Journal

Karnaval Kehilangan Haruki Murakami


BENAR sudah apa yang dikatakan Virginia Quarterly Review saat mendeskripsikan novel-novel Haruki Murakami: “mudah dimengerti, namun dalam dan kompleks.” Meski baru membaca dua bukunya, saya setuju dengan pendapat itu. “Dengarlah Nyanyian Angin”, yang memenangi Gunzo Literary Award tahun 1979 adalah buku Murakami pertama yang saya kunyah-kunyah (akan saya ulas pula di lain kesempatan). Tuntas dengan buku itu, saya kemudian melahap habis “Norwegian Wood”, buku yang sebenarnya sudah cukup lama diterbitkan terjemahan Indonesianya (KPG, Juli 2005), namun baru sempat saya baca baru-baru ini.
Toru Wanatabe, karakter utama dalam novel ini adalah anak muda Jepang yang berteman dengan Kizuki, dan juga pacar Kizuki yang bernama Naoko. Setelah Kizuki mati bunuh diri, Naoko belakangan dekat dengan Wanatabe dan keduanya saling jatuh cinta. Namun, karena kondisi kejiwaan Naoko yang tak terlalu stabil, mereka terpaksa berpisah kota, dan itu menyakitkan buat keduanya, terutama Naoko. Sementara berusaha menekan rasa hampa karena ketiadaan Naoko, Wanatabe bertemu Midori, gadis sekampusnya, yang kemudian jatuh cinta setengah mati pada pemuda pendiam yang bekerja paruh waktu di sebuah toko penyewaan piringan hitam itu.
Karakter-karakter yang muncul dalam Norwegian Wood adalah karakter-karakter sunyi dan mendung. Hanya Midori yang terlihat ceria, meski sebenarnya Midori punya beban tak kalah rumit yang dibawa-bawanya setiap hari; sakit dan kematian ayahnya, juga kekasihnya yang tak bisa membuatnya bahagia seperti harapannya. Sepanjang membaca novel ini, saya membayangkan suasana Tokyo yang redup, jaket-jaket musim dingin, salju yang menempel di jendela, dan bibir-bibir yang pucat menahan dingin. Wanatabe adalah pemuda tertutup, pilih-pilih teman, penyendiri, menyukai musik dan buku, dan sangat percaya pada kata hatinya sendiri. Novel ini kian sendu karena tiga tokohnya bunuh diri; Kizuki, Naoko, dan Hatsumi (kekasih Nagasawa, teman Wanatabe yang doyan tidur dengan perempuan).
Novel ini banyak mengulas buku yang dibaca, penulis yang digemari, dan juga musik yang didengarkan Wanatabe. Haruki Murakami memang seorang penyuka musik. Entah terkait entah tidak dan mungkin karena itu pula novel ini diberi judul “Norwegian Wood”, satu tembang yang ditulis John Lennon dipopulerkan oleh The Beatles. Dalam cerita, lagu ini sangat disukai Naoko yang di sebuah pusat rehabilitasi berteman dekat dengan Reiko Ishida yang pandai bermain musik dan sering menyanyikan lagu ini untuk Naoko–dan belakangan untuk Wanatabe.
Ruang-ruang gelap dan dingin dalam buku ini memuncak saat Naoko bunuh diri di sebuah hutan yang sepi dan Wanatabe yang uring-uringan menggelandang dan melecut-lecut batinnya sendiri dari satu kota ke kota lain demi “melarikan diri” dari kesedihannya setelah kematian Naoko. Novel ini bicara tentang banyak sekali kehilangan. Kehilangan demi kehilangan yang sepertinya hanya orang yang kehilangan saja yang bisa memahami betapa sakitnya ketika sesuatu dicerabut dari diri mereka.
Saya tak tertarik mengulas kehilangan-kehilangan yang dihadirkan dalam novel ini lebih jauh, karena saya bukan pengulas yang baik. Sebagai penulis, ada banyak yang bisa saya pelajari dari gaya menulis Haruki Murakami terutama “Norwegian Wood”, dan sayangnya saya tidak bisa mengungkapkannya di sini. Saya kini sedang berjuang mendapatkan buku-buku Murakami lainnya, mudah-mudahan yang berbahasa Inggris. Oh, ya, saya juga sudah nonton versi film dari novel ini (terima kasih YouTube!), dan berniat membandingkan keduanya suatu hari nanti.[]
Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Terbit: Mei 2013, (Cetakan ke-4)
Tebal: 426 hal.
Standard
Notes

Sepasang Sepatu yang Ragu-Ragu

ia hanya sepasang sepatu
datang dari tempat yang jauh
berkilometer panas, lumpur, dan debu,
arah tak tentu
aus tapaknya, juga lusuh
mengusung langkah sepasang kaki yang sudah lama mati-nafsu

ia hanya sepasang sepatu,
kini berdiri di tubir waktu
tak ada lagi langkah maju
kecuali jatuh

ia hanya sepasang sepatu
kini menunggu
ke mana sepasang kaki mau menuju

~ tanah baru, 2013

Standard
Journal

Mudik 2013: 1380 Kilometer Nan Lancar

TAHUN ini, untuk pertama kalinya saya mudik ke kampung halaman saya, Payakumbuh dengan menyetir kendaraan sendiri, bergantian dengan seorang keluarga jauh yang saya minta menemani. Menyetir sendiri siang-malam sejauh 1380 kilometer melewati hutan-hutan sepi di sepanjang lintas Sumatera tentu bukan pilihan yang bijak, apalagi saya mengajak anak-istri dan seorang ponakan.

Berangkat dari Depok pada Selasa malam 30 Juli 2013 pukul 19.00 WIB, kami sampai dengan selamat di kampung halaman pada Kamis pukul 11.30 WIB. Itu berarti sekitar 40,5 jam perjalanan. Menggunakan sebuah SUV Toyota bermesin 1500 cc, saya menghabiskan sekitar Rp 870 ribu untuk bensin (+/- 133 liter, diisi ulang 3 kali selama perjalanan). Untuk tol sekitar Rp 50.000, untuk bayar kapal ferry Rp 275 ribu, dan untuk makan selama perjalanan sekitar Rp 300 ribu. Bila dihitung total jenderal, biaya perjalanan “hanya” sekitar Rp 1.500.000 saja. Uang segitu setara dengan tiket pesawat Jakarta – Padang untuk satu orang. Lumayan hemat, kan?

Saya memilih rute Lintas Tengah Sumatera, yaitu:

Pelabuhan Bakauheni
Bandar Jaya
Martapura
Baturaja
Muara Enim
Lahat
Tebing Tinggi
Lubuk Linggau
Sarolangun
Bangko
Muara Bungo
Darmasraya
Sijunjung
Payakumbuh

Di antara kota-kota/kabupaten-kabupaten di atas, yang paling rawan kejahatan adalah Lahat dan Lubuk Linggau, tapi alhamdulillah saat melintasi kawasan itu, kami lewat tanpa halangan apa pun juga. Di antara kota-kota di atas, yang paling parah kondisi jalannya adalah Bandar Jaya. Sebagian besar jalan di daerah ini tidak layak. Sementara kota-kota lainnya kondisi jalannya mulus.

Di pintu tol Jakarta Merak

Di pintu tol Jakarta Merak

Pintu masuk Pelabuhan Merak.

Pintu masuk Pelabuhan Merak.

Rehat sejenak di SPBU Bandar Jaya.

Rehat sejenak di SPBU Bandar Jaya.

Melintasi Lintas Tengah Sumatera yang masih lengang.

Melintasi Lintas Tengah Sumatera yang masih lengang.

