Journal

Di Bawah Bendera Merah, Mo Yan, 2013


SAYA merasa agak rendah diri mau membahas buku Pemenang Hadiah Nobel Sastra 2012 ini. Soalnya, para suhu dan senior saya sudah sangat dalam mengulasnya, di antaranya bisa Anda tengok di Artefak Kenangan Mo Yan oleh Damhuri Muhammad, atau ulasan yang apik dari Hernadi Tanzil di “Di Bawah Bendera Merah by Mo Yan“.
Yang ingin saya sampaikan tentang buku ini, bahwa perjalanan hidup Mo Yan, yang berangkat dari masa-masa kecil dan remajanya yang sulit, tetap bisa menjadi kisah yang menarik. Nyaris tak ada kata-kata sulit yang tak terpahami; semuanya diungkapkan dengan kata-kata dan kalimat yang sederhana, tak berbelit-belit (juga tak bergenit-genit dengan diksi). Perasaan cinta, getar-getir pengungkapannya, dan bagaimana semua kegalauannya terselesaikan, juga diungkapkan dengan enak. Akhir kisah Mo Yan dan Lu Wenli, si gadis yang diam-diam dia cintai, juga berakhir sangat wajar: tanpa drama seperti telenovela, tanpa air mata.
Tentu, bukan sisi ini saja yang membuat karya Mo Yan ini merebut penghargaan paling bergengsi di panggung sastra dunia, dan berhak atas hadiah uang sekitar 12 miliar rupiah. Mo Yan, lagi-lagi dengan santai membawa sosok sebuah truk Gaz 51, sebuah truk militer buatan Soviet, truk yang dipakai oleh tentara Cina semasa perang, menjadi sosok yang sangat hidup, bahkan menjadi urat nadi cerita dari awal hingga akhir.
Akan truk Gaz 51 ini, saya jadi teringat pada kata-kata Melquiades, tokoh gipsi di pembukaan novel One Hundred Years of Solitudekarya Gabriel Garcia Marquez, “Tiap benda memiliki hidupnya sendiri, persoalannya hanyalah bagaimana membangunkan jiwa mereka.” Bagi Mo Yan–juga bagi semua anak lelaki lain di desa kelahirannya–truk Gaz 51 adalah benda impian yang dibawa-bawa sampai ke tempat tidur, tidak hanya membuat decak kagum, tapi menjadi hasrat yang terbawa-bawa sampai mereka dewasa. Dan itu terbukti pada teman masa kecil Mo Yan lainnya, He Zhiwu.
Sayangnya, novel otobigrafis setebal 140 halaman ini terlalu “pelit” mengungkap proses kreatif sang pengarang. Mo Yan sedikit sekali bercerita tentang proses kreatif kepengarangannya, terutama bagaimana novel-novelnya yang sangat terkenal, dilahirkan. Mungkin Mo Yan tak ingin rahasia dapurnya terdedah terlalu banyak ke ruang publik, atau memang dia punya alasan lain yang belum kita ketahui. Lepas dari itu semua, buku ini sangat saya rekomendasikan.[]
Data Buku:
Judul: Di Bawah Bendera Merah
Penulis: Mo Yan
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penerbit: PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Juli 2013
Tebal: 140 hlm
Standard
Journal

