Journal

Gadis Hujan

PUKUL tiga sore, kafe tempatku bekerja masih sepi. Pengunjung biasanya ramai selepas jam kerja. Pukul enam atau tujuh sore, kafe ini dipenuhi orang-orang yang baru pulang atau pengunjung setia yang memang sengaja datang untuk nongkrong. Mereka minum, makan, rapat, pacaran atau sekadar ngobrol-ngobrol asyik bersama teman-teman. Ada pula yang ngopi sambil menunggu kemacetan reda, browsing memanfaatkan Wi-Fi gratisan atau sekadar mencari colokan listrik untuk mengisi batere gadget yang sudah lemah. Atau,menjadikannya sekadar tempat singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan entah ke mana.

Sekarang hanya ada tiga meja yang terisi. Satu meja ditempati sepasang remaja yang tampak baru mulai pacaran. Usia mereka mungkin masih 19-20 tahunan. Sejak muncul dari pintu masuk, tangan mereka hampir tak pernah lepas, terus-terusan berpegangan. Si lelaki tiap sebentar merapikan rambut yang tergerai di dahi si perempuan yang punya wajah cantik dan senyum yang manis. Dan si perempuan tiap sebentar meninju bahu si lelaki yang agak gemuk tapi tampan dengan gemas, saat lelaki muda itu melontarkan canda. Kemesraan mereka seolah tak habis-habis, membuat siapa pun yang melihat jadi sedikit iri. Kalau ini bukan Indonesia, aku yakin keduanya sudah saling rangkul dan berciuman. Mereka berpotensi menjadi pasangan yang serasi. Tiap sebentar tersenyum. Tiap sebentar saling berbisik. Aduhai.

Meja kedua ditempati dua orang lelaki yang mungkin berusia pertengahan 30-an, dua orangy ang tampak sedang reuni kecil-kecilan, mungkin dua sahabat yang sudah lama tak jumpa, tiap sebentar keduanya tertawa, sesekali terpingkal-pingkal. Pasti ada lelucon masa lalu yang membuat mereka seperti itu.

Meja ketiga, meja yang berada paling dekat ke pintu masuk, ditempati seorang gadis muda berumur kira-kira 25 tahun. Dia gadis yang cantik. Kulitnya bersih dan terang. Hidungnya pun bangir. Di bibirnya yang pucat, dia memoles lipstik warna beige pekat, yang membuat wajahnya tampak lebih pucat. Gadis itu mengenakan baju dan rok panjang sampai ke mata betis yang dua-duanya didominasi warna hitam. Dia juga membawa sebuah tas jinjing yang juga didominasi warna hitam. Sejak datang, matanya yang gelisah tiap sebentar menoleh ke arah pintu masuk, bahkan kadang-kadang tatapannya tampak lebih jauh, menembus dinding-dinding kaca kafe, sampai ke perempatan yang ramai oleh kendaraaan dan orang yang lalu-lalang. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang, mungkin teman atau pacar. Di depan meja gadis itulah sekarang aku sedang berdiri menunggu dia memesan.