Masjid Al-Ikhwan Sungai Rumbai Jambi. Perhentian terakhir sebelum kampung halaman.

Masjid Al-Ikhwan Sungai Rumbai Jambi. Perhentian terakhir sebelum kampung halaman.

Standard
Journal

Saya dan Hikayat Sebuah Mesin Jahit Tua

MALAM ini, entah kenapa, kepala saya dipenuhi gambar-gambar mesin jahit. Bukan mesin jahit yang sudah modern dan canggih seperti yang dipakai orang sekarang, tapi mesin jahit tua, dengan sabuk dan pedal, dengan bau minyak dan aroma kainnya. Tiba-tiba saya merasa harus menyampaikan sebuah kisah pada Anda.

Saya—sedikit atau banyak—hidup bersama mesin jahit. Waktu balita, saya dan kakak lelaki saya sering dibawa ke kedai oleh ayah saya yang seorang tukang jahit. Bukan perjalanan wisata tentunya, karena hampir tiap hari kami dibawa ke kedai. Bukan perjalanan wisata namanya kalau dilakukan setiap hari, bukan? Itu semacam pembagian tugas antara Ibu dan Ayah, karena saat itu kami belum punya pembantu yang bisa menjaga kami di rumah.

Tiap hari (kecuali hari Minggu), begitu lelah bermain benang atau perca kain, saya atau kakak saya, tidur siang di kolong meja gunting. Meja gunting adalah sebutan Ayah untuk sebuah meja setinggi perut dengan panjang dua setengan meteran dan lebar satu meteran yang digunakan Ayah untuk memotong kain. Di bawah meja itu tidak ada apa-apa selain sebuah ruang kosong yang muat untuk kami yang masih kecil-kecil tidur berdua.

Sedikit lebih besar, ketika kaki-kaki saya dan kakak saya mulai bisa menjangkau pedal mesin jahit, Ayah mulai mengajari kami menjahit. Sebuah aktivitas, yang kalau saya pikir-pikir, teramat mengasyikkan untuk anak kecil seusia kami. Memasukkan benang ke lubang jahit, memutar pedal tangan, mengayuh pedal kaki, alangkah menyenangkannya. Begitu pedal dikayuh, jarum jahit menghunjam lubang jahit turun-naik, menarik dan mengaitkan benang, menyambung-mengikat-menjerat dua sisi kain yang akhirnya bisa disatukan.

Setelah matang berlatih menjahit kain perca, Ayah menyuruh kami menunaikan tugas sungguhan pertama: menjahit bendera. Menjahit bendera adalah bagian paling ringan dan paling kecil risikonya. Anda tinggal menyambung dua helai kain dua warna, merah dan putih, melipat keempat sisinya, memberi tiga atau lima kain ikatan di salah satu sisinya, dan jadilah ia sebuah bendera. Di awal-awal bulan Juli seperti sekarang, beberapa minggu sebelum peringatan Hari Kemerdekaan RI, sudah banyak pelanggan yang datang mencari bendera, dan itu adalah masa-masa “bekerja” pula bagi saya dan kakak saya. Itu pulalah masa-masa kami mencari uang jajan tambahan, dengan keringat kami sendiri.

Sedikit lebih besar lagi, saat duduk di kelas dua SMP (dan kakak lelaki saya di kelas tiga SMP), Ayah mulai menurunkan ilmu menjahitnya pada kami berdua, mulai dari bagaimana memilih kain dan benang, bagaimana mengukur kemeja dan celana, bagaimana membuat pola, dan bagaimana memotongnya, dan mulai menjahitnya.

Sebenarnya, menjahit itu dibagi ke dalam dua bagian kemahiran. Pertama, kemahiran menjahit. Kedua, kemahiran mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Di antara dua kemahiran ini, ilmu kedua memiliki strata lebih tinggi. Ketika ingin jadi seorang penjahit, Anda harus pandai terlebih dahulu menjahit. Kalau sudah mahir, Anda baru akan diajari bagaimana cara mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Paling tidak, seperti itulah yang diajarkan Ayah saya.

Awalnya, saya dan kakak saya, melakukan pemberontakan kecil-kecilan terhadap upaya Ayah “memaksa” kami belajar menjahit. Saya dan kakak saya tidak pernah bercita-cita jadi penjahit. Kami sudah cukup melihat betapa susahnya hidup dari profesi itu dijalani ayah kami. Dan, di antara saya dan kakak saya, sayalah yang paling kuat memberontak. Saya bilang pada Ayah, saya tidak punya bakat menjahit. Saya bilang, saya ingin jadi insinyur. Saya tidak ingin keluarga saya hidup susah kelak, sebagaimana Ayah membesarkan saya.

Namun Ayah berkata, “Kalau kamu tidak mau menjadi penjahit, tidak mau menjadikan ini sebagai mata pencaharian, tak apa. Tapi paling tidak, saat kelak hidupmu tiba-tiba susah, tiba-tiba kau terjepit hidup, kau bisa menjadikan ilmu menjahit ini sebagai ban serap, sampai kesempitanmu hilang.”

Kata-kata beliau itu lekat di kepala saya sampai hari ini. Dan satu lagi yang beliau pesankan pada saya dan kakak saya: “Meski nanti sudah jadi orang kaya, milikilah sebuah mesin jahit di rumah. Pasti bahagia rasanya, bisa sesekali melihat anak lelaki kalian memakai kemeja dan celana yang dijahit ayah mereka sendiri. Percayalah pada Ayah.”

Kata-kata itu tak pernah saya ikuti. Sampai sekarang, kalau ada keperluan memotong celana yang kepanjangan kakinya, atau baju yang terlalu longgar, saya pasti lari ke tukang jahit. Mengupah mereka untuk mengerjakan sesuatu yang sudah saya kuasai sejak saya masih kecil.

Sementara kakak saya, setelah berlika-liku mencari peruntungan dengan ijazah sarjananya, akhirnya memutuskan untuk menjadi penjahit seperti Ayah, tentu saja dengan skala yang berbeda. Kakak saya itu, bahkan ketika memutuskan menjadi penjahit, sudah merendam ijazah S1-nya, yang seingat saya, membuatnya ribut dengan Ibu saya dan istrinya selama berhari-hari.

Begitulah kenangan saya tentang sebuah mesin jahit. Kini, saat menulis tulisan ini, keinginan saya untuk memiliki sebuah mesin jahit manual tua (bukan mesin jahit listrik) kembali menggebu-gebu. Saya rindu mendengar derak-derik suara pedalnya, dan suara tik-tik saat benang kawin dengan benang, dan melihat putaran rodanya yang dulu sekali waktu kecil pernah menjepit jari-jari saya.[]

