahaya blitz kamera yang silih berganti menerpanya. Di samping kiri Vincent berturut-turut duduk pula Menteri Pertahanan dan Keamanan AS Bob Christopher, Juru Bicara Gedung Putih Michael J. Pullman, dan pilot penerbang Immanuel Ethan. Di belakang mereka, pada sebuah screen raksasa, tergambar sebuah pesawat berbentuk segitiga hitam.
Seorang wartawan tiba-tiba mengacungkan tangan. Di depan, Jendral Vincent mengangguk.

“Dalam brosur, tertulis bahwa proyek pembuatan pesawat ini dimulai tahun 1986 dan rampung sejak 10 tahun yang lalu. Namun kenapa pesawat ini tidak diterjunkan ketika sekelompok teroris membajak pesawat pribadi presiden tahun 1999 atau ketika Gedung Putih diserang pesawat siluman dua tahun berikutnya?”

Jendral Vincent dengan tenang menjawab, “Kita tidak dapat menerjunkannya waktu itu semata-mata karena kita lebih mengutamakan efisiensi. Kita tak perlu mengutus ‘Peacemaker karena dengan pesawat pemburu F-14 saja pesawat musuh dapat kita rontokkan. Ibarat membunuh seekor lalat, kita tidak perlu memakai rudal patriot, bukan?” Hadirin tertawa menanggapi lelucon itu. Tapi wartawan dari CNN yang bertanya tidak tersenyum sedikitpun. Ia tampak tidak puas.

“Tapi kita kehilangan seorang presiden waktu itu,” ucapnya seakan mengingatkan hadirin. Ia menatap rekan-rekannya dengan sinis, lalu duduk.

“Masih ada pertanyaan?” tanya Vincent Stewar. Seorang wartawati berdiri. “Silakan!” Vincent mempersilakan.

“Pesawat ini akan dipamerkan kepada publik pada IMAS (International Military Air Show) lusa. Siapakah pilot yang dipercaya menerbangkan pesawat ini?”

Jendral Vincent tersenyum. “Saya rasa itu pertanyaan terakhir buat saya,” katanya. “Setelah saya tunjukkan siapa orangnya, Anda semua bisa bertanya apa saja padanya. Nah, dialah pilot itu!” Jendral Vincent menoleh pada Immanuel Ethan yang pada saat bersamaan menganggukkan kepalanya pada semua orang. Laki-laki tampan berambut cut itu tersenyum. Segera setelah itu tiga pria penting di samping Ethan berdiri dan melangkah keluar dari ruangan Press Meeting Gedung Putih itu.

Para wartawan mengerubungi Ethan dan menjepretnya tiada henti. Lalu pertanyaan-pertanyaan seputar karirnya pun meluncur tak terbendung.

***

Ketika Ethan keluar dari White House, seorang wartawati membuntutinya. Padahal jumpa pers sudah resmi ditutup.

“Maaf, Pak Ethan, ada satu lagi pertanyaan saya, kalau Anda berkenan,” ucapnya mencegat Ethan menuju mobil. Ethan berhenti dan menatap wanita itu. “Anda siapa?” tanyanya.

“Saya Aprilia, reporter khusus New York Times.”

“Apa yang ingin Anda ketahui?”

“Ada isu bahwa sejak tiga tahun yang lalu Anda pindah agama . Benarkah Anda sekarang seorang muslim?”

Ethan terdiam. Pertanyaan berbahaya. Tanpa menjawab ia melangkah meninggalkan gadis itu dan masuk ke mobilnya. April mengikutinya dengan heran.

“Pertanyaan Anda terlalu off the record, Nona!” jawab Ethan sambil menekan tombol power window. Jendela Porsche itu menutup dan mobil itu meluncur di jalanan.

***

Begitu sampai di rumahnya, Ethan langsung menghubungi seseorang lewat telepon.

“Saya Immanuel Ethan. Bisakah saya bicara dengan Ibrahim Khoir?”

“Maaf, Sir. Mister Ibrahim sedang di Ankara. Besok baru kembali,” jawab seorang pria.

“Baiklah, besok akan saya hubungi lagi!” Ethan menutup telepon. Beberapa saat ia terdiam. Matanya lalu terpaku menatap fotonya ketika berdiri bersama Peacemaker F-3000, pesawat tempur generasi terakhir yang akan diterbangkannya dua hari lagi. Foto itu diambil tiga bulan yang lalu, saat ia bersama 45 orang pilot lainnya diseleksi untuk menerbangkan Peacemaker. Ia akhirnya terpilih sebagai pilot utama dan seorang rekannya yang lain sebagai cadangan.

“Lusa, seluruh cita-citaku, akan sampai pada puncaknya!” ucap Ethan sambil mengepalkan tangan.

***

Washington DC, 21 April 2008

Pagi-pagi sekali, Ethan sudah sibuk mempersiapkan keberangkatannya. Ia mengemasi perlengkapannya dan memasukkannya ke dalam tas. Tepat pukul 10.00 Ethan menepati janjinya untuk menelepon kembali Ibrahim Khoir, sahabat sekaligus pengacaranya di Los Angeles. Di sana, Ibrahim Khoir mengangkat telepon.

“Apakah kau sudah baca surat kabar hari ini, Ethan?”

“Kenapa rupanya?” tanya Ethan lagi setelah mereka saling mengucapkan salam. Pagi ini ia memang belum sempat membaca korannya.

“Mereka semua menulis tentangmu. Juga tentang IMAS dan Peacemakernya. Seluruh stasiun TV mereplay wawancaramu kemarin. Mereka bilang kau seorang yang hebat!”

“Ah, biarkan saja. Besok mereka akan menyaksikan yang lebih dari itu semua!”
“Apa itu?” tanya Ibrahim penasaran. Ethan tertawa.
“Maaf, Saudaraku, aku tidak akan mengatakannya sekarang. Kita lihat saja nanti.”
“Baiklah. Lantas apa yang bisa saya bantu sekarang?”

Ethan menarik nafasnya dalam-dalam. Seluruh rencana sudah disusunnya begitu matang. Dan tak ada yang boleh tahu. Ia tidak ingin orang lain mendapatkan kesulitan karena perbuatannya itu. Juga Ibrahim Khoir.

“Saya punya sebuah amanah yang harus kau sampaikan kepada yang berhak menerimanya. Dan semuanya akan dijelaskan oleh sebuah disket yang akan saya kirim dari sini, hari ini juga. Paket itu saya kirim ke kantormu. Besok kau sudah menerimanya. Itu saja, assalamu’alaikum!” Belum sempat Ibrahim berkomentar, Ethan sudah memutuskan hubungan.

Ethan melirik jam tangannya. Satu jam lagi utusan Dephan akan menjemputnya. Ia masih punya waktu untuk menyelesaikan bagian dari rencananya.

Ethan membongkar isi meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah map dan membukanya. Pria itu mengeluarkan beberapa guntingan koran dan menumpuknya di tong sampah. Begitu yakin semuanya tak ada yang tersisa, ia mendekati perapian dan membakar kliping-kliping koran itu dengan hati-hati.

Setengah jam kemudian sebuah sedan milik Departemen Pertahanan dan Keamanan memasuki halaman rumahnya. Saat itu Ethan sudah menunggu di depan pintu. Ia langsung masuk ke mobil begitu sopirnya selesai memasukkan barang-barang ke mobil. Ethan menatap kembali rumahnya. Setelah itu ia tidak ingin melihatnya lagi.

“Kita ke kantor pos dulu sebentar,” ucap Ethan ketika mobil sudah dalam perjalanan.

“Ya, Pak!” jawab sopir.

***

Di dalam British Airways yang membawanya menuju New York, Ethan kembali memikir ulang seluruh rencananya. Semua resiko sudah diperhitungkannya. Beruntung ia hanya sebatang kara. Seluruh keluarganya sudah tewas puluhan tahun yang lalu, saat ia begitu menyesali kenapa ia tidak ikut tewas bersama mereka. Waktu itu ia baru 6 tahun.

Sejak tragedi itu tak ada yang ingin dilakukannya selain berjuang dan bekerja keras. Dan ia rasa, semuanya akan sampai pada puncaknya esok hari di New York. Ethan memejamkan matanya. Bibirnya terbenam dalam dzikir.

***

New York City, 22 April 2008

Di Bandara Internasional terlihat sebuah kesibukan. Dimana-mana terpasang umbul-umbul setinggi 4 meter berkibar-kibar diterpa angin. Ada ratusan pesawat tempur berbagai tipe dan jenis berbaris teratur sepanjang lintasan pacu. Di bagian depan menara pengawas, berdiri sebuah tenda raksasa berwarna biru tua dengan ratusan kursi di bawahnya. Di sana terlihat para pejabat puncak pemerintahan Presiden Alfred A Stokker, para Jendral US Army Force dan para undangan penting dari berbagai negara. Ratusan pria berjas rapi berkacamata hitam dengan seragam khusus sibuk di posisi masing-masing sambil berkomunikasi lewat headphone. Merekalah para bodyguard yang ditugaskan mengamankan event penting kedirgantaraan militer dunia itu. Di bawah sebuah spanduk raksasa bertulisan ‘Welcome to International Military Air Show 2008’ duduk teratur puluhan pilot yang akan melakukan atraksi udara dengan pesawat tempur masing-masing. Immanuel Ethan duduk di sayap kiri. Ia duduk dengan tenang sambil mengawasi keadaan di sekelilingnya.