“Saya pesan segelas cappuccino,” katanya. “Oke. Cappuccino satu. Ada lagi?” Aku mencatat di buku kecilku. Gadis itu melirik jam tangannya, memikirkan sesuatu beberapa detik, kemudian menjawab, “Itu saja. Saya sedang menunggu seseorang. Mungkin nanti kalau dia datang, saya akan pesan lagi.” “Oh, baik. Jadi, satu cappuccino, ya. Saya akan siapkan.” “Terima kasih.” “Sama-sama.” Aku pergi, dan beberapa menit kemudian datang lagi membawa pesanan gadis itu. Saat aku mau kembali ke belakang, gadis berbaju hitam itu bertanya, “Menurut Mbak, apakah di Depok sekarang sedang hujan?” Aku mulanya heran mendengar pertanyaan itu. Kenapa tiba-tiba gadis itu menanyakan itu? Tapi kemudian aku menyahut, “Saya tidak tahu, Mbak. Tapi belakangan ‘kan memang sering hujan. Di luar juga sedang mendung sepertinya.” “Jadi menurut Mbak, apakah di Depok sedang hujan?” kejarnya lagi. Aku tersenyum. Pertanyaan yang sama dan sudah kujawab. Tapi dengan ringan aku menjawab kembali, “Sepertinya begitu.” Gadis itu diam. Jawabanku berlalu bagai angin begitu saja. Merasa percakapan itu telah selesai, aku memutar badan mau beranjak pergi. Tapi gadis itu tiba-tiba berkata lagi, “Ya, semoga dia tidak kehujanan di jalan.” “Maaf?” “Orang yang saya tunggu.” “Oh.” Aku menunggu sebentar, berjaga-jaga kalau gadis itu masih ingin bicara, tapi ketika dia mengeluarkan novel “Norwegian Wood” karya penulis Jepang Haruki Murakami dari dalam tas hitamnya dan mulai membaca, aku meninggalkannya. Menit-menit berlalu seperti biasa. Sejoli yang tampak seperti baru jadian tertawa terkikik-kikik, membuat dua pria di meja lain melirik mereka sembari tersenyum. Dua pria itu tak lama kemudian bangkit dari kursi masing-masing, bersalaman, kemudian salah seorang di antaranya melangkah ke pintu. Pria satunya lagi kemudian mengeluarkan laptop dari sebuah tas ransel, kemudian asyik dengan benda itu. Seorang remaja berpakaian seragam SMA masuk ke kafe, memesan segelas besar Ice Blended Cappuccino kemudian pergi lagi. Lalu, ada satu pelanggan lagi datang dan memesan kopi untuk dibawa pergi. Pukul empat sore kurang beberapa menit, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Jendela kaca kafe berembun, dan beberapa pejalan kaki yang menghindari hujan merapatkan diri ke pinggiran kafe, membuat cahaya di dalam jadi semakin gelap. Gadis yang duduk sendirian melambaikan tangan ke arahku. Aku datang mendekat. “Saya pesan secangkir kopi. Kopi hitam, tanpa gula,” katanya. Aku menggangguk. “Ada lagi?” tanyaku. Dia menggeleng. Gelas Cappuccino-nya hanya berkurang sedikit, mungkin baru seteguk. Bekas lipstiknya menempel di bibir cangkir yang berwarna putih santan. Lalu, dia kini memesan secangkir kopi pahit. Aku berpikir, jangan-jangan dia tak suka cappuccino buatan kami kemudian memesan yang lain. Tapi tunggu… secangkir kopi pahit? Aku jarang menemukan perempuan yang suka jenis minuman ini. “Kopi pahitnya bukan buat saya, tapi pacar saya, dia sebentar lagi datang,” katanya seolah tahu isi kepalaku. Mendengar kata-katanya itu, aku terus terang jadi sedikit kikuk, kalau tak mau disebut malu. Tatapan matanya—yang baru kusadari ternyata maniknya teramat hitman—kini membuatku agak gugup. Cepat-cepat aku minta maaf kemudian berlalu. Sambil membuatkan kopi pahit pesanannya, aku berpikir aneh: jangan-jangan gadis itu punya indra keenam yang bisa membaca pikiran orang lain. Aku mengantar kopi hitam tanpa gula pesanannya dan cepat-cepat kembali ke belakang konter tempat tugasku. Beberapa orang yang terjebak