Standard
Journal

Saya dan Hikayat Sebuah Mesin Jahit Tua


MALAM ini, entah kenapa, kepala saya dipenuhi gambar-gambar mesin jahit. Bukan mesin jahit yang sudah modern dan canggih seperti yang dipakai orang sekarang, tapi mesin jahit tua, dengan sabuk dan pedal, dengan bau minyak dan aroma kainnya. Tiba-tiba saya merasa harus menyampaikan sebuah kisah pada Anda.
Saya—sedikit atau banyak—hidup bersama mesin jahit. Waktu balita, saya dan kakak lelaki saya sering dibawa ke kedai oleh ayah saya yang seorang tukang jahit. Bukan perjalanan wisata tentunya, karena hampir tiap hari kami dibawa ke kedai. Bukan perjalanan wisata namanya kalau dilakukan setiap hari, bukan? Itu semacam pembagian tugas antara Ibu dan Ayah, karena saat itu kami belum punya pembantu yang bisa menjaga kami di rumah.
Tiap hari (kecuali hari Minggu), begitu lelah bermain benang atau perca kain, saya atau kakak saya, tidur siang di kolong meja gunting. Meja gunting adalah sebutan Ayah untuk sebuah meja setinggi perut dengan panjang dua setengan meteran dan lebar satu meteran yang digunakan Ayah untuk memotong kain. Di bawah meja itu tidak ada apa-apa selain sebuah ruang kosong yang muat untuk kami yang masih kecil-kecil tidur berdua.
Sedikit lebih besar, ketika kaki-kaki saya dan kakak saya mulai bisa menjangkau pedal mesin jahit, Ayah mulai mengajari kami menjahit. Sebuah aktivitas, yang kalau saya pikir-pikir, teramat mengasyikkan untuk anak kecil seusia kami. Memasukkan benang ke lubang jahit, memutar pedal tangan, mengayuh pedal kaki, alangkah menyenangkannya. Begitu pedal dikayuh, jarum jahit menghunjam lubang jahit turun-naik, menarik dan mengaitkan benang, menyambung-mengikat-menjerat dua sisi kain yang akhirnya bisa disatukan.
Setelah matang berlatih menjahit kain perca, Ayah menyuruh kami menunaikan tugas sungguhan pertama: menjahit bendera. Menjahit bendera adalah bagian paling ringan dan paling kecil risikonya. Anda tinggal menyambung dua helai kain dua warna, merah dan putih, melipat keempat sisinya, memberi tiga atau lima kain ikatan di salah satu sisinya, dan jadilah ia sebuah bendera. Di awal-awal bulan Juli seperti sekarang, beberapa minggu sebelum peringatan Hari Kemerdekaan RI, sudah banyak pelanggan yang datang mencari bendera, dan itu adalah masa-masa “bekerja” pula bagi saya dan kakak saya. Itu pulalah masa-masa kami mencari uang jajan tambahan, dengan keringat kami sendiri.
Sedikit lebih besar lagi, saat duduk di kelas dua SMP (dan kakak lelaki saya di kelas tiga SMP), Ayah mulai menurunkan ilmu menjahitnya pada kami berdua, mulai dari bagaimana memilih kain dan benang, bagaimana mengukur kemeja dan celana, bagaimana membuat pola, dan bagaimana memotongnya, dan mulai menjahitnya.
Sebenarnya, menjahit itu dibagi ke dalam dua bagian kemahiran. Pertama, kemahiran menjahit. Kedua, kemahiran mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Di antara dua kemahiran ini, ilmu kedua memiliki strata lebih tinggi. Ketika ingin jadi seorang penjahit, Anda harus pandai terlebih dahulu menjahit. Kalau sudah mahir, Anda baru akan diajari bagaimana cara mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Paling tidak, seperti itulah yang diajarkan Ayah saya.
Awalnya, saya dan kakak saya, melakukan pemberontakan kecil-kecilan terhadap upaya Ayah “memaksa” kami belajar menjahit. Saya dan kakak saya tidak pernah bercita-cita jadi penjahit. Kami sudah cukup melihat betapa susahnya hidup dari profesi itu dijalani ayah kami. Dan, di antara saya dan kakak saya, sayalah yang paling kuat memberontak. Saya bilang pada Ayah, saya tidak punya bakat menjahit. Saya bilang, saya ingin jadi insinyur. Saya tidak ingin keluarga saya hidup susah kelak, sebagaimana Ayah membesarkan saya.
Namun Ayah berkata, “Kalau kamu tidak mau menjadi penjahit, tidak mau menjadikan ini sebagai mata pencaharian, tak apa. Tapi paling tidak, saat kelak hidupmu tiba-tiba susah, tiba-tiba kau terjepit hidup, kau bisa menjadikan ilmu menjahit ini sebagai ban serap, sampai kesempitanmu hilang.”
Kata-kata beliau itu lekat di kepala saya sampai hari ini. Dan satu lagi yang beliau pesankan pada saya dan kakak saya: “Meski nanti sudah jadi orang kaya, milikilah sebuah mesin jahit di rumah. Pasti bahagia rasanya, bisa sesekali melihat anak lelaki kalian memakai kemeja dan celana yang dijahit ayah mereka sendiri. Percayalah pada Ayah.”
Kata-kata itu tak pernah saya ikuti. Sampai sekarang, kalau ada keperluan memotong celana yang kepanjangan kakinya, atau baju yang terlalu longgar, saya pasti lari ke tukang jahit. Mengupah mereka untuk mengerjakan sesuatu yang sudah saya kuasai sejak saya masih kecil.
Sementara kakak saya, setelah berlika-liku mencari peruntungan dengan ijazah sarjananya, akhirnya memutuskan untuk menjadi penjahit seperti Ayah, tentu saja dengan skala yang berbeda. Kakak saya itu, bahkan ketika memutuskan menjadi penjahit, sudah merendam ijazah S1-nya, yang seingat saya, membuatnya ribut dengan Ibu saya dan istrinya selama berhari-hari.
Begitulah kenangan saya tentang sebuah mesin jahit. Kini, saat menulis tulisan ini, keinginan saya untuk memiliki sebuah mesin jahit manual tua (bukan mesin jahit listrik) kembali menggebu-gebu. Saya rindu mendengar derak-derik suara pedalnya, dan suara tik-tik saat benang kawin dengan benang, dan melihat putaran rodanya yang dulu sekali waktu kecil pernah menjepit jari-jari saya.[]
Standard
Journal

Paru-Paru Kecil

PAGI ini, tak direncanakan, saya mampir ke Taman Spathodea yang ada di Jalan Kebagusan Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Taman seluas satu hektar yang dibangun oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI pada 2011 ini punya 300 pohon Spathodea, sebuah jalur joging sepanjang 100 meter, sebuah danau buatan, dan lapangan bermain untuk anak-anak.

Sebuah taman kecil di tengah kawasan padat penduduk, tentu saja jadi seperti paru-paru kecil buat sebuah dada yang tengah sesak. Dua bintang saja. Lumayanlah.[]

Tampak depan. Itu mobil siapa, sih? Gangguin orang foto saja :-)

Tampak depan. Itu mobil siapa, sih? Gangguin orang foto saja :-)

Sayangnya, parkirnya sempit.

Sayangnya, parkirnya sempit.

Pohon-pohon Spathodea itu.

Pohon-pohon Spathodea itu.

Jogging track-nya lumayan. Ada turun-naiknya.

Jogging track-nya lumayan. Ada turun-naiknya.

Danau kecil. Buatan. Agak butek.

Danau kecil. Buatan. Agak butek.

Pengumuman yang terkesan "nyampah".

Pengumuman yang terkesan “nyampah”.

Ini sudut yang paling saya suka.

Ini sudut yang paling saya suka.

Pemandangan dari tempat duduk di foto sebelumnya.

Pemandangan dari tempat duduk di foto sebelumnya.

Area bermain. Lumayan.

Area bermain. Lumayan.

Satu dari tiga area tempat duduk. Lumayan buat mojok, ya?

Tempat duduk kedua. Lumayan buat mojok, ya?

Standard
Books

Novel Terakhir Pengarang Sitti Nurbaya

WARTAWAN Majalah Tempo, Iqbal Muhtarom, mewawancarai saya tentang proses penyuntingan novel “Memang Jodoh” karya Marah Rusli. Berikut petikannya:

Bagaimana proses editing naskah novel yang sudah selesai ditulis pada tahun 1961 tersebut? Apa tantangan mengedit naskah yang sudah terbit lebih dari 50 tahun lalu?