Setengah jam berlalu. Sebuah F-117 Nighthawk Stealth memecah udara New York tanpa suara. Dari pengeras suara, seorang MC membacakan spesifikasi si ‘siluman’ itu. Kemudian bergemuruhlah dari arah panggung tepuk tangan para undangan. Setelah menunjukkan kebolehannya, pesawat yang pernah diterjunkan dalam perang Irak-Amerika tahun 1996 itu kembali ke sarangnya.

Giliran Immanuel Ethan pun tiba.

Dengan gagah lelaki 33 tahun itu menaiki Peacemaker dibantu seorang petugas Machine Service. Setelah mengacungkan jempolnya Ethan membawa pesawat itu memasuki landasan pacu. Setelah benar-benar merasa siap, Ethan menekan tombol turbo. Tanpa suara, pesawat itu take off dengan kecepatan kilat dan melintas di depan panggung kehormatan.

Ethan memutar pesawat dan kembali ke arah tenda raksasa. Tiba-tiba pesawat itu berhenti mendadak dan mengapung di angkasa, tepat di depan tenda para undangan. Tepuk tanganpun terdengar bergemuruh lagi. Begitu MC selesai menyebutkan jati diri pesawat tempur generasi terakhir itu, Ethan pun melesat menjauh dan menghilang di angkasa.

Beberapa saat pesawat itu tidak muncul. Panitia pengatur acara masih menunggu. Masih ada atraksi yang harus dipertunjukkan F-3000 itu. Tapi setelah lima menit, pesawat itu tidak juga muncul. Orang-orang di menara mulai panik.

“Di sini menara pengawas, apakah Peacemaker menerima pesan kami?” ucap petugas mencoba mengontak Ethan.

Beberapa saat. Belum ada jawaban. Di angkasa sana, di ketinggian 10.000 meter dan dalam kecepatan Mach 5 (1 Mach = kecepatan suara) Ethan tersenyum.

“Ya. Di sini F-3000. Kami segera kembali!” jawabnya. Petugas di menara melihat ke layar radar. Pesawat itu memang mendekati titik sentral. Tapi kemudian dia menghilang dari pantauan radar.

“Kenapa dia?” tanya Dick Forrery, Kepala Bandara. “Bukankah dia diperintah untuk tidak mengaktifkan sistem anti radar?” lanjutnya gusar.

“Benar, Pak!” jawab petugas kontrol radar. Beberapa petugas menara yang lain mencoba menggunakan teropong digital. Tapi Peacemaker tetap tak kelihatan.

“Peacemaker diperintahkan kembali!” bentak Dick emosional. Tak ada jawaban. Layar radar pun masih kosong. Ternyata Ethan mengacaukan sistem radar menara pengawas.
“Shit!” teriak Dick dengan muka merah padam. Ia mengambil handphonenya dan mengontak Jendral Vincent Stewar, di bawah sana.

“Peacemaker menghilang, Pak!” lapornya.

Jendral Vincent Stewar seperti bara, wajahnya memerah. Belum sempat ia memberi perintah atas berita itu, sebuah ledakan dahsyat terdengar dari arah lintasan parkir pesawat. Peacemaker muncul di balik asap hitam yang membubung ke angkasa sambil terus memuntahkan bomnya.

Orang-orang menjadi panik dan berusaha menyelamatkan nyawa masing-masing. Dari arah menara, meraung-raung sirine tanda bahaya. Menteri Pertahanan, Bob Christoper tiba-tiba sudah berdiri di depan Jendral Vincent.

“Apa yang dia lakukan?” bentaknya. Tapi suaranya hilang ditelan suara ledakan. Mr. Presiden segera diamankan. Para tamu negara kalang kabut. Dimana-mana terdengar teriakan kepanikan. Apalagi ketika tanpa diduga F-3000 mengapung tepat di depan tenda kehormatan dalam jarak 100 meter.

Di dalam benda hitam itu, Ethan tersenyum. Dendamnya terbalaskan. Lalu ia tiba-tiba muram. Di matanya muncul bayangan kepanikan para penduduk sipil ketika Amerika membombardir Timur Tengah tahun 2000. Terbayang juga saat keluarganya hangus bersama rumah mereka ketika pesawat militer Amerika membomnya 27 tahun silam.

“Sekarang kalian akan merasakan akibat kecongkakan kalian,” ucap Ethan sambil memencet tombol fire di tangannya. Dalam hitungan detik, tenda di depannya hancur lumat bersama isinya. Peacemaker kembali berputar-putar dan merudal seluruh pesawat tempur di bawahnya. Setelah yakin tak ada lagi yang tersisa, Ethan melesat ke arah barat menuju Seattle.

Di menara pengawas, Dick Forrery menatap F-3000 dengan mata tak berkedip. Ia sama sekali tak dapat berbuat apa-apa ketika pesawat itu bergerak menjauh dan menghilang di balik gumpalan asap tebal. Ia lalu menghubungi Jendral Vincent. Ia berharap jendral itu masih hidup.

“F-3000 itu menuju ke arah barat, Pak!” lapornya.

“Kejar dia dengan cadangan F-117 di Oklahoma. Perintahkan seluruh pangkalan untuk mengerahkan seluruh pesawat tempurnya untuk mencegat bajingan itu,” geram Jendral berbintang empat itu.

Dick Forrery melakukan tugasnya. Atas nama Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Serikat ia menghubungi seluruh skuadron di daratan Amerika. Kemudian ia meneruskan perintah Menteri Pertahanan kepada seluruh bandara untuk membatalkan seluruh jadwal penerbangan ke Seattle. Perintah terakhir ini juga berlaku untuk seluruh bandara udara di seluruh dunia.

Berita pembelotan F-3000 itu segera mengguncang publik dunia. Beberapa stasiun televisi secara langsung menyiarkan berita itu.

Sementara itu Peacemaker F-3000 melesat dengan kecepatan penuh ke arah Seattle. Tujuan Ethan adalah Markas Besar CIA.

Tiba-tiba komputer di kokpit pesawat memberitahu bahwa ada yang mencoba mengontaknya dari bumi. Ethan menerimanya.

“Apa yang kau inginkan, Ethan?” Itu suara Bob Christoper. Ethan tertawa.
“Ah, tidak ada,” jawabnya ringan.
“Tidak ada? Lalu apa maksudmu?”
“Saya cuma menjalankan tugas sekaligus merampungkan obsesi saya.”
“Tugas apa?”

“Ha ha ha. Jangan membentak saya, Sir! Saya tidak ingin mendengar suara Anda lagi, selamanya!” Ethan memutuskan hubungan dengan bumi.

Empat puluh lima menit kemudian Ethan sudah berada di atas Denver. Saat itu komputer pesawat menangkap gerakan sebuah pesawat tak di kenal mendekati posisinya. Ethan melacak identitas pesawat pemburu itu.

“Oho, F-117 rupanya!” ucapnya dramatis. F-117 mencoba mengontak Ethan.
“Echo…echo…! F-3000 diperintahkan mendarat di pangkalan terdekat. Sekali lagi, F-3000 diperintahkan mendarat di pangkalan terdekat!”

Ethan tertawa. “Baiklah, Saudara Tua. Aku segera turun!”

Ethan menurunkan kecepatan dan menukik ke bawah. Ia membiarkan F-117 itu melesat melewatinya.

Ethan mengatur posisinya dan mengunci F-117 itu dalam sasaran tembak. Begitu saatnya tiba, Ethan melepas tembakan dan dalam hitungan detik melihat F-117 itu hancur di udara.

“Nah, selamat jalan, Kawan!” ucap Ethan sambil kembali menambah kecepatan.

***

Di Los Angeles, Ibrahim Khoir menerima disket yang dijanjikan Ethan. Ibrahim menghidupkan komputernya dan mengakses disket itu. Dalam sebuah file berinitial ‘Top Secret” Ethan menulis,

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Saudaraku Ibrahim, hari ini semuanya telah aku rampungkan. Dan aku bahagia bisa melakukannya, -menghancurkan kekuatan Amerika semampuku-. Dan itulah cita-citaku sejak 27 tahun yang lalu. Aku tahu ini bukan cara yang baik, tapi proyek pembuatan F-3000 sama sekali bukan untuk perdamaian –sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan- tapi untuk sebuah kejahatan yang akan mereka lakukan pada kita, orang-orang Islam. Kamu tahu Ibrahim, Amerika tak pernah rela Turki dipimpin oleh orang-orang yang istiqomah pada Islam. Dan mereka telah merencanakan sesuatu yang sangat jahat terhadap negara itu. Apalagi sejak Turki mampu mempertemukan kembali ikatan persaudaraan umat Islam yang telah lama terputus.