Karnaval Kehilangan Haruki Murakami


BENAR sudah apa yang dikatakan Virginia Quarterly Review saat mendeskripsikan novel-novel Haruki Murakami: “mudah dimengerti, namun dalam dan kompleks.” Meski baru membaca dua bukunya, saya setuju dengan pendapat itu. “Dengarlah Nyanyian Angin”, yang memenangi Gunzo Literary Award tahun 1979 adalah buku Murakami pertama yang saya kunyah-kunyah (akan saya ulas pula di lain kesempatan). Tuntas dengan buku itu, saya kemudian melahap habis “Norwegian Wood”, buku yang sebenarnya sudah cukup lama diterbitkan terjemahan Indonesianya (KPG, Juli 2005), namun baru sempat saya baca baru-baru ini.
Toru Wanatabe, karakter utama dalam novel ini adalah anak muda Jepang yang berteman dengan Kizuki, dan juga pacar Kizuki yang bernama Naoko. Setelah Kizuki mati bunuh diri, Naoko belakangan dekat dengan Wanatabe dan keduanya saling jatuh cinta. Namun, karena kondisi kejiwaan Naoko yang tak terlalu stabil, mereka terpaksa berpisah kota, dan itu menyakitkan buat keduanya, terutama Naoko. Sementara berusaha menekan rasa hampa karena ketiadaan Naoko, Wanatabe bertemu Midori, gadis sekampusnya, yang kemudian jatuh cinta setengah mati pada pemuda pendiam yang bekerja paruh waktu di sebuah toko penyewaan piringan hitam itu.
Karakter-karakter yang muncul dalam Norwegian Wood adalah karakter-karakter sunyi dan mendung. Hanya Midori yang terlihat ceria, meski sebenarnya Midori punya beban tak kalah rumit yang dibawa-bawanya setiap hari; sakit dan kematian ayahnya, juga kekasihnya yang tak bisa membuatnya bahagia seperti harapannya. Sepanjang membaca novel ini, saya membayangkan suasana Tokyo yang redup, jaket-jaket musim dingin, salju yang menempel di jendela, dan bibir-bibir yang pucat menahan dingin. Wanatabe adalah pemuda tertutup, pilih-pilih teman, penyendiri, menyukai musik dan buku, dan sangat percaya pada kata hatinya sendiri. Novel ini kian sendu karena tiga tokohnya bunuh diri; Kizuki, Naoko, dan Hatsumi (kekasih Nagasawa, teman Wanatabe yang doyan tidur dengan perempuan).
Novel ini banyak mengulas buku yang dibaca, penulis yang digemari, dan juga musik yang didengarkan Wanatabe. Haruki Murakami memang seorang penyuka musik. Entah terkait entah tidak dan mungkin karena itu pula novel ini diberi judul “Norwegian Wood”, satu tembang yang ditulis John Lennon dipopulerkan oleh The Beatles. Dalam cerita, lagu ini sangat disukai Naoko yang di sebuah pusat rehabilitasi berteman dekat dengan Reiko Ishida yang pandai bermain musik dan sering menyanyikan lagu ini untuk Naoko–dan belakangan untuk Wanatabe.
Ruang-ruang gelap dan dingin dalam buku ini memuncak saat Naoko bunuh diri di sebuah hutan yang sepi dan Wanatabe yang uring-uringan menggelandang dan melecut-lecut batinnya sendiri dari satu kota ke kota lain demi “melarikan diri” dari kesedihannya setelah kematian Naoko. Novel ini bicara tentang banyak sekali kehilangan. Kehilangan demi kehilangan yang sepertinya hanya orang yang kehilangan saja yang bisa memahami betapa sakitnya ketika sesuatu dicerabut dari diri mereka.
Saya tak tertarik mengulas kehilangan-kehilangan yang dihadirkan dalam novel ini lebih jauh, karena saya bukan pengulas yang baik. Sebagai penulis, ada banyak yang bisa saya pelajari dari gaya menulis Haruki Murakami terutama “Norwegian Wood”, dan sayangnya saya tidak bisa mengungkapkannya di sini. Saya kini sedang berjuang mendapatkan buku-buku Murakami lainnya, mudah-mudahan yang berbahasa Inggris. Oh, ya, saya juga sudah nonton versi film dari novel ini (terima kasih YouTube!), dan berniat membandingkan keduanya suatu hari nanti.[]
Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Terbit: Mei 2013, (Cetakan ke-4)
Tebal: 426 hal.
Standard
Journal

Benny Arnas dan Ceruk-Lekuk Lubuk Linggau dalam Kisah*

1
Lubuk Linggau, daerah kelahiran Benny Arnas, punya kenangan tersendiri di benak saya. Di masa Pak Harto masih berkuasa, Lubuk Linggau adalah daerah yang suka atau tidak-suka dicap sebagai daerah rawan oleh sebagian kami—orang Sumatera Barat—para penumpang bus yang ingin menuju Jakarta. Masih bisa saya ingat, sekitar tahun 1998, bus Gumarang Jaya (berangkat dari Bukittinggi menuju Jakarta) dilempari batu oleh sekelompok pemuda yang mengendarai kijang pick-up, di salah satu kelokan di Lubuk Linggau. Horor yang diakibatkan oleh peristiwa itu masih saja membuat saya bergidik sampai sekarang bila melintasi daerah itu, meskipun sekarang sudah jarang terdengar ada kendaraan yang dilempari batu.