Bagi saya, naskah “Memang Jodoh” ini termasuk naskah kelas berat. Artinya, naskah yang sulit untuk disunting. Kalimatnya panjang-panjang, dan banyak sekali ungkapan, kalimat, atau kata yang tidak “asing” atau jarang dibaca atau didengar oleh pembaca sekarang. Banyak pula kata-kata yang belum baku, masih merupakan bahasa asli Minangkabau yang belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia.

Berapa lama Anda butuhkan menyunting naskah novel?

Naskah ini saya sunting lebih kurang selama 2,5 bulan.

Pada bagian apa saja yang Anda edit, sunting, dalam naskah novel?

Penerbit meminta saya menjadikan naskah ini lebih ringan buat pembaca. Namun, saya sekaligus diminta untuk tidak menghilangkan gaya bercerita khas a la Marah Rusli seperti dalam novel beliau yang lain semisal Sitti Nurbaya. Kalimat yang panjang saya pecah menjadi beberapa kalimat pendek tanpa merusak isi dan maksudnya; saya juga membuat catatan kaki untuk kata/ungkapan agar lebih mudah dipahami pembaca.

Adakah kata-kata yang Anda ubah ejaannya, yang Anda sesuaikan dengan kondisi sekarang?

Di naskah yang saya terima, ejaan yang digunakan sudah EYD. Jadi, tidak ada ejaan lama dalam naskah Memang Jodoh yang saya terima dari penerbit. Kalaupun ada yang saya ganti atau ubah hanya beberapa kata yang ditulis menurut cara bertutur orang Minangkabau tempo dulu, seperti “sekolah peripat” yang maksudnya “sekolah swasta”. Selagi kata yang dipakai masih bisa dipahami pembaca—meskipun kurang populer—saya akan mempertahankannya dan memberi catatan tentang kata tersebut.

Kesulitan apa yang Anda alami ketika menyunting naskah novel Memang Jodoh ini?

Kesulitannya hanya dalam mencari arti kata-kata yang tak saya temukan artinya di dalam kamus.

Dalam novel ini terdapat catatan kaki, apakah catatan kaki itu dari Anda? Mengapa diperlukan catatan kaki? Hal-hal apa saja yang Anda perlukan untuk diberikan catatan kaki?

Ya, catatan kaki itu dari saya, dan beberapa lagi ditambahkan oleh penerbit. Ya, tentu saja diperlukan, karena kalau saya biarkan tanpa catatan, pembaca akan merasa asing dengan kata yang dipakai oleh pengarangnya. Saya memang tidak berani mengubah kata-kata tersebut ke konteks sekarang, karena saya dan penerbit memang ingin tetap seperti itu. Nah, dengan catatan kaki inilah kita membantu pembaca untuk memahaminya.

Bisa diceritakan proses penerbitkan novel Memang Jodoh ini, mengapa Qanita bisa menerbitkannya? Apakah keluarga Marah Rusli yang menawarkan? Kapan tawaran itu diberikan?

Pertanyaan ini lebih tepat dijawab oleh penerbit.

Berdasar wawancara kami dengan keluarga Marah Rusli, terdapat salah penulisan Merah Hamli, yang seharusnya ditulis Marah Hamli? Meskipun menurut cucu Marah Rusli, dalam naskah aslinya memang ditulis Merah Hamli.

Ya, dalam naskah yang saya terima, memang ada dua versi penulisan nama tersebut: Merah Hamli dan Marah Hamli. Namun, kekeliruan ini sudah diluruskan dan diperbaiki.

Apakah Anda membaca naskah asli dari novel ini yang ditulis dalam Arab gundul? Juga naskah yang ditulis Marah Rusli yang sudah ditulis dalam huruf latin?

Tidak, naskah yang saya terima dari penerbit adalah naskah yang sudah ditik ulang. Saya juga baru tahu kalau naskah aslinya dalam bahasa Arab gundul.[]

Judul: Memang Jodoh
Pengarang: Marah Rusli
Penyunting: Melvi Yendra
Penerbit: Qanita, 2013
Tebal: 535 halaman