Ibrahim Saudaraku…

Jika ajalku sampai pada misi ini, aku berharap agar seluruh tabungan dan kekayaan pribadiku diserahkan untuk membantu perjuangan saudara-saudara kita di bumi Allah yang lain. Salamku untuk mereka semua di mana pun mereka berada. Dan terima kasih atas bimbinganmu selama ini.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

New York, 21-4-2008

Di akhir suratnya Ethan menulis :

File ini akan lenyap setelah tiga puluh detik.

Ibrahim menunggu. Begitu file itu lenyap dari layar, ia mendesah.

***

Di markas besar CIA sebuah pasukan telah disiapkan untuk menyambut kedatangan F-3000. Dalam radius 500 mil telah ditempatkan tiga puluh unit truk peluncur rudal patriot. Kota Seattle begitu lengang. Kepala CIA, Jody Powel tampak panik.

“Apa ia sudah muncul?” tanyanya pada operator radar.
“Belum, Pak! Pesawat itu anti radar!” jawab si Operator.
“Saya juga tahu!” balas Jody Powel kesal.

Seribu mil di luar Seattle, sebuah benda hitam yang begitu ditakuti muncul. Ethan melihat komputer pesawat menunjukkan tiga puluh subjek berbahaya. Ketika Ethan menekan enter, komputer meluncurkan tiga puluh rudal bergantian ke posisi titik-titik merah di layar komputer. Di bawah sana, Jody Powel tidak menyadari bahwa ketiga puluh peluncur rudal Patriotnya sudah hancur bersama awaknya.

Ethan mendekati posisi sentral, yaitu markas CIA. Radius 500 mil sudah dilumpuhkannya. Sekarang tinggal melumatkan gedung yang konon anti nuklir itu.

F-3000 itu sudah tepat mengapung di atas gedung bertingkat sepuluh itu. Ethan melepas bomnya dan melepaskan senjata pelumatnya. Tapi sekonyong-konyong, lima bayangan hitam sudah mengepungnya ketika ia menjauhi gedung yang hampir lumat itu.

Belum sempat komputer melacak, lampu ‘danger’ berkerlap-kerlip. Kemudian menyusul suara animasi komputer memerintahkannya meninggalkan tempat itu. Tapi Ethan terlambat. Sebuah goncangan ia rasakan ketika rudal musuh menubruk perut pesawat. Ketika itulah ia ingat apa yang harus dilakukannya. Dalam balutan helm hitam, bibir pilot terbaik Amerika itu melafalkan dzikir terakhirnya. Dan…Peacemaker F-3000 itu lumat di udara Seattle bersama pilotnya.

***

Pada saat yang sama.

Aprilia, reporter khusus New York Times, dipanggil bosnya. April dengan tergesa-gesa memasuki ruang kerja Larry Foster.

“Ada apa, Pak?” tanyanya. Dari kursinya, Larry melemparkan sebuah bungkusan paket pada gadis itu.

“Itu kiriman dari Immanuel Ethan! Kukira sebagai hadiah ulang tahun untukmu!” ucap pria 60 tahun itu.

“Immanuel Ethan? Apa isinya?” tanya April sambil mengira-ngira.

“Sebuah disket yang membuka kedok teka-teki proyek raksasa Peacemaker F-3000, beserta salinan program-program rahasia yang akan dilancarkan pesawat gila itu. Ternyata apa yang selama ini digembar-gemborkan Gedung Putih omong kosong belaka. F-3000 sama sekali bukan untuk perdamaian, tapi untuk ambisi gila para senator untuk menguasai bumi!”

“Oh ya? Jadi Anda sudah membukanya?” tanya April.

“Tentu saja. Jika dia tidak menulis namanya, mana mungkin aku tertarik membuka kiriman untuk gadis galak sepertimu!”

April tertawa. “Jadi?” tanyanya pada Larry.

“Tulis laporannya selengkap mungkin. Besok kita akan naik cetak empat kali lipat,” tegas Larry.

“Wow! Lalu jika semua koran Anda habis terjual?”

“Uangnya ingin kuhadiahkan buat pilot pemberani itu. Tapi sayang, ia sudah tewas,” ucap Larry sedih.

“Anda benar, Pak. Kita mungkin perlu lebih banyak pemberani-pemberani seperti dia,” ucap April sambil keluar.

***

New York City, 23 April 2008

Seperti dugaan Larry Foster, korannya habis sebelum tengah hari. Tapi sore harinya sebuah e-mail masuk ke komputer kantornya. Surat itu datang dari Menhankam Bob Christoper. Isinya singkat saja : New York Times dituntut atas tuduhan membocorkan rahasia negara![]

Dimuat dalam epik di Majalah Annida No. 3 Tahun VI/1996 dan dimuat dalam kumpulan cerpen dengan judul yang sama.

Standard
Journal

Joni Tak Pulang

MAYAT itu masih baru. Tampak putih di antara apungan sampah yang hitam dan kotor. Teronggok secara mencolok di kali tepat di bawah jembatan kecil di pinggir perkampungan yang sepi.

Saat itu Minggu pagi, pukul enam lewat sedikit. Jalanan belum begitu ramai. Seorang tukang ojek baru saja menyandarkan motor bebeknya di ujung jembatan ketika mendadak ia melihat sosok putih terapung itu. Merasa curiga, ia menuruni tepian kali yang rendah dan mendekati sosok mencurigakan itu. Setelah yakin itu memang mayat manusia, tukang ojek itu naik ke jalan raya dan mulai berteriak.

Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, daerah kumuh itu ramai seperti pasar tumpah.
Untungnya, polisi cepat datang ke lokasi. Elemen keamanan negara yang digaji dengan uang rakyat itu langsung mengamankan TKP dan memeriksa identitas si mayat. Sayangnya, tidak ada apa pun yang bisa dijadikan petunjuk kecuali bahwa mayat telanjang itu berjenis kelamin laki-laki dengan tinggi badan 1,7 meter.

Polisi akhirnya membawa mayat itu ke RSCM untuk divisum. Si tukang ojek dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

***

Empat jam sebelum mayat itu ditemukan.

“Lepaskan pakaiannya, lalu bakar. Kita tidak ingin meninggalkan jejak!”
“Bagaimana dengan polisi?”
“Jangan takut. Tidak ada yang tahu anak itu pergi dengan kita. Lagi pula ini sebuah kecelakaan. Kita bukan dengan sengaja membunuhnya. Ayo, buang mayatnya!”

Sedan hitam itu berhenti di atas jembatan di tepi sebuah kali yang dangkal airnya. Dari dalam mobil itu sebuah mayat tanpa busana dijatuhkan tepat ke bawah jembatan. Mobil itu lalu pergi.

***

Sepuluh jam sebelum mayat itu ditemukan.

“Saya takut, Pak Dokter.”

Joni terbaring di ranjang operasi. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa takut. Ini jelas bukan rumah sakit, tapi semua peralatan kedokteran yang diperlukan untuk tujuan malam itu ada di sana. Orang yang membawanya ke tempat itu pasti kaya sekali, sehingga bisa menyewa tim dokter dan peralatan operasi yang lengkap seperti itu.

“Tenang saja, Joni. Setelah ini kamu tidak akan kesulitan keuangan lagi. Setidaknya untuk beberapa bulan. Kamu bahkan bisa melunasi utang-utang ibumu. Operasinya tidak akan lama. Setelah itu kamu akan bisa hidup seperti sedia kala.” Seorang lelaki umur tiga puluhan membujuknya.

Joni mengangguk. Membayangkan uang lima puluh juta yang akan diterimanya nanti, membuat Joni menjadi tenang. Lelaki kaya itu lalu pergi. Tim dokter lalu menyuntikkan sesuatu ke tubuh Joni, membuat kesadarannya berangsur-angsur hilang sehingga ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Empat orang tim dokter bekerja dengan cekatan. Mereka menyayat, menggunting, dan memotong. Mengambil yang mereka inginkan, kemudian menyambung dan menjahit kembali semua sayatan. Semua selesai dalam waktu kurang dari dua jam.

Mereka hanya perlu menunggu anak muda itu sadar kembali beberapa jam kemudian. Lalu mereka akan membayar apa yang telah mereka ambil, dan semuanya selesai.

Tapi ternyata Joni tak pernah bangun lagi dari tidurnya. Ia begitu lelap dalam tidurnya yang panjang. Tim dokter dan si orang kaya panik. Berbagai cara yang ada dalam dunia kedokteran telah dicoba. Tapi hasilnya nihil. Joni benar-benar telah berlalu.

***

Dua belas jam sebelum mayat itu ditemukan.

Joni gelisah. Ini sudah hampir magrib, tapi orang yang ditunggu-tunggunya belum juga kelihatan batang hidungnya. Ini sudah hampir satu jam. Dan, Joni takut bila orang itu membatalkan janjinya. Jalan Melawai sedang dipuncak kesibukan.

Lalu-lintas sedang macet. Syukur-syukur mereka terlambat karena macet, pikir Joni. Ya, Tuhan, jangan batalkan rencana ini, jeritnya ke arah langit.

Sebuah sedan hitam melambat dan berhenti di depan Joni. Kaca samping dekat kursi penumpang terbuka perlahan-lahan.