hujan akhirnya memilih masuk ke dalam kafe dan duduk-duduk minum kopi sambil menunggu hujan berhenti. Aku dan rekanku Rio bergantian melayani mereka. Pukul setengah lima, hujan mulai reda, dan kerumunan orang-orang di balik dinding kaca kafe pergi satu-satu. Sepasang sejoli yang baru jadian dan pria yang duduk sendirian akhirnya juga pergi, dan kini di kafe hanya ada satu tamu; gadis bermanik mata hitam itu. Manajerku keluar dari kantor yang ada di belakang dapur, bicara basa-basi denganku dan Rio soal cuaca dan curhat tentang kemacetan yang kian parah, kemudian pergi lagi ke ruangan kerjanya beberapa menit kemudian. Rio pergi pipis ke toilet dan kini hanya ada aku dan gadis itu, gadis yang sedang menunggu pacarnya. Di depan kafe tampak sepi. Daniel, anak magang yang bertugas menyambut tamu tampak berdiri dengan tampang bosan. Aku mengisi kekosongan dengan merapikan bungkus gula dan krim sambil nonton televisi yang tergantung di pojok kafe. Aku nonton acara infotainment seperti biasa, tentang artis kawin-cerai, dan hal-hal semacam itu. Lalu, aku mendengar suara itu, suara isak perempuan. Awalnya kupikir suara isak dari acara di televisi, tapi suara itu begitu dekat denganku. Ternyata gadis berbaju hitam itulah yang terisak. Awalnya isakannya nyaris tak terdengar, tapi makin lama makin jelas. Aku agak bingung. Apa yang harus kulakukan? Diam saja atau bertanya? Aku memilih yang pertama. Mungkin dia cuma butuh beberapa detik untuk melepas perasaan sedihnya. Biarkan saja. Tapi memasuki menit ketiga, isak itu tak juga berhenti. Apakah gerangan yang membuat dirinya seduka itu? Rio, teman sejawatku datang dari toilet dan langsung ikut terpaku menatap gadis yang sedang terisak itu. “Kenapa dia, Del?” bisik Rio. Aku menggeleng. Rio juga tampak bingung. “Samperin saja, sana,” kata Rio sambil menyenggol pelan siku tanganku. Aku bergeming, meneruskan menonton televisi. “Kamu aja sana,” kataku pada Rio. Rio memilih pura-pura sibuk merapikan meja. Isak gadis itu kini berubah jadi tangisan. Tepat pada saat itu, dua orang tamu pria masuk dan langsung menatap heran ke arah gadis itu. Aku dan Rio saling pandang. Ini mulai tak baik. Salah seorang dari kami harus melakukan sesuatu. Rio memilih melayani tamu yang baru masuk, dan aku terpaksa melangkah mendekati gadis itu. “Mbak… maaf, ada apa? Kenapa Mbak menangis?” Aku menata baik-baik kata-kata yang meluncur dari mulutku. Bagaimanapun, aku adalah seorang pelayan dan gadis itu tamuku. Aku harus sesopan mungkin bertanya, agar tak menyinggung perasaannya. Gadis itu menatapku, lalu cepat-cepat menyapu airmata di pipinya dengan saputangan yang juga berwarna hitam. “Ah, maaf, Mbak. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud…” Dia berusaha sekuat tenaga mengulas senyum. Meskipun kini tangisnya sudah berhenti, tetap saja dia gagal mengubur kesedihan itu dari matanya. Usahanya untuk menghapus dukanya tampak sia-sia saja. Aku mendadak merasa iba. Aku jadi ingat Ranti, adik sulungku, yang suka menangis. “Mbak mau saya ambilkan air putih? Air putih bisa…” kata-kataku tertahan saat gadis itu tiba-tiba meraih lengan kananku dan melalui gerakan yang lembut menyuruhku duduk di depannya. “Maukah menemani saya sebentar?” katanya meminta, atau lebih tepatnya memohon. Lewat sudut mata, aku menoleh ke arah Rio yang sedang sibuk menyiapkan pesanan para tamu, minta pendapat. Rio hanya mengangkat bahu, lalu kembali sibuk. Aku tak punya pilihan yang lebih baik, jadi kuputuskan duduk di depan gadis itu lalu