Standard
Journal

Novel Terakhir Marah Rusli

DUNIA SASTRA Indonesia boleh bergembira. Setelah 50 tahun lebih disimpan ahli warisnya, novel semiotobiografi Memang Jodoh Marah Roesli, pengarang Sitti Nurbaya, akhirnya diterbitkan. Novel yang selesai ditulis menjelang hari ulang tahun perkawinan emasnya itu baru diterbitkan setelah semua ninik mamaknya di Padang meninggal.
Bercerita tentang apakah novel itu? Marah Roesli menggugat adat lapuk priayi-priayi Minangkabau yang menganggap perkawinan antara laki-laki bangsawan Padang dan perempuan daerah lain sebagai suatu penghinaan. Tempo mengorek penjelasan anak-cucu Marah Roesli tantang penerbitan karya terakhir pengarang Angkatan Balai Pustaka itu.
NOVEL karya sastrawan Balai Pustaka, Marah Roesli, itu lama tersimpan di laci. Tak pernah dibukukan. Tak pernah disebarluaskan ke publik atau kritikus sastra. Sebelum wafat, Marah Roesli berwasiat kepada anak-cucunya bahwa novel tersebut hanya buleh dipublikasikan setelah dia dan semua orang yang disebutkan dalam naskah novel itu meninggal. Marah Roesli wafat di Bandung, 17 Januari 1968, pada usia 78 tahun. Dia dikubur di pemakaman keluarganya di Ciomas, Bogor.
Kini sudah 45 tahun kematian Marah Roesli. Belum genap 50 tahun. Pihak keluarga memutuskan menyerahkan “naskah rahasia” yang tak boleh dibaca siapa pun itu kepada penerbit. Dan pekan ini dunia sastra Indonesia boleh bergembira. Naskah itu diterbitkan Qanita Classic, lini penerbitan khusus sastra klasik Mizan, dalam bentuk buku yang diluncurkan belum lama ini.
Marah Roesli terkenal dengan roman Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). Kita ingat Sitti Nurbaya adalah kisah asmara antara Sitti Nurbaya, anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya, dan Samsul Bahri, anak Penghulu Sutan Mahmud. Sitti Nurbaya akhirnya diperistri Datuk Maringgih, yang menghancurkan kekayaan ayahnya dan kepadanya ayahnya berutang.
Kita tahu roman ini berakhir dengan tragedi. Sitti Nurbaya, yang lari dari Datuk Maringgih dan mencari Samsul Bahri, meninggal dibunuh Datuk Maringgih. Samsul Bahri, yang menjadi tentara Belanda dan berganti nama menjadi Letnan Mas, berhasil membinasakan Datuk Maringgih, yang memimpin pemberontakan antipajak di Padang-meski Samsul Bahri juga tertebas pedang Datuk Maringgih dan akhirnya meninggal di rumah sakit.
“Novel rahasia” yang tersimpan di laci itu juga berbicara tentang asmara, tapi tidak setragis Sitti Nurbaya. Novel berjudul Memang Jodoh itu sesungguhnya sudah rampung ditulis Marah Roesli pada 1961. Novel tersebut diselesaikan Marah Roesli tatkala usianya sudah uzur, yaitu 72 tahun. Novel itu merupakan kado Marah Roesli untuk istrinya, Raden Ratna Kantjana binti Kartadjumena, pada hari ulang tahun ke-50 pernikahan mereka, 2 November 1961.
Apa isinya sehingga Marah Roesli melarang orang membacanya sebelum dia dan ninik mamaknya di Padang meninggal semua?
Novel itu berkisah mengenai jatuh-bangun perjalanan cinta seorang pemuda bangsawan Padang bernama Merah Hamli, yang mirip gambaran kehidupan cinta sang pengarang sendiri. Dalam kehidupan nyata, Marah Roesli adalah pemuda asal Padang yang merantau ke Buitenzorg (Bogor) dan kuliah di Nederlands Indische Veeartsenijschool (Sekolah Dokter Hewan Belanda). Di Bogor, Marah Roesli bertemu dengan Raden Ratna Kantjana binti Kartadjumena, gadis keturunan bangsawan Sunda. Mereka menikah pada 2 November 1911. Pernikahan ini ditentang kedua keluarga mempelai.
Ayah Marah Roesli adalah Sutan Abu Bakar, bangsawan Pagaruyung, sementara ibunya perempuan biasa. Gelar “Marah” diberikan keluarga ayahnya. “Dalam diri Marah Roesli memang mengalir darah Pagaruyung, tapi dia bukan ahli waris dari Kerajaan Pagaruyung, karena di sini garis keturunannya matrilineal,” kata Raudha Thaib, ahli waris Kerajaan Pagaruyung. Dari pihak Marah Roesli, keluarga dari ibunyalah yang paling lantang menolak. Dari pihak Ratna, hanya keluarga inti yang memberikan restu. Akibat perkawinan itu, Marah Roesli dikucilkan secara adat dan terbuang dari tanah kelahirannya.
Berbagai cara dilakukan keluarga besar mereka untuk memisahkan pasangan itu. Siti Nur Chairani, putri bungsu Marah Roesli yang biasa dipanggil Tante Nani, ingat, suatu hari seorang pria muncul di rumah mereka di Jalan Merdeka, Bogor, membawa pesan untuk Marah Roesli dari ibunya di Padang. Marah Roesli dan Ratna tak curiga dan menerimanya dengan baik. Terkesan oleh kebaikan Ratna, tamu ini akhirnya mengaku bahwa ia adalah dukun yang dikirim keluarga ibu Marah Roesli untuk mengguna-gunai Ratna. Dalam novel itu, kisah dukun yang hendak mengguna-gunai Marah Roesli dan istrinya juga digambarkan.
“Perkawinan seorang laki-laki Padang, lebih-lebih yang berbangsa tinggi seperti Hamli ini, dengan perempuan negeri lain, dipandang orang di Padang sebagai suatu penghinaan yang besar atas kaum bangsawan,” kata seorang tokoh dalam novel bernama Datuk Sati, dukun besar dari Padang.
Novel berlatar masa penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan itu mengisahkan perjalanan Merah Hamli, yang merantau ke Bogor untuk kuliah di sebuah sekolah pertanian. Di kota inilah dia bertemu dengan jodohnya, Nyai Radin Asmawati, putri Wedana Cibinong. Namun rencana perkawinan tak direstui kedua keluarga besar mereka. Keributan sempat terjadi di Padang dan di Bogor. Tapi keduanya tetap menikah dan berkali-kali mendapat cobaan yang mengancam perkawinan itu, dari guna-guna hingga paksaan agar Hamli menikah lagi. Semua cobaan itu mereka hadapi dengan tabah hingga mereka beranak-cucu dan merayakan perkawinan emas pada 1961 di Sukabumi.
Menurut Rully Marsis Amirullah, cucu Marah Roesli yang kini bermukim di Bandung, Memang jodoh bukanlah otobiografi lengkap kakeknya. ”Ini novel semiotobiografi, karena kebanyakan bercerita tentang masalah perkawinan beda adat dan anjuran berpoligami clari keluarganya,” ujarnya.
Rully mengenang, pada 1961, saat perayaan ulang tahun perkawinan emasnya, Marah Roesli menyampaikan pidato panjang mengenai Memang Jodoh di hadapan anak-anak dan cucu-cucunya. Beberapa cucunya, termasuk Rully dan adiknya, musikus Harry Roesli, kemudian membentuk band bocah dan bernyanyi di hadapan kakek dan nenek mereka.
NOVEL BERLATAR MASA PENJAJAHAN BELANDA HINGGA ZAMAN KEMERDEKAAN ITU MENGISAHKAN PERJALANAN MERAH HAMLI, YANG MERANTAU KE BOGOR UNTUK KULIAH DI SEBUAH SEKOLAH PERTANIAN. DI KOTA INILAH DIA BERTEMU DENGAN JODOHNYA, NYAI RADIN ASMAWATI, PUTRI WEDANA CIBINONG.
Seperti karya Marah Roesli yang lain, Memang Jodoh awalnya ditulis tangan dalam aksara Arab Melayu gundul di buku panjang yang kerap digunakan akuntan, lalu diketik di atas kertas minyak tipis. Manuskripnya sudah hilang, tapi naskah ketikannya masih ada dan disimpan Rully. Agar tak rusak, naskah ini kemudian diketik ulang di atas kertas biasa yang tiap lembarnya dilapisi plastik.
Menurut Siti Nur Chairani, ayahnya berwasiat bahwa novel itu tak boleh diterbirkan sebelum semua orang yang disebutkan di naskah tersebut meninggal karena tak ingin menyakiti perasaan kerabat di Padang. ”Bahkan naskahnya juga tak boleh dibaca sebelum ayah saya meninggal,” kata Siti.
Mengapa setelah 50 tahun berlalu sejak Marah Roesli berpidato tentang novelnya, anak-ucunya akhirnya memutuskan menerbitkan novel itu? ”Seluruh keluarga sepakat, novel itu bukan milik keluarga lagi, melainkan milik kesusastraan nasional,” ujar Rully, yang kemudian bertugas mengurus penerbitannya.
Rully menyerahkan naskah itu tahun lalu ke Mizan. Mizan pun menyambut baik tawaran ini. Editor Mizan, Melvi Yendra, menyuntingnya dan menilai naskah itu sebagai naskah kelas berat. “Itu naskah yang sulit untuk disunting,” kata Melvi, yang butuh waktu dua setengah bulan untuk menyunting novel yang setelah dicetak jadi setebal 525 halaman itu.
Marah Roesli, kata Melvi, sering menulis dengan kalimat panjang dan memakai banyak kata dari Bahasa Minangkabau yang belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia. Melvi berusaha menyunting naskah itu menjadi lebih ringan bagi pembaca tanpa menghilangkan gaya bercerita Marah Roesli. Melvi memecah kalimat yang panjang menjadi beberapa kalimat pendek dan menambahkan catatan kaki untuk beberapa kata yang terasa asing. Dia hanya mengganti beberapa kata yang ditulis menurut cara bertutur orang Minangkabau tempo dulu, seperti “sekolah peripat” untuk “sekolah swasta”.
Sapardi Djoko Damonu, yang sudah membaca naskah Memang Jodoh, menilai novel itu biasa saja, dalam arti bukan yang penting atau terbaik dari karya Marah Roesli. “Berbeda dengan Sitti Nurbaya yang disebut sebagai novel modern pertama dan masuk buku-buku pelajaran sekolah sehingga dianggap sebagai kanon sastra,” ujar guru besar Fakultas llmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia itu.
Novel itu, kara Sapardi, sangat berbeda dengan novel-novel Marah Roesli sebelumnya, seperti Sitti Nurbaya, yang warna lokalnya sangat kental sehingga sangat sulit dipahami orang di luar Sumatera Barat.
”Dalam Memang Jodoh, Marah Roesli memakai cara yang baru,” ujarnya. ”Gaya novel ini bisa disebut sebagai novel populer, dalam arti sangat mudah dipahami orang banyak. Pengalaman pribadinya ia ceritakan dengan enteng saja.”
-KURNIAWAN, DODY HIDAYAT, RATNANING ASIH, IQBAL MUHTAROM, ANWAR SISWADI, FEBRIYANTI
Sumber : Tempo | Edisi 22-28 Juli 2013 | Hal 60
Standard
Stories

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 8 – Habis)

HANIF mengaku sudah lama tahu tentang Benny. Kenyataan ini membuatku berang.