“Hai, kamu Joni, ya?” Seorang lelaki muda, mungkin tidak lebih 30 tahun, berpenampilan mewah, menyapa Joni. Ketika Joni mengangguk, ia tersenyum. “Ayo, naik. Tidak apa-apa. Jangan takut.”

Joni kebingungan. Tak mungkin salah. Inilah orang yang ditunggu-tunggunya. Kalau tidak, tidak mungkin mereka akan mengenali dirinya. Jadi ia naik saja ke sedan mewah itu.

***

Dua puluh empat jam sebelum mayat itu ditemukan.

Hari Sabtu, pukul enam pagi. Hari belajar terakhir buat Joni sebelum ia menempuh Ujian Akhir Nasional. Keluar dari kamarnya, Joni mencari ibunya di dapur.

“Mak, ntar malam Joni mau nginep di rumah Arfan. Mau belajar bareng. Insya Allah pulang besok, pagi-pagi banget.”

Sebenarnya Joni berbohong. Ia tidak ada janji dengan Arfan. Ia ada janji dengan seseorang. Seseorang yang akan memberinya uang banyak sekali.

“Trus, gimane ame uang ujian elu, Jon?”
“Mak tenang aja. Semuanya akan Joni beresin. Pokoknya Mak nggak boleh mikirin masalah itu lagi. Mak janji, kan?”

Mak Joni mengangguk. Ia tak tahu, di dalam tas Joni yang lusuh, ada potongan iklan dari sebuah koran terbitan Ibu Kota.

Dibutuhkan sebuah ginjal. Berani bayar 50 juta. Yang berminat silakan hubungi 08526743251[]

Jakarta, 31 Mei 2005

Standard
Journal

Lift

HARRY memulai hari Senin itu dengan perasaan kesal. Bujangan 30 tahun itu sengaja bangun subuh-subuh agar tidak terlambat sampai di tempat kerjanya yang baru. Sebulan yang lalu ia di-PHK dengan alasan efisiensi dari sebuah perusahaan auto-finance dengan pesangon yang lumayan.

Ia dibangunkan oleh alarm telepon genggamnya pada pukul 4 pagi, dan bergegas menyiapkan diri. Harry tidak ingin hari pertamanya di perusahaan penjual perangkat lunak MetroData berantakan. Setelah minum segelas susu dan sepotong roti bakar yang ia buat sendiri, Harry keluar dari flatnya.
Sudah bertahun-tahun Harry hidup sebatang kara. Seluruh keluarganya menjadi korban bencana tsunami beberapa tahun yang lalu. Jadi, ia tinggal sendirian di kota itu, menyewa sebuah flat di sebuah gedung tua delapan lantai di pinggiran kota.

Untuk naik dan turun dari flatnya yang ada di lantai tujuh, Harry biasa menggunakan lift. Tapi akhir-akhir ini lift yang cuma satu-satunya itu sering rusak. Pengelola gedung enggan memperbaiki lift tua itu karena biayanya besar. Sementara uang yang didapatnya dari gedung tua itu tidaklah banyak: flat-flat yang ada terisi tidak sampai seperempatnya. Lagi pula gedung itu konon sudah dijual kepada sebuah perusahaan asing yang berencana mengganti gedung tua itu dengan sebuah gedung perkantoran, tahun depan.

Harry melangkah cepat melintasi flat-flat di lantai tujuh yang tak berpenghuni. Beberapa lampu sudah tidak berfungsi dan tampaknya belum akan diganti dalam waktu dekat.

Koridor di luar pintu-pintu flat masih lengang. Di lantai tujuh hanya ada tiga penyewa. Selain Harry sendiri, ada seorang karyawati sebuah bank swasta dan sebuah keluarga kecil dengan empat anak. Di lantai-lantai lain keadaannya tidak jauh berbeda. Satu lantai hanya diisi dua atau tiga penyewa. Di siang hari saja, gedung ini sepi sekali. Apalagi pada pukul lima pagi.

Harry sampai di depan lift. Nyaris saja ia berteriak kegirangan. Lift itu dalam keadaan menyala. Itu artinya lift itu bisa digunakan.

Harry menekan tombol yang sudah tak jelas bentuknya. Pintu lift yang berwarna silver berderak terbuka. Memang tidak mulus seperti lift di gedung-gedung mewah, tapi Harry tidak peduli. Ia masuk ke ruang sempit berukuran 2 x 1,5 m itu lalu menekan tombol “close”. Pintu lift menutup dan dengan suara sedikit gaduh, lift itu mulai bergerak turun.
Harry meletakkan tas kerjanya di lantai, mengeluarkan telepon genggamnya dan menulis pesan singkat untuk Rue, pacarnya. Semalam Rue mengirimkan ucapan selamat bekerja di tempat yang baru untuk Harry. Karena ketiduran, Harry belum sempat membalas pesan itu, dan ia pikir sekaranglah saat yang tepat untuk melakukannya.

Terima kasih, Rue. Semoga aku bisa sampai di kantor tepat waktu. Doakan aku tidak terkena PHK lagi. Love, Harry-mu.

Harry mengirim SMS itu dan tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Itu pasti report-nya, pikir Harry. Dia membuka inbox dan ia salah. Yang muncul di layar adalah pesan bahwa pesan tidak bisa dikirim karena pulsa sudah habis.

“Sialan!” kata Harry nyaris berteriak. Ia lupa mengisi kembali pulsa kartunya. Semoga Rue memaafkanku kali ini, pikirnya. Rue memang sering memarahinya karena selalu lupa mengisi kembali pulsa telepon, apa lagi di saat-saat penting.

Sambil menyimpan kembali telepon genggamnya di saku celana, Harry menatap deretan angka-angka di atas pintu lift. Angka lima sekarang sedang menyala. Lamban sekali, pikir Harry. Lift itu mengeluarkan suara berdengung. Walaupun gerakannya lamban, Harry bisa merasakan benda itu bergetar halus di kedua kakinya.

Ketika angka empat menyala di atas pintu, getaran halus itu tiba-tiba lenyap. Harry mulanya berpikir, ada calon penumpang di lantai tiga yang ingin bergabung dengannya. Tapi setelah sekian lama, pintu lift tidak kunjung membuka, tapi lift juga tidak bergerak sama sekali. Harry menunggu dengan sabar. Tapi setelah satu menit lebih berlalu tanpa ada apa-apa, ia mulai panik.

Harry dengan cemas menatap angka 4 di atas pintu yang berkedip-kedip. Ada apa ini? pikir Harry. Lampu di dalam lift tiba-tiba padam, begitu pula angka empat di atas pintu. Keadaan di dalam lift mendadak gelap-gulita.

Dengan refleks Harry memencet tombol “open”. Tapi tak ada apa-apa. Harry menggedor-gedor pintu lalu berteriak-teriak panik. “Tolong! Tolooong!!! Apakah ada orang di luar sana? Hallo?”

Hening. Tidak terdengar apa pun.

Harry menunggu. Ia berpikir positif bahwa semua ini tidak perlu membuatnya panik berlebihan. Ini kejadian biasa yang bisa terjadi di lift mana pun.

Pasti ada yang mendengar teriakanku, pikir Harry. Ia yakin sekali akan hal itu. Setelah tahu ada yang terjebak di dalam lift, salah seorang tetangganya akan segera memanggil pengelola gedung yang dalam beberapa menit sampai di depan pintu lift sialan ini bersama serombongan anggota pemadam kebakaran. Dalam setengah jam atau paling lama satu jam, ia akan bisa keluar dari lift dan bisa berangkat ke kantor. Tentu saja sebelum itu ia harus berbasa-basi sedikit dengan pengelola gedung, mengatakan sebaiknya lift ini diganti secepatnya. Di kantor, akan ada banyak pertanyaan dari bosnya yang baru—tentu saja—tapi ia punya alibi yang kuat berikut puluhan orang saksi yang akan membenarkan kata-katanya. Dan setelah semua ini berlalu, ia berjanji tidak akan pernah menggunakan lift sialan ini lagi untuk selama-lamanya. Bahkan kalau perlu ia akan pindah dari flat tuanya itu dan mencari tempat tinggal yang lebih layak untuknya, dengan catatan, flatnya yang baru nanti tidak berada di gedung tua dengan lift rusak seperti ini!

Harry kemudian sadar bahwa teriakannya takkan bisa di dengar siapa pun. Ini masih pukul lima pagi. Sepagi ini tidak ada penghuni flat lain yang berkeliaran di koridor. Karena lift ini sering rusak, hanya penghuni di lantai enam, tujuh, dan delapan saja yang sering menggunakannya. Itu pun tidak semuanya. Penghuni di lantai yang lebih rendah, lebih suka menggunakan tangga untuk naik dan turun dari flat mereka.

Ia mungkin bisa menunggu seseorang. Tapi sampai berapa lama? Harry maju setengah langkah, menempelkan telinganya serapat mungkin ke pintu lift yang dingin, dan berkonsentrasi. Tapi ia tidak mendengar suara apa pun.
Jadi, ia benar-benar dalam kesulitan sekarang.

Harry duduk di lantai. Matanya mencari-cari dalam kegelapan. Sesaat ia merasa seperti berada dalam kuburnya sendiri. Napasnya terasa sesak. Entah karena rasa takutnya atau karena udara dalam lift yang terbatas.