memberanikan diri menatap matanya. “Apa yang bisa saya bantu, Mbak? Maaf saya bukannya tidak sopan, tapi…” “Maafkan saya. Saya menangis karena baru saja diputuskan oleh pacar saya. Saya sedih sekali. Saya tidak menyangka sama sekali dia memutuskan hubungan kami.” Suaranya parau. Aku tidak tahu harus berkata apa, jadi aku diam saja. Tangisnya kembali pecah. Rio menatap dari kejauhan dengan gestur bertanya, aku menggeleng pelan. Setelah menghapus air matanya dengan saputangan, gadis itu meneruskan, “Dia terlambat karena jalanan macet akibat hujan lebat. Tempat parkir mobilnya agak jauh dan dia tidak bawa payung. Jadi dia menerobos hujan deras untuk sampai ke sini. Pakaiannya dan rambutnya basah kuyup. Dia tadi langsung minum kopi yang saya pesan, sampai tak bersisa, mungkin dia kedinginan. Dia memang suka sekali kopi hitam, beda sekali dengan saya. Dia bilang dia sering ke sini, makanya mengajak saya bertemu di sini. Saya sendiri baru pertama kali ke sini. Mungkin Mbak sudah akrab dengan wajahnya. Dia tadi bilang Mbak sering melayaninya.” Aku bingung. Kucerna lagi apa yang dikatakan gadis itu. Dia bilang pacarnya datang dengan kondisi basah kuyup, duduk bersamanya persis di tempat aku duduk sekarang, dan meminum kopi hitam yang tadi dipesan gadis itu. Tapi aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu saat datang atau saat pergi. Aku hanya tahu gadis itu duduk menunggu sejak pukul setengah tiga, memesan Cappuccino kemudian kopi hitam, dan beberapa menit yang lalu terisak-isak sendirian. Tak ada lelaki. Tak ada siapa pun kecuali aku dan Rio. “Maaf, tapi tak ada yang datang dan duduk di sini bersama Mbak sejak tadi,” kataku. Gadis itu menatapku, kini dengan sorot sedikit heran. “Apa maksud Mbak?” “Ya, saya tidak ke mana-mana sejak tadi. Saya tidak lihat ada orang duduk dan ngobrol dengan Mbak di meja ini,” kata saya menjelaskan. “Jadi, maksud Mbak saya mengarang-ngarang cerita itu?” Kini aku bingung. Entah mana yang harus kuutamakan, menghargai perasaan tamu atau menghormati keyakinanku sendiri. Sumpah disambar gledek, aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu. “Maaf, Mbak, saya tidak bermaksud begitu. Tapi saya memang tak melihat pacar Mbak itu.” “Coba tanya teman Mbak yang menjaga pintu masuk, dia pasti ingat,” katanya, kini dengan nada agak sengit. Aku ke depan memanggil Daniel. Kuceritakan apa yang terjadi. Di depanku dan gadis itu, Daniel mengerutkan keningnya. Pemuda 19 tahun itu menggeleng. “Tidak, Mbak Della, saya tidak lihat orang denganciri-ciri seperti itu masuk ke kafe,” katanya. Mendengar jawaban Daniel, gadis itu tiba-tiba bangkit, buru-buru mengambil selembar seratus ribuan dari dalam dompet dan menaruhnya di atas meja, kemudian beranjak ke pintu dengan lagak kesal. Begitu tubuhnya hilang di koridor, aku mengambil uang itu dan mengemasi gelas kopi di atas meja. “Aneh banget ya, Mbak,” kata Daniel. “Banget,” sahutku. “Ya, sudah, terima kasih, Daniel, silakan kembali ke depan lagi.” Daniel pergi. Aku mengangkat nampan ke dapur. Saat meletakkannya di tempat cuci piring, sesuatu membuatku nyaris terhenyak. Cangkir kopi hitam yang dipesan gadis tadi untuk pacarnya sudah kosong. Tidak itu saja, aku tiba-tiba merasa bagian pantat celanaku agak lembab. Aku pergi memeriksa jok kursi tempat aku duduk bersama gadis tadi, dan jok kursi itu lembab seperti baru ditumpahi air. Aku kembali teringat cerita gadis itu tentang pacarnya. Apakah dia berkata yang sebenarnya? Seketika aku merinding.[] © Melvi Yendra, 2014