“Kenapa kaurahasiakan? Kenapa aku tak diberitahu?” tanyaku saat kami melaju kencang dalam perjalanan ke Bandara Sultan Iskandar Muda. Siang itu juga aku memutuskan kembali secepatnya ke Jakarta. Aku tak ingin melewatkan saat-saat terakhir sebelum lelaki tua itu dikubur di tempat peristirahatan terakhirnya.

“Kau lupa, ya, kita baru berjumpa hari ini setelah berpisah selama 22 tahun. Dan, sekarang kau sudah mau kembali ke Jakarta,” sahut Hanif tanpa menoleh. Matanya tajam menatap jalanan di depannya. Kedua tangannya gemeter menggenggam setir. “Aku sendiri tak menyangka kau tahu tentang lelaki ini. Nenekmu dulu berpesan agar menjauhkanmu dari semua hal yang berkaitan dengan peristiwa 22 tahun lalu itu. Karena itulah beliau memercayakan semua kekayaan keluargamu dan seluruh rahasia ini pada keluargaku, karena hanya kamilah sahabat yang paling dekat yang bisa nenekmu percaya. Nenekmu membawamu jauh-jauh ke Jakarta, dan melarangmu pulang, juga karena alasan itu. Dia tak ingin kau menggali-gali sesuatu yang sudah lama terkubur, dan tak ada gunanya lagi diungkit-ungkit.”

“Tentu saja aku tak bisa melupakan peristiwa itu. Tentu saja aku harus mencari siapa yang membunuh ayah-ibuku!” kataku dengan suara keras. “Bagaimana mungkin aku melupakan saat-saat kematian mereka!?”

Hanif terdiam. Dia tampak ingin mengungkapkan sesuatu, tapi berusaha menahan diri untuk tidak bicara. Kurasa, masih banyak rahasia yang disimpan Hanif untukku, dan entah kapan akan diungkapkannya.

Memasuki bandara aku masih belum bisa percaya, bahwa aku sudah harus kembali ke Jakarta, padahal aku baru saja sampai di tempat ini beberapa jam yang lalu. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku begitu ngotot melihat saat-saat terakhir seseorang yang sebentar lagi tinggal nama.

“Dengar,” kata Hanif membujuk, “kalau kau masih percaya padaku, tolong jangan kembali ke Jakarta sekarang. Cutimu baru saja dimulai. Masih banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu di sini.”

Bujukan Hanif tak menggoyahkan keputusanku. Sebelum berpisah dengannya di pintu keberangkatan, aku berkata, “Aku punya cukup banyak waktu untuk mendengar apa yang kau rahasiakan dariku selama 22 tahun terakhir ini.” Kupeluk dia sebelum membalikkan punggung. “Aku segera kembali,” kataku lagi.

AKU tak pernah menduga semuanya akan berakhir seperti ini. Lelaki yang ingin kueksekusi sendiri dengan tanganku, ternyata mati di atas tempat tidur, diiringi tetesan air mata putri yang sangat mencintainya. Untuk lelaki yang telah membantai kedua orangtuaku, dia tak layak mendapatkan penghormatan sebesar itu. Aku ingin dia mati di hadapanku—tentu saja setelah gagal mendapatkan ampunan dariku—dieksekusi regu tembak—satu-satunya hukuman yang paling layak untuknya—atau paling tidak dia bisa mengambil pilihan terakhir: membusuk seumur hidup di penjara.

Kehadiranku di rumah Kim Alia sore itu tidak saja mengejutkan gadis itu, tapi juga semua mata yang ada di sana. Aku, seorang lelaki asing, tiba-tiba datang melayat seorang lelaki yang selama ini mungkin tak punya banyak kawan, dengan stiker bagasi maskapai penerbangan masih melekat di tas koper yang kubawa, turun dari sebuah taksi yang melaju tergesa-gesa. Semua orang akan tahu aku berpacu dengan waktu agar bisa melihat lelaki itu untuk terakhir kali. Aku seperti seorang anak yang merantau jauh, yang baru saja ditinggal pergi sang ayah.

Aku sendiri masih belum percaya, kenapa aku bisa sampai di tempat itu. Motif apa yang mendorongku? Aku sama sekali belum tahu. Aku, lelaki asing bagi semua orang, termasuk bagi Kim, meski kami sudah kenal sejak dua bulan lalu. Kedatanganku yang tak disangka-sangka, sama mengejutkannya dengan pertanyaan dari mana aku mendapat kabar soal kematian ayahnya itu. Sementara dirinya sendiri—kalaupun ingin—mungkin tak tahu harus mencariku ke mana untuk menyampaikan kabar duka itu.

Benny. Kutatap wajah lelaki itu untuk yang terakhir kali. Wajah yang mendadak tampak lebih tua dari saat aku melihatnya pertama kali dua bulan yang lalu. Aku menatap wajahnya sejenak dengan perasaan yang aneh. Orang datang melayat karena kedekatan atau kekerabatan dengan sang mayat. Orang datang melayat untuk memberikan penghormatan terakhir. Lain denganku, aku tak punya semua alasan itu. Dendam? Dendam apalagi yang akan kuperlihatkan pada sesosok mayat yang sudah menyerahkan hidupnya pada Sang Pemilik? Murka apa lagi yang akan kutunjukkan pada seseorang yang kini hanya punya selembar kafan untuk dibawa pergi?

Jenazah Benny dimakamkan di sebuah pemakaman kecil di sebuah kampung di pinggiran Jakarta. Aku ikut mengantar kepergiannya sampai ke sana. Tak banyak yang mengantarnya ke liang kubur. Hanya ada Kim dan beberapa kerabat serta tetangga yang jumlahnya tak seberapa. Keluarga Benny tampaknya memang tak punya banyak sahabat dan tak akrab dengan tetangga. Bisa jadi mereka memang keluarga yang tertutup, atau bisa juga karena alasan lain, yang tak kuketahui.

“Terima kasih sudah datang, Kak,” kata Kim padaku sebelum aku masuk ke dalam taksi. “Tolong maafkan Ayah kalau-kalau beliau pernah berbuat salah.”

Kata-kata Kim itu sangat menyakitkan bagiku. Oh, Kim, kau tidak tahu apa yang telah ayahmu lakukan 22 tahun lalu pada keluargaku? Kalau saja aku tidak berada di rumah pohonku malam itu, mungkin aku tak akan ada di sampingmu saat ini.

Oh, Tuhan. Gadis ini, mungkinkah dia benar-benar tak tahu siapa ayahnya di masa lalu? Ayah seperti apakah gerangan Benny di matanya? Lalu, siapakah aku menurut pikirannya? Senior pujaannya di masa lalu, yang secara kebetulan bertemu kembali dengannya di Facebook dan suatu malam ditakdirkan hadir dalam acara malam malam bersama ayahnya? Hanya itukah. Ya, mungkin hanya itulah sosokku di mata Kim. Dia tak tahu, aku sudah 22 tahun mencari-cari ayahnya. Dia tak tahu aku sudah merencanakan sesuatu yang jahat pada mereka berdua. Dia tak tahu, kalau kedekatanku dengannya hanya bagian kecil dari sebuah skenario licikku untuk memasuki hidupnya.