Harry tiba-tiba ingat sesuatu. Ia cepat-cepat mengeluarkan ponselnya, siap memencet nomor Rue, tapi sedetik kemudian ia ingat bahwa benda itu tidak ada pulsanya. Harry kecewa. Apa yang bisa kulakukan sekarang? pikirnya sambil menatap ponselnya itu. Seandainya saja Rue meneleponnya sekarang. Seandainya saja tadi ia turun pakai tangga saja. Seandainya …

Harry mendengar suara-suara dari luar. Tapi ia tidak yakin apakah suara itu berasal dari atas atau bawah pintu lift. Hanya saja, ia yakin mendengar suara-suara langkah sepatu di koridor. Suara itu terdengar konsisten, makin lama makin terasa dekat ke arahnya. Ketika suara itu hilang, Harry mendengar—walau tidak terlalu jelas—suara orang berbicara di luar lift, “Sial! Liftnya rusak lagi! Bagaimana sih, gedung ini dikelola?”
Itu suara laki-laki.

Harry cepat-cepat bangkit dari lantai, tangannya memukul-mukul pintu lift sambil berteriak keras-keras. “Hallo? Apa ada orang di luar? Tolooong …! Tolong saya! Saya ada di sini. Hei! Hallo? Apa Anda dengar suara saya?”

Harry berteriak sekuat tenaga. Ia juga menghantam pintu dengan tangannya. Tapi tak ada sahutan dari luar. Siapa pun yang ada di luar sana, seperti tak mendengar teriakan keras Harry. Tapi masa sih tidak dengar? Kalau ia bisa mendengar suara mereka, kenapa mereka tidak bisa mendengar teriakannya?

Orang-orang itu kemudian pergi. Suara sepatu mereka terdengar makin lama makin kecil, sampai akhirnya tidak terdengar lagi sama sekali. Harry menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskannya. Ia dengan kecewa kembali duduk di lantai.

***

Satu jam telah berlalu …

Harry mengangkat kepalanya dari atas lutut. Uh, aku ketiduran, ucapnya dalam hati. Ia menatap kegelapan di sekelilingnya. Belum ada perubahan apa pun dengan lift itu. Ia masih terkurung di sana. Sendirian. Dalam kegelapan pula.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Seseorang menghubungiku! jeritnya dalam hati. Cepat-cepat ditariknya keluar ponsel itu dari dalam saku celananya.

“Hallo?”
“Apa kami bicara dengan Pak Harry?” Suara seorang perempuan. Harry cepat-cepat berdiri dan bersemangat.

“Ya, betul. Maaf ini dengan siapa?” Harry berkata cepat. Napasnya memburu. Siapa pun yang meneleponnya, ia harus cepat-cepat meminta pertolongan. “Bisakah Anda …?”

“Maaf Pak Harry, kalau saya mengganggu Anda. Saya Michelle dari dari Central Vision Credit Card, ingin menawarkan fasilitas kartu diskon kepada Bapak, yang dapat digunakan untuk diskon hotel, tiket penerbangan, restoran, bengkel, derek mobil, salon, klinik …” wanita di seberang sana terus bicara tanpa mendengarkan kata-kata Harry.

“Tolong dengarkan saya sebentar …” Harry memotong.
Wanita itu berhenti bicara. “Ya, kenapa Pak Harry?”

“Saya butuh bantuan Anda sekarang juga. Saya sedang terjebak dalam sebuah lift yang sedang rusak. Saya butuh …”

“Aduh, maaf, Pak … saya …” Wanita di seberang sana tampak ragu-ragu.
Harry mulai panik. “Tolong, please … jangan tutup teleponnya! Tolong dengarkan saya!
Saya butuh bantuan Anda …”

Klik! Harry mendengar telepon ditutup.
“Sial!” Harry menghantam pintu lift dengan kaki kanannya. Ia membanting tasnya ke lantai. Digenggamnya ponselnya kuat-kuat. Hampir saja benda itu dibantingnya ke lantai, kalau tidak tiba-tiba bergetar kembali.

Harry melihat ke layar kecil pada ponselnya. Itu Rue! teriaknya girang.
“Rue …!” teriaknya.
“Harry, kamu ada di mana?”
Harry menarik napas lega. “Rue … untung kamu meneleponku. Aku sekarang ada di …”
Terdengar suara bib-bib-bib menandakan batere ponsel tidak akan bertahan lama. Suara Rue terdengar kesal. “Kenapa kamu tidak balas SMS-ku? Kamu tidak punya pulsa lagi ya …?”

Harry semakin panik. “Rue … dengarkan aku dulu. Aku terjebak …”
Bib-bib-bib! Ponsel Harry tiba-tiba mati. Ia tidak lagi mendengar dengung elektronis dari benda itu. Ia cepat-cepat menghidupkan kembali ponselnya dan menunggu Rue menelepon ulang. Tapi baru beberapa detik, benda itu mati kembali. Baterenya benar-benar tidak kuat lagi.

Sekali lagi Harry berteriak dan menghantam pintu lift dengan kakinya. Kali ini lebih kuat dan lebih keras. Bodoh! hardiknya pada diri sendiri. Seharusnya aku tidak masuk ke lift sialan ini. Seharusnya aku sudah pindah sejak dulu dari apartemen penuh cecurut ini. Seharusnya ia mengikuti nasihat Rue untuk selalu mengisi pulsa ponselnya bila telah habis. Seharusnya ia semalam men-charge batere ponselnya sehingga ia bisa memberitahu Rue keberadaannya.

Tapi semuanya sudah terlambat.

***

Dua minggu kemudian Rue keluar dari flat milik Harry bersama Mr. Cayman, orang yang diberi tanggung jawab mengelola gedung apartemen tua delapan lantai itu.
“Dua minggu yang lalu saya masih bicara dengannya lewat handphone. Tapi kemudian pembicaraan tiba-tiba terputus. Setelah itu saya tidak pernah lagi bisa menghubunginya. Ia juga tidak pernah datang ke kantornya yang baru. Harry seakan-akan lenyap di telan bumi,” kata Rue.

“Saya menerima laporan dari petugas satpam di pintu masuk, bahwa dua minggu terakhir ini Pak Harry tidak pernah lagi terlihat di sini.”

“Tidak ada kabar dari rumah sakit atau polisi?” tanya Rue. Ia mengiringi langkah Mr. Cayman menyusuri koridor. Rue khawatir terjadi apa-apa terhadap Harry. Kecelakaan, misalnya.

“Sayangnya, belum, Nona Rue,” sahut Mr. Cayman simpatik.
Mereka berhenti di tengah-tengah koridor.
“Kalau begitu, saya permisi, Pak Cayman,” kata Rue sambil memberikan kartu namanya. “Kalau ada kabar tentang Harry, tolong hubungi saya di nomor ini.”
Mr. Cayman mengangguk.

“Oya, kenapa liftnya tidak diperbaiki?” Rue menatap tulisan “Out of Order” di pintu lift, tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Tanggung. Beberapa bulan lagi gedung ini akan diruntuhkan.”
“Oya?”

Mr. Cayman mengangguk. “Sampai jumpa, Nona Rue. Tidak apa-apa kan Anda turun sendiri?”

Rue menganggukkan kepalanya kemudian meneruskan langkah. Ketika melewati pintu lift, ia merasakan sesuatu yang aneh. Semacam rasa dingin yang membuat kita menggigil di musim salju. Tapi Rue tidak mengacuhkannya.

***

Tiga bulan kemudian, ketika gedung itu selesai diruntuhkan, seorang pekerja bangunan menemukan sebuah telepon genggam di balik reruntuhan. Walau penuh debu, benda itu tampak masih baik keadaannya. Ia mengantongi benda itu, kemudian meneruskan pekerjaannya.[]

Standard
Journal

Tanah Mati

SECARA mendadak, Amak memintaku pulang. Hari itu juga. Secepatnya.

“Pulanglah,” pinta Amak kedua kalinya di telepon. Kali ini penuh tekanan.

“Ada apa, Mak?” tanyaku gusar. Adakah ini tentang Abak? Apakah Abak akhirnya pergi meninggalkan kami setelah sakit bertahun-tahun?

“Bukan tentang Abak,” sahut Amak seolah bisa menangkap isi kepalaku. “Ini tentang tanah di kampung kita.”

“Kenapa dengan tanah di kampung kita?”

“Mereka telah mati.”

***

Setelah menempuh perjalanan yang makan waktu lebih dari sepuluh jam—sekali dengan pesawat terbang, sekali dengan bus antarkota, sekali dengan taksi, dan terakhir dengan ojek motor—aku akhirnya sampai juga di Kampung Puruak, kampung halamanku. Ketika ojek yang kutumpangi memasuki gapura kampung, hari telah senja. Jalan-jalan sudah lengang, dan lampu-lampu di rumah-rumah sudah dinyalakan.

Dari kejauhan sayup-sayup kudengar suara azan. Tapi waktu kulewati masjid tua di kampung kami, bagian dalam masjid tampak gulita. Sebuah bohlam menyala redup di ujung tangga batunya yang hijau lumut. Tak tampak seorang pun yang datang untuk sembahyang berjamaah.