2
Saya awalnya mengira, saya belum sekalipun bertemu Benny Arnas.
Saya sangat yakin akan hal itu karena seingat saya, kami memang belum pernah berjumpa. Saya mengenal Benny Arnas sebagai Ketua FLP Lubuk Linggau—dan dua tahun terakhir sebagai cerpenis yang kerap muncul namanya di rubrik sastra dan budaya koran-koran nasioanl. Dan—mungkin—Benny mengenal saya sebagai salah satu orang yang duduk di kepengurusan Pusat FLP. Sebelihnya, saya mengira, Benny mungkin tidak tahu saya juga seorang penulis cerpen, sebab saya memang mandul menulis cerita, terutama sekali untuk dikirim ke koran. Cerpen-cerpen saya beberapa waktu terakhir, dimuat di media yang identik dengan Islam, yang pembacanya mungkin tak seluas koran-koran Ibu Kota.

Namun, terpaksa saya membuka kartu, betapa malunya saya ketika Benny mengatakan bahwa kami berjumpa pertama kali justru tahun 2003, tepatnya tanggal 9 Juli. Hari itu adalah hari pernikahan saya dengan istri saya, dan Benny Arnas adalah salah satu anggota tim nasyid yang diundang dalam helat pernikahan saya itu. Alamak, sungguh saya merona karena malu. Pastilah Benny mengira saya mulai uzur. Dasar pelupa, memang.

3
Terus terang, saya belum banyak membaca karya-karya Benny Arnas, yang sejak dua tahun masa kepengarangannya, sudah berhasil memuat lebih kurang 100 cerpen di pelbagai media dan antologi bersama. Buat saya, angka 100 itu pencapaian yang luar biasa. Tak banyak pengarang di Indonesia, dalam masa dua tahun, bisa menerbitkan ceritanya sebanyak itu. Jadi, bisalah kita sebut, Benny, yang belum berkepala tiga ini, sebagai penulis prolifik.

Satu-dua cerita pendek Benny pernah saya baca, entah melalui situs cerpen atau koran, dan awalnya saya jarang sekali menuntaskannya. Ada dua sebab sebenarnya. Pertama, saya terbiasa dengan cerpen-cerpen dari penulis yang sudah saya kenal. Kedua, cerpen Benny banyak memuat diksi yang baru dan asing. Yang terakhir ini—tidak hanya terjadi pada cerpen Benny, tapi juga cerpen-cerpan lain dari penulis lain—sering menyebabkan saya sering terpaksa berhenti membaca di tengah-tengah paragraf untuk kemudian mencari-cari arti kata yang dimaksud melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia atau Google. Tentu saja, membaca dengan kondisi terganggu seperti itu sama sekali tidak nyaman.

4
Buku Kumpulan Cerpen “Bulan Celurit Api” berisi 13 buah cerita pendek, yang semuanya memang tampak terang disengaja Benny untuk mengangkat Lubuk Linggau ke dalam kisah. Tepatlah kiranya bila Benny memang sangat berniat mengangkat isu lokal kampung halamannya ke dalam kancah kepengarangannya.

Isu lokal itu terasa kian kuat ketika Benny berusaha keras mengangkat tiga kisah legenda kampung halamannya itu ke dalam cerpen “Bujang Kurap” dan “Kembang Tanjung Kelopak Tujuh”. Di dua cerpen ini, pengarang bahkan ingin menjelaskan nyata-nyata kepada pembaca, bahwa legenda ini layak dikenang bagai legenda lain di daerah lain yang mungkin sudah menjadi kisah turun-temurun sejak lama. Dan menurut saya, Benny telah melakukan hal yang benar dengan menuliskannya buat kita.