Seluruh skenario yang kurancang kini hancur sudah. Tadi pagi, aku masih terus memikirkan rencanaku semula, siap mengorbankan hidupku untuk pembalasan dendam ini. Aku sudah menyiapkan diri untuk merebut hati Kim Alia—sesuatu yang sebenarnya tak perlu lagi kulakukan—melamar gadis yang tidak kucintai itu, menikahinya, menjadi suaminya, dan lalu perlahan-lahan menghancurkan hidupnya dan hidup ayahnya dari dalam. Dan ketika saatnya tiba, akan kuungkapkan siapa diriku kepada mereka berdua, dan setelah itu menuntut balas atas kematian ayah dan ibuku.

Seluruh skenario yang sudah kususun rapi itu kini hancur. Skenario besar Sang Pencipta menggagalkannya. Dan kini, aku tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat. Apakah aku harus melupakan dendamku pada Benny atau tetap melampiaskannya pada darah dagingnya satu-satunya?

SATU tahun kemudian, aku baru sempat kembali ke Aceh, dan berjumpa kembali dengan Hanif. Meski selama kurun waktu itu kami banyak berbicara atau berbalas pesan lewat telepon genggam, baik aku maupun Hanif nyaris tak pernah menyinggung lagi soal Benny. Setelah hari pemakaman Benny, aku menyibukkan diri kembali dengan pekerjaanku yang terbengkalai setelah hatiku remuk dikhianati Kania dan Affandi. Aku juga tak pernah lagi mendengar kabar tentang Kim.

Kepulanganku ke Aceh juga punya alasan khusus. Hanif mengundangku menghadiri acara pernikahannya, dan memintaku menjadi salah seorang saksi. Mungkin, karena ini pula, topik tentang Benny dan peristiwa 23 tahun lalu itu terlupakan. Rupanya Hanif juga sibuk menyiapkan hari istimewanya itu.

Seminggu setelah menikah, Hanif yang menunda bulan madunya karena beberapa urusan, mengajakku bertemu. Permintaan mendadak itu membuatku curiga. Hanif pasti punya kejutan lagi untukku.

“Ada yang ingin kusampaikan padamu,” katanya saat kami sedang duduk di sebuah kedai kopi pinggir jalan, tempat yang kupilih sendiri. “Silakan, katakan saja semuanya sekarang,” jawabku setengah bercanda.

“Ini tentang Benny, lelaki yang membunuh ayah dan ibumu.” Aku menjatuhkan sendok kopiku ke lantai dan membiarkannya. Mataku nanar menatap Hanif.

“Aku tak tahu apa kau sudah tahu tentang ini. Aku hanya…”

“Jangan bertele-tele, katakan saja,” potongku. Hanif mengangguk. Lalu, kisah itu sampai juga ke telingaku.

Setahun setelah ayah dan ibuku terbunuh, pihak berwajib berhasil menangkap Benny dan gerombolannya. Tapi semua informasi tentang mereka dirahasiakan oleh negara, karena saat itu isu ini sangat sensitif. Benny dan gerombolan yang menyerang rumahku diadili. Anak buah Benny mendapat hukuman 15 tahun penjara, sementara Benny sendiri diganjar hukuman penjara 25 tahun. Seluruh penyelidikan lalu berhenti. Pihak berwajib tak berhasil menyentuh siapa yang memerintahkan mereka melakukan pembunuhan itu. Karena berkelakukan baik, Benny mendapat keringanan hukuman 5 tahun. Dia dibebaskan dua tahun yang lalu, satu tahun sebelum aku melihatnya di gerbang tol malam itu.

Cerita Hanif membuatku terdiam. Kini semua pertanyaan telah terjawab. Tiba-tiba aku teringat pada Kim. Aku kini tahu kenapa gadis itu begitu kesepian. Dia ditinggal mati ibunya sejak kecil, dan dibesarkan ayahnya dari penjara. Ayahnya telah menerima ganjaran perbuatannya. Keadilan sudah ditegakkan, dan itu mungkin sudah cukup.

Mendadak dadaku lapang. Langit lalu tampak cerah. Di gugusan awan putih di atas sana membayang wajah Ayah, wajah Ibu, dan wajah Benny. Dan tak bisa kuelakkan, sebuah wajah juga membayang di gugusan awan-awan putih itu. Wajah Kim.[]

Tanah Baru, Februari 2013

Standard
Stories

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 7)

SEKERAS apa pun aku melantangkan teriakan bahwa aku tak terluka, luka tetapkah sebuah luka. Berminggu-minggu kemudian setelah kejadian di bandara itu, aku larut dalam pelarian panjang yang membuat para stafku, terutama Sylvia, khawatir. Aku baru keluar dari kantorku pukul tiga pagi, dan pukul delapan pagi sudah duduk lagi di mejaku dengan mata merah karena kurang tidur. Aku minum kopi lebih sering dan membakar rokok lebih kerap dari sebelumnya. Sylvia, satu-satunya orang yang tahu mengapa aku jadi setengah gila, mengambil paket liburan sebulan penuh ke Eropa untukku, namun kutampik. Aku katakan, ini tak akan lama, dan aku akan baik-baik saja.

Luka yang digoreskan Kania tak akan melemahkanku, dan dengan cara itulah aku membuktikannya. Kania dan Affandi mencoba memperbaiki hubungan kami tapi selalu kusambut dingin. Lagi pula, bisa-bisanya mereka berharap aku mau kembali bersahabat dengan mereka. Apa lagi yang mereka inginkan? Melukaiku sekali lagi?

Setelah enam ratus jam kerja selama satu bulan penuh, aku akhirnya merasa aku sudah pulih dari lukaku. Untuk merayakannya, aku mengambil cuti seminggu dan menuruti saran Sylvia untuk berlibur. Alih-alih Eropa, aku memilih pulang ke Aceh, kampung halaman yang sudah 22 tahun tak pernah kukunjungi.

Rumah tua itu masih seperti yang kuingat. Meski telah kutinggalkan selama puluhan tahun, orang-orang yang disuruh Nenek merawatnya, menjaga semuanya tetap seperti semula. Nyaris tak ada yang berubah, kecuali bahwa bangunan itu kini sudah tak sendirian lagi. Jalanan di depan rumahku sudah ramai dilalui kendaraan, dan sudah banyak rumah lain berdiri di sekitarnya. Tempat itu tidak lagi sepi seperti saat terakhir kutinggalkan. Banyak kedai dan toko-toko. Di ujung jalan bahkan sudah berdiri sebuah minimarket yang tampak ramai. Rumahku itu kini tampak seperti foto hitam putih tua di sebuah album yang berisi foto-foto penuh warna.

Bahkan, rumah pohon itu masih ada di sana, meski sudah tak jelas lagi bentuknya. Entah kenapa mereka tak membongkarnya saja, dan membiarkan kenangan buruk itu lenyap pula bersama waktu. Kini, rumah pohon itu membuatku memejamkan mata beberapa menit, dan kenangan buruk itu kembali melintas.

Bagian dalam rumah juga masih seperti dulu. Tak ada perabotan yang diganti. Keramik di lantai juga masih seperti saat terakhir sebelum kutinggalkan. Tampaknya penjaga rumah tuaku itu benar-benar mematuhi segala perintah Nenek, agar tak mengubah apa pun yang ada di sana.

Aku memberanikan diri masuk ke dalam kamar tidur Ayah dan Ibu. Napasku sempat terhenti ketika aku menatap ranjang tua itu, tempat dulu kulihat Ayah dan Ibu mati bersimbah darah. Kupejamkan mataku, dan tubuhku menggigil. Aku nyaris jatuh ke lantai kalau seseorang tidak menahan tubuhku dari belakang.