Semakin masuk ke dalam kampung, aku makin merasa gelisah. Sebagian penduduk sudah duduk terpaku di depan televisi, di ruang tengah masing-masing. Jendela mereka yang tak berkain tampak tembus pandang, sehingga apa saja yang mereka lakukan, terlihat jelas dari luar. Yang tidak punya televisi, pergi ke lapau-lapau, duduk sambil minum kopi dan merokok, atau cuma berdiri di luar, memagut lengan dalam sarung, memelototi televisi yang ditaruh di tempat paling tinggi. Sejauh yang aku lihat, kampungku tak banyak berubah sejak aku pulang terakhir kali empat tahun lalu.

Ojek motor berhenti di depan rumah tua yang dibangun Abak setengah abad silam. Rumah itu, makin lama makin tampak tak terurus, lebih-lebih sejak Naira, adikku satu-satunya menikah dan dibawa suaminya ke Kalimantan. Sekarang pastilah Amak sendirian yang mengurus rumah, mulai dari lumbung padi di depan sampai ke kebun di belakang rumah. Sudah pernah aku sarankan agar Amak membayar pembantu, tapi Amak menolak, dengan alasan dia akan makin cepat tua bila tak banyak bergerak. Aku jadi menyesal karena terlalu sibuk dengan hidupku sendiri di Jakarta. Tiga kali lebaran Idul Fitri, aku malah tidak bisa pulang.

Amak menyambutku di atas jenjang rumah. Wajahnya keruh, tampak lebih tua dari seharusnya. Abak kulihat terbaring lemah di dipan dalam kamarnya, masih seperti empat tahun lalu. Sudah sangat sulit bagi Abak mengenali anaknya sendiri, sekalipun aku sudah meneriakkan namaku keras-keras di pangkal telinganya dan mendekatkan kepalaku sehingga nyaris menyentuh hidungnya. Abak cuma tersenyum tanpa maksud, seolah-olah aku ini tamu yang sedang berkunjung.

“Kenapa Mak memanggilku pulang?”

Aku sadar itu pertanyaan bodoh, tak pada tempatnya. Amak tak ‘kan memaksaku pulang kalau tidak ada hal penting.

“Makan dan istirahatlah. Besok, kita ke ladang, pagi-pagi sekali,” kata Amak penuh misteri. Ladang? Ah, aku semakin penasaran.

***

Aku terbangun ketika matahari sudah tinggi.

“Kenapa Amak tak bangunkan aku untuk salat subuh?” protesku di depan pintu dapur setelah keluar dari kamar mandi.

“Cepatlah sembahyang! Nanti matahari makin tinggi,” sahut Amak tak peduli.

Setelah sembahyang, aku dan Amak turun dari rumah. Kami berjalan menuju ladang milik keluarga yang terletak di batas kampung. Tanah itu luasnya lebih kurang satu hektar, dan sisi utaranya berbatasan langsung dengan ladang milik orang kampung sebelah, Kampung Palimo.

Baru saja beberapa langkah dari rumah, aku langsung melihat ada yang aneh. Ladang Mak Pado, tetangga kami, terbengkalai dalam keadaan menyedihkan. Tanahnya kerontang, bahkan retak di sana-sini. Pohon pisang dan jagung yang dulu tumbuh subur di sana, sekarang tidak ada lagi. Ladang yang kulewati ini gersang, nyaris seperti padang pasir.

“Apa yang telah berlaku? Kenapa ladang Mak Pado seperti ini?” tanyaku pada Amak. Amak diam, meneruskan langkah. Rasa heranku kian membuncah ketika kuputar kepalaku berkeliling. Ya, Tuhan, ladang jagung dan ladang cabai Mak Anjang, yang kini sedang kulewati juga dalam keadaan yang sama. Sama kerontangnya dengan ladang Mak Pado. Begitu pula dengan ladang Mak Saini, kepala kampung kami, dan ladang Ajo Kameih, pedagang sate di pasar. Aku heran, kenapa semalam, waktu aku melewati jalan-jalan kampung, aku tidak melihat semua ini?

Saat langit terang tanah, aku dan Amak sampai di ladang milik kami. Ketika melihat kondisi ladang kami, aku sudah tidak begitu terkejut lagi, karena ini sudah kuduga sebelumnya. Pohon pisang, rambutan dan batang durian yang dulu ada di sana, sekarang sudah tiada. Di tempat dulu pohon durian besar itu tumbuh, sekarang tinggal sebuah lubang besar yang dari dalamnya muncul akar-akar kecil yang sudah kempes seperti pepesan kosong. Tidak kulihat lagi sehelai daun pun, yang pagi-pagi seperti ini biasanya menuai embun.

“Apa yang terjadi, Mak?” tanyaku. Amak belum juga bicara. Ia membawaku ke sisi utara ladang kami yang berbatasan dengan kampung sebelah.

“Yang kaulihat tadi belum terlalu buruk. Coba kauperhatikan baik-baik ke sebelah sana, ke ladang orang-orang Kampung Palimo.” Amak menunjuk ke seberang pagar yang memisahkan ladang kami dengan ladang milik orang-orang Kampung Palimo. Cahaya matahari yang mulai muncul dari langit sebelah timur, menyinari lebatnya daun dan buah ratusan pohon pisang yang mulai menguning. Di sisi sebelah kanan ladang itu, pemiliknya menanaminya dengan lobak besar yang saat itu mulai matang dan cukup umur untuk dipanen. Di bagian sebelah kiri, aku melihat tanaman cabai yang memerahkan tanah coklat basah di bawahnya. Bahkan bisa kudengar suara tetes embun jatuh dari kelopak daun-daun pisang menimpa saluran air di ujung sana. Aku terkesiap. Ini aneh sekali. Bagaimana mungkin sebuah kampung diberi anugerah kesuburan sementara persis di sebelahnya ada kampung yang tanah dan tanamannya kering kerontang? Jika Tuhan memaksudkan ini sebagai hukuman, dosa apa yang telah orang kampung kami lakukan? Lalu, bagaimana caranya Dia akan menjelaskan semua ini melalui otak kami yang kecil dan tak berguna ini?

“Ada apa dengan semua ini, Mak?” tanyaku heran.

“Amak tak tahu, Zal. Karena inilah Amak menyuruh kau pulang,” sahut Amak. Wajah Amak tampak keruh. Setelah itu beliau terdiam, sementara aku masih terheran-heran memandangi keanehan yang terhampar di depan mataku.

“Ini semua terjadi hanya beberapa minggu setelah peristiwa memalukan itu berlaku,” Amak bergumam. “Peristiwa yang semestinya tak terjadi di sini.”

Aku kaget. “Peristiwa apa, Mak?”
Mak menatapku sayu. “Amak akan ceritakan padamu, Zal. Amak akan ceritakan…”

***

Kurang-lebih dua tahun yang lalu, datanglah ke kampung kami seorang lelaki muda, kira-kira seusiaku. Dia seorang lelaki yang sederhana, datang dari seberang lautan, bermaksud mengabdikan hidup untuk beribadah kepada Tuhan. Dia mendatangi masjid tua kami dan mengajukan diri menjadi marbot. Karena masjid tua kampung kami memang tak terurus, lamarannya itu diterima oleh orang-orang kampung. Pemuda itu bernama Amin. Amin saja, tak kurang, tak lebih.

Ternyata, Amin bukan pemuda biasa. Kedatangannya membawa banyak perubahan. Masjid kami yang dulu kotor sekarang menjadi bersih. Masjid kami yang dulu lengang, sekarang mulai ramai didatangi orang-orang untuk sembahyang. Bahkan anak-anak di kampung kami, tak perlu jauh-jauh lagi belajar mengaji, karena Amin sangat fasih membaca Al-Quran dan pandai mendendangkannya. Suaranya merdu melantunkan azan, dan ceramah yang dia berikan menyentuh sampai ke dalam hati. Orang-orang kampung langsung jatuh hati pada pemuda itu. Anak-anak senang belajar padanya, para pemuda dan pemudi senang bergaul dengannya, dan para orangtua merasa tertolong oleh ilmu dan keluasan pengetahuannya akan agama.

“Lalu, datanglah hari celaka itu,” kata Amak.
“Hari celaka apa? Apa yang terjadi?”
“Si Midun datang seperti sedang dikejar-kejar setan, menghampur ke lapau Kak Sani, dan menunjuk-nunjuk masjid kita.”
“Ada apa dengan dia?”

Midun, pemuda pengangguran yang terkenal suka bikin onar di kampung kami, mengaku telah menyaksikan Amin berzina dengan Minah, gadis kampung kami. Dan, menurut Midun, Amin dan Minah melakukannya di dalam masjid!

“Benarkah tuduhan itu?” potongku.

“Tak seorang pun yang tahu. Tak ada seorang pun yang menyaksikan kejadian itu selain si Midun. Yang Mak tahu, orang tua Minah memang berniat mau mengambil Amin jadi menantu.”

“Bagaimana dengan Amin? Apakah dia mengakui perbuatan itu? Bagaimana dengan Minah, apakah dia sudah ditanyai tentang tuduhan itu?”