Standard
Journal

Unsung Hero, Dinda, dan Kita

BEBERAPA hari lalu, saya nonton sebuah TV Commercial (TVC) di situs YouTube yang di-share banyak orang baik di Twitter maupun Facebook. Iklan milik sebuah perusahaan asuransi di Thailand ini diberi judul “Unsung Hero”, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Situs 9GAG.tv melabeli TVC ini dengan judul yang menarik perhatian: This Heartwarming Thai Commercial Will Make You Cry. Inilah yang membuat saya penasaran dan ingin membuktikan; benar nggak sih saya bisa nangis lihat iklan ini?

Adalah seorang pemuda, orang Thailand, seorang pegawai rendahan sepertinya, yang melakukan beberapa hal yang berulang-ulang setiap hari, hal-hal yang mungkin sebagian besar kita juga pernah melihat atau “berhadapan” langsung dengannya, tapi mungkin luput kita perhatikan dan luput menyentuh kita untuk berbuat sesuatu.

Pertama, pemuda ini menemukan sebuah “kesia-siaan” air yang terbuang percuma dari saluran pembuangan sebuah rumah di ruko berlantai dua di pinggir jalan. Tak jauh dari tempat air itu jatuh, ada pot dengan setangkai bunga yang sudah mati kekeringan. Pemuda bertampang ndeso ini menarik pot bunga itu sedikit, sampai tumpahan air tepat menyirami rerantingnya yang sudah kerontang.

Kedua, adalah seorang Ibu Pendorong Gerobak Dagangan–sebut saja begitu–yang tak kuat mengangkat gerobak dagangannya yang berat memanjat trotoar. Kembali, si Unsung Hero ini datang menjadi pahlawan, dan membantu si Ibu Dagangan Gerobak menyelesaikan persoalan kecilnya.

Ketiga, saat makan siang di warung pinggir jalan, si pemuda didatangi seekor anjing tak bertuan, anjing lapar tentunya, dan si pemuda memberikan seluruh ayam yang jadi lauk makan siangnya pada di anjing. Hal ini membuat si pemilik warung tergeleng-geleng heran.

Keempat, ia bertemu dua pengemis perempuan, yang satu dewasa, satu lagi masih kecil, ibu dan anak pastinya. Di depan keduanya ada tulisan “For Education” (dalam bahasa Thailand). Si pemuda mengeluarkan dompet dan satu detik kemudian seluruh isi dompetnya berpindah ke dalam mangkuk di tangan si bocah perempuan. Di hari kedua, saat kembali memberi ibu-anak pengemis itu uang, pedagang kacamata tak jauh dari sana menggeleng-gelengkan kepala.

 

Kelima, saat sudah sampai di rumah, si pemuda diam-diam menggantung sesisir pisang di atas handel pintu sebuah petakan. Kita kemudian melihat, penghuni petakan itu adalah seorang nenek jompo, yang terheran-heran melihat ada pisang tanpa tuan di handel pintunya, tanpa tahu siapa yang meletakkannya di sana.

Keenam, di hari lain, si pemuda memberikan tempat duduknya di bus pada seorang perempuan muda yang tidak kebagian tempat duduk. Mereka tak saling kenal, tapi lalu berbagi senyuman.

Enam hal itulah yang terjadi. Dan, rupanya, nasib membuat si pemuda ini bertemu lagi dengan Bunga Kering, Ibu Pendorong Gerobak Dagangan, Anjing Lapar, Sepasang Pengemis, Nenek Jompo, dan Perempuan yang Berdiri dalam Bus.