Aku terkejut dengan kehadiran lelaki yang sepantaran denganku itu. Mulanya aku tak berhasil mengenalinya, tapi setelah menatap wajahnya beberapa lama, aku baru bisa mengingat, tapi aku masih saja ragu-ragu siapa dia.

“Kau seharusnya tak ke rumah ini lagi,” katanya sambil membopongku ke ruang tengah dan mendudukkanku di kursi jati tua yang dulu sering diduduki ayahku. Lelaki itu menuang air dari sebuah ceret tua ke dalam gelas dan menyuruhku minum. Begitu air dingin mengguyur kerongkongan, rasa peningku sedikit berkurang.

“Maaf, Anda ini siapa?” tanyaku. Terdengar formal.

Dia tersenyum geli lalu tiba-tiba meninju pelan bahuku.

“Kubunuh kau sekarang juga kalau kau sampai lupa padaku,” katanya.

Aku menatap wajah lelaki itu sekali lagi, mencoba memanggil kembali segala kenangan masa kecilku. Dua puluh dua tahun. Wajar bila aku sudah lupa. Apa saja bisa terlupakan dalam waktu selama itu.

“Aku Hanif, Nizar. Kubunuh juga kau di sini akhirnya,” katanya sambil tertawa.

Hanif. Hanif?

Aku tersenyum malu. Satu kata itu saja sudah cukup memanggil berjuta kenangan bersama sahabat masa kecilku itu.

“Kau operasi wajah di mana, sih? Aku nyaris tak mengenalimu,” sahutku setengah meledek sambil tertawa, kemudian memeluk Hanif dengan erat.

Hanif memang sudah tak seperti dulu lagi. Dulu badannya ceking dan kulitnya hitam. Di antara teman-temanku yang lain, Hanif adalah yang paling tidak enak dipandang. Teman-teman gadis kami tak seorang pun dulu yang mau jadi pacar Hanif. Meski begitu, otaknya encer. Dia selalu berada di tiga besar di kelas, tapi tak pernah berhasil menggeser posisiku.

“Kau gemuk sekali sekarang, Nif. Putih pula. Dikasih makan apa kau sama Mak?”

Pertanyaan itu terlontar tak sengaja, dan disusul cepat oleh sebuah pertanyaan lain di hatiku, disertai penyesalan. Waktu kami masih kecil, perempuan yang dipanggil Mak oleh Hanif sudah sakit-sakitan. Bahkan ibuku pernah bilang, penyakit Mak Hanif tak bisa disembuhkan. Perempuan itu tinggal menunggu waktu, kata ayahku pula waktu itu. Perempuan itu kini pasti telah tiada. Aku menyesal telah melontarkan candaan itu pada Hanif.

“Makku masih hidup, Zar. Sehat beliau sekarang. Beliaulah yang merawat rumah ini sejak kau pergi,” Hanif tersenyum geli. “Aku tahu apa yang kaupikirkan tadi.”

Aku ternganga. Begitulah kiranya takdir bermain. Ayah dan ibuku dipanggil Tuhan lebih dulu. Dan perempuan yang dulu dikira tinggal menunggu malaikat maut ternyata masih hidup dan sehat wal afiat.

“Maaf, aku tak bermaksud…”

“Ah, sudahlah,” sahutnya lalu tergelak.

“Di mana Mak sekarang?” kejarku. Aku rindu bertemu perempuan itu. Dulu waktu kecil aku suka duduk di pinggir ranjangnya, mendengarkan dia mendongengkan kisah para Nabi. Sebelum sakit, Mak adalah guru ngaji di kampung kami, dan aku belajar ngaji padanya.

“Tadi ke masjid, salat zuhur. Sebentar lagi pasti balik. Mau berkeliling kampung dulu? Kita makan di luar saja. Makku belum masak apa-apa. Habis, kau datang diam-diam seperti hantu begini.”

Di halaman rumah terparkir sebuah sedan hitam mewah. Diparkir di sebelah Toyota Innova yang kusewa dari sebuah rental mobil tak jauh dari bandara.

“Hei, sukses kau sekarang!” candaku.

“Ah, jangan menghina kau, Zar. Aku tahu siapa kau di Jakarta,” sahutnya sambil masuk ke mobilnya.
Kami berdua berkeliling kota kelahiranku itu, makan siang di sebuah rumah makan yang masakannya membawaku kembali ke masa-masa kecil. Sudah lama aku tak menikmati makanan asli Aceh.

“Ceritakan tentang dirimu,” kataku setelah makan. “Terutama sejak kita berpisah 22 tahun lalu.”
Hanif kembali tersenyum. “Kenapa tidak kau duluan saja yang bercerita?” tanyanya.

“Aku yang kangen, bukan kau,” sahutku telak.

Hanif mengalah dan mulai bercerita.

“Setahun setelah kau pergi ke Jakarta, nenekmu pulang ke sini dan datang menemui ayahku. Beliau meminta kami sekeluarga merawat rumahmu seperti rumah kami sendiri, bahkan nenekmu sempat memaksa kami pindah ke sana dan menghuni rumah itu.

“Ayahku menolak pindah ke rumahmu, tapi beliau berjanji akan merawat rumah itu dengan baik. Nenekmu juga meminta ayahku mengelola beberapa bisnis yang dulu dijalankan ayahmu. Sebelum ayahku meninggal dunia 10 tahun lalu, nenekmu pulang dan memintaku untuk melanjutkan tugas yang dibebankan pada ayahku. Jadi, ketika ayahku meninggal, seluruh aset usaha almarhum ayahmu, ada di bawah kendaliku.”

Aku terdiam. Sebuah rahasia yang tak pernah kutahu. Nenek tak pernah bercerita, dan aku juga tak pernah bertanya. Mungkin karena itu pula Nenek, semasa beliau masih hidup, tak pernah membolehkanku pulang ke sini, dengan alasan apa pun. Kini baru aku tahu ternyata bisnis ayahku sudah dikelola oleh keluarga Hanif. Dan bisnis itu tampaknya berkembang.

“Baguslah, aku ikut senang,” sahutku datar.

Hanif tertawa. “Jadi, sebenarnya, ini adalah perjumpaan seorang jongos dengan tuannya yang sudah bertahun-tahun tak pulang kampung,” katanya, lalu tergelak.

“Kubunuh kau jika terus bicara begitu,” ancamku bercanda. “Lanjutkan ceritamu.”

“Hmm… tak ada yang menarik dari hidupku. Aku tamat kuliah hukum di sini dan dibiayai nenekmu ambil S2 hukum di Amerika. Begitu pulang, aku adalah direktur utama perusahaan keluargamu sekaligus pengacara pribadi yang menjaga segala aset yang sekarang ada di bawah namamu. Sedan mewah yang kupakai tadi adalah hadiah dari nenekmu sebelum beliau meninggal.”

Sungguh banyak sekali yang tak kutahu. Aku seperti lelaki yang buta bertahun-tahun dan baru saja ditakdirkan bisa melihat kembali.

“Teruskan,” kataku pada Hanif, yang tampaknya sudah tak bersemangat lagi bercerita tentang dirinya.
iPhone milik Hanif bergetar di meja makan. “Sebentar,” katanya padaku setelah melihat siapa yang menelepon. Hanif bicara cepat di telepon, mengangguk, lalu menutup telepon dengan cepat. Setelah itu dia menatapku, dengan tatapan yang tak bisa kupahami.

“Dia baru saja meninggal dunia.”

“Siapa yang meninggal?” tanyaku tak mengerti maksud Hanif.

Hanif menyeringai. Wajahnya tampak puas. “Lelaki itu. Lelaki yang membunuh ayah dan ibumu.” [–bersambung–]

Standard