“Amin tidak sempat memberikan pembelaan apa pun. Para pemuda sudah telanjur terbakar amarah.

Atas perintah si Midun, pemuda-pemuda kampung menyeret Amin ke tengah halaman masjid dan memukulinya sampai pingsan.”

“Ya, Allah…” desisku. “Apa tidak ada yang berani mencegah mereka main hakim sendiri seperti itu?”
“Tak ada yang berani melawan si Midun, Rizal. Kau kan tahu siapa ayahnya.”

Mak Saini, ayah di Midun, adalah orang paling kaya dan paling berkuasa di kampung kami. Si Midun, anak tunggalnya, bertindak seperti raja kecil saja di kampung kami. Orang-orang yang tak suka dengannya, memilih tak menentangnya. Orang-orang yang takut padanya, banyak yang bersedia menjadi kaki-tangannya. Hitam kata si Midun, hitamlah yang berlaku. Putih katanya, putihlah yang terjadi.

Aku mendesah. Kurang ajar sekali.

“Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?”
Kali ini Amak tak langsung menjawab. Amak menundukkan kepalanya tanda duka.

“Si Amin tak diberi ampun. Bahkan ketika pemuda itu melolong minta tolong. Menjelang senja mereka membawanya ke hutan di lereng bukit di utara kampung sana dan menggali lobang sempit seukuran badan.”

“Untuk apa?” tanyaku makin kaget.
“Amin dimasukkan ke lubang itu. Seluruh tubuhnya ditimbun tanah, kecuali kepalanya.”

Kata Amak, mereka sengaja menyisakan kepalanya hanya untuk memastikan pemuda itu masih hidup dan bisa bernapas saat dirinya disiksa.

Amak menangis terisak-isak. Aku bisa menebak ke mana arah cerita Amak selanjutnya. Aku merangkul Amak dan menenangkannya.

“Amak memang tak melihat dengan mata kepala sendiri, Zal. Tapi dari cerita orang-orang, Amak bisa membayangkan apa yang telah mereka lakukan pada pemuda itu.”

Amak tidak menyelesaikan ceritanya karena terlalu bersedih mengingat kejadian itu. Dua hari berikutnya aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi selanjutnya pada Amin. Mak hanya bercerita, bahwa setelah peristiwa itu, kampung kami seperti terkena kutukan. Tanah kering kerontang, seolah mati. Apa saja yang ditanam di atasnya, langsung mati. Beberapa keluarga yang mengandalkan hidup dari pertanian, langsung jatuh miskin. Orang-orang kampung lalu mengaitkan kutukan itu dengan kejadian yang menimpa Amin, pemuda saleh itu. Mereka menyimpulkan diam-diam, bahwa tuduhan zina yang diderakan pada pemuda itu tidak benar. Amin, pemuda saleh itu hanya jadi korban fitnah si Midun, yang ternyata ketahuan jatuh cinta pada Minah. Sejak kejadian itu, masjid kami kembali kosong dan tak terurus. Tak terdengar lagi lantunan ayat-ayat Al-Quran dari dalamnya. Tak terdengar lagi suara hiruk-pikuk anak-anak yang sedang belajar mengaji.

***

Dua bulan berlalu.

Aku kembali sibuk dengan pekerjaanku di Jakarta. Aku sudah berusaha melupakan cerita Amak itu. Tapi, setiap kali menelepon Amak, aku kembali teringat kisah tentang Amin, pemuda saleh itu, yang tak kutahu di mana rimbanya kini.

Semalam, sebuah nomor dari kampung berkedap-kedip di ponselku. Ketika kuangkat, kudengar suara Amak ketakutan di seberang sana.

“Zal, kau harus segera pulang,” pinta Amak.
“Kenapa, Mak?”

“Baru saja datang seorang pemuda baik-baik ke kampung kita dan menyediakan diri untuk mengurus masjid tua kita. Dia pintar berceramah dan pandai mengaji.”

“Baguslah kalau begitu, Mak. Berarti ada yang akan menggantikan si Amin,” sahutku ringan.

“Pandir kau ini, Zal. Apakah kau mau anak muda baik-baik ini juga jadi korban fitnah si Midun nantinya dan mati dirajam orang-orang kampung di lereng bukit? Apa kau mau ada lagi mayat pemuda baik-baik dihanyutkan ke Batang Anau dan tak seorang pun berani menyelamatkan mayatnya yang ditemukan mengapung tersangkut di bendungan di ujung sungai? Kau harus pulang, Zal! Kau harus ada di rumah untuk mencegah kejadian itu terulang kembali. Mak tak mau tanah di seluruh kampung kita akhirnya benar-benar mati.”[]

Standard
Journal

Sebuah Malam Tanpa Hujan

TETESAN air hujan seperti panah-panah bening kecil yang lebur saat menimpa aspal di ruas Jalan Sudirman. Langit kelam karena awan-awan kelabu menutupi langit. Hanya tersisa sedikit celah untuk diterobos cahaya matahari. Hawa dingin berbaur dengan angin, memaksa orang-orang merapatkan jaket dan pakaian hangat ke badan mereka. Payung-payung dikembangkan. Para pria melindungi kepala dengan map atau tas kantor, sembari berlari-lari kecil mencapai halte bus. Saat itu jam pulang kerja, sudah lewat pukul tujuh belas, di minggu pertama di bulan Januari.

Alisya lupa membawa payung. Ia juga tidak ingat membawa sweaternya ketika berangkat ke kantor tadi pagi. Padahal ia sudah menyiapkannya di keranjang dekat pintu. Dan inilah akibatnya. Jilbab dan bajunya basah terkena air hujan. Alisya melompat ke halte, dan ia beruntung dapat sedikit tempat berteduh. Saat merapikan jilbab yang basah, HP-nya bergetar. Dari mamanya, di Bandung. Mamanya kembali bertanya tentang suaminya.

“Belum, Ma,” sahut Alisya. “Alisya tidak apa-apa, kok. Alisya masih di jalan. Mama tenang saja. Alisya janji, masalah ini akan berakhir happy ending.” Pembicaraan itu berakhir. Alisya menarik napas, lalu melepaskannya. “Ya, Allah… kembalikan suamiku,” desisnya dengan mata terpejam.

Ini hari ketujuh Imran pergi dari rumah. Sudah seminggu. Tidak ada telepon, tidak ada SMS. Yang tersisa hanya SMS dari Imran sebelum pergi pagi-pagi tujuh hari yang lalu. Kata-kata penuh kekecewaan. Kata-katanya serasa akan membuat Alisya jatuh pingsan tiap kali mengingatnya kembali. “Aku akan mengambil keputusan yang terbaik untuk kita, tujuh hari dari sekarang. Selama itu, jangan mencoba mencariku.”

Hujan makin deras. Halte itu makin padat dan rapat. Kristal di mata Alisya pecah kembali. Hari pertama Imran pergi ia masih kuat. Tinggal sendirian di rumah, tidak mengapa baginya. Toh, bertahun-tahun sebelum menikah, ia sudah biasa hidup jauh dari keluarganya. Hari kedua Alisya masih tenang-tenang saja. Ia ke kantor dan sempat melupakan pertengkarannya dengan Imran karena sibuk dengan deadline tugas-tugasnya di kantor. Tapi pada hari ketiga, ketika mendapati dirinya bangun sendirian di ranjang mereka, Alisya mulai gelisah. Hatinya tidak tenang dan ia mulai dirundung ketakutan. Ia duduk lama sekali di teras, tempat suaminya biasa minum kopi sambil membaca koran pagi. Bermenit-menit ia melamun dan berharap-harap suaminya akan muncul membuka gerbang dan memeluknya.

Hari ketiga itu ia sibuk mengirim SMS dan menghubungi HP Imran via telepon kantor. Tapi dua-duanya gagal. Pesannya tidak masuk dan panggilan ke nomor HP Imran selalu dijawab voice mail. Kegelisahannya makin menjadi-jadi setelah ia menanyai Iqbal, teman sekantor suaminya. Kata Iqbal, Imran mengambil cuti selama seminggu. “Saya pikir kalian sedang di Bali, bulan madu lagi,” kata Iqbal setengah bercanda. Hari ketiga itu Alisya kembali mendapati rumah mereka kosong. Ketika malam tiba, ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata.

***

Semuanya bermula karena sebuah SMS. SMS seseorang dari masa lalu. Suatu siang HP Alisya menerima sebuah pesan singkat. “Apa kabar, Ummi? Masih ingat Abi, nggak? Besok Abi ada di Jakarta. Urusan kantor. Eh, Abi belum jadi nikah, belum ada jodoh, sih. Sudah punya baby? Pasti cantik, ya, kayak umminya.”

Walau tidak menyebut nama, Alisya tahu siapa pengirim SMS itu. Sejak dulu, cuma ada satu orang yang memanggilnya ‘ummi’ dan menyebut dirinya ‘abi’. Alisya tersenyum. Ferry… Bang Ferry, mantan pacarnya yang ia dengar kerja di Singapura. Hmm… dibalas tidak, ya? Alisya ragu. Ah, sekadar ber-say hello saja masa nggak boleh sih? pikirnya kemudian.