Sampai di sana, saya tak menemukan hal yang membuat saya harus menangis, atau paling tidak, berkaca-kaca. Tapi, adegan-adegan selanjutnya dari video berdurasi 3 menit 5 detik itu akhirnya berhasil membuat saya meneteskan air mata.

Apa yang terjadi? Di hari lain, saat mau memberi uang pada sepasang pengemis, si pemuda tak melihat si bocah kecil. Cuma ada ibunya di sana. Saat wajahnya masih bertanya-tanya, si pemuda mendengar suara bocah perempuan memanggil ibunya. Saat itulah, kemudian, film ini menayangkan adegan yang berhasil menyentuh perasaan saya. Saat si pemuda menoleh ke asal suara, ia melihat si gadis kecil, dalam pakaian sekolah, berdiri tak jauh darinya, dengan senyum malu-malu. Adegan inilah yang membuat mata saya berkaca-kaca.

Tapi, cerita belum selesai. Bunga Kering dalam pot di pinggir jalan akhirnya tumbuh segar lagi, bahkan berbunga, bahkan kemudian ada rama-rama hinggap di pucuknya. Si Anjing Lapar, suatu hari akhirnya mengikuti si pemuda pulang ke rumahnya, dan tinggal di sana. Si Nenek Jompo akhirnya tahu siapa pahlawan tak dikenalnya, dan atas kebaikannya itu, si pemuda mendapat pelukan hangat dari tubuh ringkihnya. Video ini selesai.

Saya lalu merenung. Oke, ini hanya sebuah iklan, bukan kisah nyata, yang dibuat sedemikian rupa hanya agar orang tersentuh. Oke, ini Thailand, bukan Indonesia, dan di sini, kita dilarang memberi uang pada pengemis di jalanan. Oke, mungkin saya yang cengeng dan terlalu gampang mengumbar air mata. Tapi coba Anda lihat gambar hasil screenshot di bawah ini:

 

Ya, pagi ini saya membaca kehebohan yang muncul dari komentar seseorang bernama Dinda di akun Path-nya, yang melontarkan kebencian dan kekesalannya pada perempuan hamil di atas kereta yang ujuk-ujuk minta tempat duduk, dan “tak mau usaha”. Nama Dinda langsung ramai dibincangkan, ia bahkan di-bully atas komentarnya itu. Beberapa temannya mendukungnya, tapi sebagian besar orang mencaci maki komentarnya itu.

Saya berpikir, ternyata rasa perisa orang Indonesia benar-benar mulai hilang. Mungkin saya salah, dan kasus Dinda memang tak bisa dijadikan ukuran untuk menyebut bangsa kita sudah kehilangan hati nurani. Saya memang tak bisa main pukul rata begitu saja. Tapi paling tidak, buat saya, apa yang dilontarkan Dinda adalah sedikit dari “ketidakpedulian” yang akhirnya bocor ke permukaan, ketidakpedulian yang berhasil menampakkan wajah aslinya, yang selama ini berhasil disimpan rapat-rapat entah di mana.

Kebencian yang dilontarkan Dinda di Path, adalah pucuk gunung es dari samudera ketidakpedulian kita pada sesama. Dinda barangkali hanya keceplosan memuntahkan kekesalan hatinya, dan dia sudah menerima akibatnya. Tapi selain Dinda, jutaan orang di negara ini sebenarnya memang tak peduli, bedanya, mereka tak keceplosan merutuk, ngomel, dan melontarkan kejijikannya pada perempuan hamil seperti Dinda.

Selama ini, jagad ketidakpedulian itu berhasil di simpan rapat-rapat, ditutup-tutupi dengan wajah-wajah palsu kita. Dalam bahasa ringkas, bangsa ini sebenarnya memang tak punya lagi kepedulian. Kita bukan pemuda lugu dalam video Unsung Hero. Bahkan kita mungkin adalah sosok-sosok seperti si Tukang Warung dan si Tukang Kacamata dalam video itu, yang cuma bisa menggeleng melihat seseorang berkorban demi orang lain. Semoga saya salah.