Keseluruhan cerpen dalam cerita ini, membuat—setidaknya saya—kembali tersendat-sendat. Benny menggunakan kata yang tak biasa untuk mengungkapkan beberapa benda, istilah, julukan. Kata-kata itu indah, dan pas. Terutama sekali, menjadi kosakata baru buat pembaca ketika Benny menggunakan istilah-istilah lokal dalam cerpen-cerpennya.

Namun, bisa jadi, ketersendatan saya itu, sebabnya adalah karena memang sayalah yang kurang banyak mengenal kosakata dalam bahasa Indonesia. Namun saya khawatir Benny agak terpancing/terjebak pada apa yang dikatakan orang sebagai “bergenit-genit dengan diksi”. Banyak penulis pemula dan tidak-pemula, yang berpayah-payah melakukan itu hanya untuk memikat dan membuat pembaca mereka terpacak kagum dan mendecas pada kata-kata sulit dan kalimat-kalimat sukar seperti belikar yang mereka gunakan.

Cobalah lihat kata-kata atau kata beriumbuhan seperti menugal, tarup, ambal, pangkur, terindak, singup, dacing, jangak, kajat, atau memirik? Apakah akrab di telinga, atau merasa perlu membuka kamus untuk tahu artinya?

Itulah yang saya maksudkan.

5
Saya akan mengambil hak saya untuk mengatakan bahwa cerpen “Bulan Celurit Api” tidak tepat dijadikan sebagai judul yang mewakili kumpulan cerita pendek ini. Tapi bukan hak saya untuk mencari tahu apa alasan sebaliknya yang digunakan Benny atau penerbit untuk mengunggulkan cerpen ini.

Kalaulah saya seorang juri, dan cerpen-cerpen Benny Arnas dalam buku ini adalah karya yang dilombakan, saya akan memilih “Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan” sebagai juara. Ya, benar, itu pasti persoalan selera. Tapi izinkan saya memberi alasan.

Cerpen yang judulnya sangat panjang ini mendedah banyak keperihan lokal yang menurut saya layak diketahui orang banyak. Entah ini fakta yang difiksikan oleh Benny, cerita ini mengungkap ketidakberdayaan rakyat kecil berhadapan kesewenang-wenangan sistem yang kebetulan dikendalikan oleh para toke dan tukang dacing (tukang timbang). Digembosinya ban truk para pemburu dan akibatnya vonis potongan harga getah para yang dimainkan seenaknya oleh tukang dacing, adalah gambaran hukum rimba yang tidak hanya terjadi di pedalaman Lubuk Linggau atau Sumatera Selatan, tapi terjadi di seluruh negeri. Dan di tengah sistem yang bobrok itu, Mak Atut tetap mempertahankan tradisi luhur yang pasti tidak ia dapatkan begitu saja: kejujuran adalah segala-galanya.

6
Paling tidak, dalam kumpulan ini, ada tiga cerita yang tokoh-tokohnya mengalami kondisi yang seragam: janda atau tak lagi bersuami, yaitu Mak Muna dalam “Bulan Celurit Api”, Mak Atut dalam ““Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan” dan Mak Zahar dalam “Hari Matinya Ketib Isa”. Benny menempatkan ketiga perempuan ini sebagai janda dan segenap persoalan yang mereka hadapi tanpa seseorang tempat melabuhkan kesedihan dan persoalan hidup.

Dalam cerpen-cerpen lainnya, Benny juga memosisikan tokoh utama (yang perempuan) dalam kondisi yang tak mencecap keadilan. Dalam “Malam Rajam”, Benny memotret perilaku majikan (dan anak-anaknya) terhadap kemanusiaan seorang pembantu yang sering mereka jadikan babu dan budak ranjang. Tentu saja, ini menjadi salah satu cerpen—yang menurut saya—tidak mengangkat isu lokal dan menjadikannya tidak terlalu istimewa, karena hal serupa kerap terjadi di tempat dan waktu yang lain.[]

*) adalah pengantar dalam Peluncuran dan Diskusi Buku “Bulan Celurit Api” karya Benny Arnas, di Rumah Cahaya Depok, 27 November 2010

Foto-foto: Anna Noor

Standard