Alisya membalas SMS Ferry. Mereka bertukar kabar dan itu mengingatkan Alisya akan banyak hal di masa lalu. SMS-SMS-an itu berlanjut sampai saat bubaran kerja. Alisya membalasnya setengah harap setengah takut. Ini selingkuh nggak, sih? tanyanya pada dirinya sendiri.

Dan malapetaka datang ketika sebuah SMS masuk saat Alisya akan berangkat tidur malam itu.

“Ummi kangen nggak sih sama Abi? Kapan-kapan boleh kan ya, Abi telepon ke kantor Ummi?”

Alisya kaget. Ia tak menyangka Ferry akan mengirim SMS malam-malam begini. Padahal mereka sudah janji. Ketika Alisya membaca SMS itu, suaminya keluar dari kamar mandi.
“Dari siapa, Al?” tanya Imran. Ia naik ke ranjang membawa buku dan mulai membaca.
“Bukan siapa-siapa, Mas. Cuma teman lama,” sahut Alisya tenang.

Nada suara Alisya yang canggung membuat Imran mengalihkan matanya dari buku. “Teman lamamu kan banyak,” katanya.

Alisya terdiam dan tampak menghindar. Ia tidak ingin menyebut nama Ferry. Suaminya tahu cerita masa lalunya dengan Ferry.

Dan sikap Alisya itu justru membuat Imran jadi curiga. “Sini HP-nya,” katanya meraih HP dari tangan Alisya. Dan lelaki itu sangat kaget ketika membaca pesan-pesan yang tersimpan di sana. Wajah Imran mendadak merah karena marah. Pertengkaran malam itu tak bisa dicegah…

Sesungguhnya, sejak membalas SMS Ferry yang pertama tadi pagi, Alisya sadar itu tidak boleh dilakukannya. Tapi godaan itu, rasa itu, seakan coba merayunya. Ia mengucap kalimat ampunan pada Allah berkali-kali. Alisya sadar, dirinya baru saja membuka celah perselingkuhan, celah pengkhianatan, celah dosa, celah ketidaksetiaan. Dia bukan gadis lagi, dia sudah punya suami. Lelaki lain tak berhak memeroleh perhatian darinya melebihi perhatiannya pada Imran.

Alisya cepat-cepat menetralisir masalah. Tapi percuma, Imran sudah membaca semua SMS Ferry yang lupa dihapus Alisya. Alisya cepat-cepat berkilah bahwa ia membalas SMS itu sekadar menghargai teman lama.

“Menghargai teman lama? Dengan topik kangen-kangenan seperti ini?” sentak Imran. “Bisa-bisanya kamu berbuat begitu! Jangan-jangan selama ini kamu selingkuh dengan Ferry di belakangku! Kamu menyesal ya, tidak jadi menikah dengannya?”

Alisya terisak. Ia berusaha meraih tangan suaminya dan mau menciumnya, tapi Imran menepisnya.

“Alisya minta maaf, Mas. Tapi Alisya tidak selingkuh dengan siapa pun!”

Imran melompat dari tempat tidur. Lagaknya membuat Alisya khawatir. “Memang tidak, tapi coba lihat SMS-SMS ini. Kata-katanya penuh gairah dan sarat dosa! Kamu munafik! Kamu tidak bisa dipercaya. Sudah berapa banyak perselingkuhan yang kamu lakukan di belakangku?”

Alisya turun dari tempat tidur dan berlutut di lantai. “Demi Allah, Mas. Sejak kita menikah, Alisya tidak pernah lagi memikirkan lelaki lain. Cuma Mas Imran yang ada dalam hati Alisya. Cuma Mas satu-satunya.”

“Oh ya? Lantas bagaimana kamu menjelaskan SMS-SMS ini?”
“Tapi itu kan kata-kata Ferry, bukan kata-kata Alisya.”
“Pendusta! Kalau kamu memang menghargai aku sebagai suami, seharusnya kamu tidak memberikan nomormu pada mantan pacarmu itu!”

Imran mengambil kunci mobil dan pergi dari rumah. Ia tidak kembali sampai pagi tiba. Ketika Alisya sedang membuat sarapan, Imran pulang dengan mata bengkak dan merah. Alisya semakin merasa bersalah. Setahunya Imran bukan lelaki peminum, tapi jika itu dilakukannya karena pertengkaran ini, Alisya benar-benar tidak akan bisa memaafkan dirinya. Imran tidak bicara apa pun pagi itu. Ketika Alisya sampai di kantornya ia menerima SMS itu. “Aku akan mengambil keputusan yang terbaik untuk kita, tujuh hari dari sekarang. Selama itu, jangan mencoba mencariku.”

Sejak pagi itulah Imran pergi meninggalkan rumah dan belum kembali, sampai hari ini.

***

Senja kian rapat. Halte tempat ia berdiri sudah sepi. Alisya tak hendak beranjak dari sana. Tak disadarinya kalau hujan rupanya sudah lama berhenti. Sebuah taksi lewat dan Alisya menghentikannya.

Selama perjalanan Alisya terbenam lagi dalam lamunan. Selama tujuh hari ini, di manakah Imran berada? Imran jelas tidak sedang di Jakarta. Dia pasti di luar kota. Mungkin pulang ke rumah orangtuanya di Palembang. Muncul keinginan di hati Alisya untuk menelepon ke Palembang, tapi Mama Imran tak boleh tahu masalah mereka. Mama Imran sangat menyayangi Alisya.

Rumah sepi. Imran ternyata belum kembali juga. Suasana rumah mencekam. Biasanya, kalau Alisya pulang terlambat, lampu-lampu sudah dihidupkan. Kalau mereka sedang dalam damai, Imran akan membukakan pintu, tersenyum padanya, mengambil alih tasnya, lalu memeluknya dengan mesra. Sekarang ia merasa kehilangan. Ia menyesal atas semuanya. Imran mungkin sudah benar-benar pergi.

Dengan putus asa Alisya masuk ke dalam pekarangan mereka yang kecil kemudian duduk di kursi teras, di bawah gelap. Ia menangis terisak-isak di sana.

Imran lelaki yang baik. Di mata Alisya, Imran adalah sosok pejuang. Dari kecil suaminya itu sudah menjalani hidup yang keras. Ayah Imran menikah lagi ketika Imran masih kelas dua SMP. Sejak itu, mama Imran lalu pontang-panting membiayai sekolah Imran dan ketiga adiknya. Sebagai anak sulung, Imran ikut andil mengasapi dapur keluarga. Ia mulai belajar bekerja. Dari mulai tukang semir sepatu, pelayan di kedai foto dan jadi penjual koran di lampu merah. Ketabahan hatinya dalam menjalani hidup itulah yang membuat Alisya jatuh hati. Ia yakin, Imran akan bisa jadi suami yang baik. Dugaannya tidak meleset. Imran sangat baik, tapi dari segi materi dia belum bisa diandalkan.

Satu setengah tahun waktu yang sebentar untuk menilai sebuah pernikahan. Ibu Alisya pernah berkata, akan banyak badai dan gelombang besar di tahun pertama dan kedua sebuah pernikahan. Pasangan yang kuat menjalani dua tahun penuh badai itu, akan bisa bertahan sampai tua. Yang tidak kuat atau menyerah, akan kandas tenggelam. Alisya ingin jadi istri yang tabah dan kuat. Ia merasa kecemburuan Imran cuma bentuk lain dari kekecewaannya pada ayahnya dan masa lalunya yang kurang beruntung. Entah kenapa, Alisya merasa, Imran akan kembali padanya. Perselingkuhannya tidak benar-benar pernah ada. Ia hanya terjebak ke dalam perangkap yang dibuat Imran. Tapi ia akui, ia juga salah.
Alisya bangkit dan mengeluarkan kunci untuk membuka pintu. Perasaannya terasa hampa saat menatap kegelapan ruang tamu keluarganya. Akankah malam-malamnya akan terus begini? tanyanya dalam hati. Ketika ia membuka pintu kamar dan menjangkau kontak lampu, sebuah tangan meraih pinggangnya dan menarik tubuhnya ke ranjang yang tak terlihat. Alisya hendak berteriak minta tolong tapi mulutnya dibekap sehingga suaranya tak bisa keluar.

Wajah Alisya pucat pasi membayangkan apa yang akan menimpa dirinya. Tak terpikir olehnya rumahnya akan dimasuki perampok yang kini berniat memerkosanya. Muncul kembali di benaknya artikel-artikel tentang perkosaan yang sering ia tulis di majalahnya. Ia tidak mau. Ia tidak ingin ikut jadi korban!

Sekuat tenaga Alisya berusaha meronta dan berupaya melepaskan diri sekuat tenaga dari dekapan penyerangnya. Tapi… dalam pergumulan mereka, sesuatu membuatnya berhenti melawan. Aroma tubuh lelaki dalam gelap itu begitu akrab di penciumannya. Juga desah napas yang memburu di atas tubuhnya, begitu dikenalnya. Dengan yakin, Alisya menghentikan perlawanannya lalu memasrahkan dirinya pada lelaki itu.

Malam itu sama sekali tidak turun hujan.[]

Standard