Dinda dan kita bukanlah si Unsung Hero. Kita tak pernah menyelamatkan hidup setangkai bunga bukan punya kita di pinggir jalan (ada yang pernah?). Kita tak pernah membantu ibu-ibu pedagang mendorong gerobaknya yang berat di tengah pasar ( ada yang pernah?). Kita tak pernah memberi makan anjing lapar dengan sepotong daging ayam dari piring kita (ada yang pernah?). Kita tak pernah memberi pengemis uang tanpa disertai perasaan curiga jangan-jangan ini pengemis gajinya dua-tiga kali lipat besarnya dari kita (ada yang pernah?). Dan, kita tak pernah peduli pada para tetangga kita yang hidupnya papa (ada yang pernah?).

Sebagian kita mungkin masih peduli. Tapi, mungkin, sambil merutuk di dalam hati. Jadi, Dinda dan kita, sebenarnya serupa tapi tak sama.[]

Standard
Journal

The Other Son (2012)

JOSEPH SILBERG (Jules Sitruk), yang berusia 18 tahun, tengah menjalani serangkaian tes untuk mengikuti wajib militer di Israeli Defence Forces (Angkatan Pertahanan Israel). Saat menerima hasil tes darah, Orith, ibu Joseph, menemukan keanehan karena jenis darah Joseph berbeda dari mereka. Setelah menjalani tes lagi, termasuk DNA, mereka menemukan Joseph bukanlah anak mereka.
Konflik yang awalnya terjadi hanya di lingkungan keluarga, belakangan merembet menjadi xenophobia antara dua bangsa yang sudah sekian lama saling membenci. Penyelidikan yang dilakukan di rumah sakit tempat Joseph dilahirkan 18 tahun silam, memberi hasil yang mengejutkan. Serangan bom yang terjadi pada malam ia lahir, membuat orok Joseph Silberg tertukar dengan bayi lain di tempat penampungan. Celakanya, bayi lain itu adalah putra sebuah keluarga Palestina. Bayi itu, Yacine Al Bezaaz, lahir pada malam yang sama.
Fakta bahwa satu keluarga Yahudi telah membesarkan seorang anak Palestina, dan satu keluarga Palestina telah membesarkan satu anak Yahudi, menjadi urat nadi konflik dalam film ini. Persoalannya justru bukan karena mereka jadi jijik karena telah membesarkan anak seorang musuh, tapi sebaliknya, cinta mereka sudah terlalu besar sehingga ketakutan terbesar mereka justru si anak kembali ke keluarga asalnya.
Sejak awal, film besutan sutradara Lorraine Lévy ini sudah merangsang rasa ingin tahu penonton. Tiap menit, penonton menunggu, apa yang akan terjadi antara dua keluarga dari dua bangsa yang sampai hari ini masih saling serang itu. Cerita berkembang di bawah masalah yang melibatkan konflik Israel-Palestina di mana kedua ayah enggan menerima situasi ini, yang tak rela melepas anak bujang mereka kembali ke tempat asalnya, sementara kedua ibu bahagia dengan harapan bisa semakin dekat dengan anak-anak kandung mereka. Joseph adalah calon musisi, yang punya karier gemilang di masa depan, dan Yacine baru saja lulus dari kuliah dokter di Prancis. Dua remaja ini anak kesayangan di masing-masing pihak, di punggung mereka tersampir banyak cinta, harapan, dan kebanggaan semua keluarga.
Lorraine Lévy lalu menggiring film ini dengan pesan yang teramat manis. Segala persoalan dan konflik ini kemudian ternyata bisa diselesaikan dengan mudah. Pusat persoalan, Joseph dan Yacine, lucunya, malah akrab bagai dua saudara kembar yang sudah lama terpisahkan, menjalin persahabatan yang di mata keluarga masing-masing tampak “aneh”, seaneh kedekatan seorang Palestina dan seorang Israel hari ini. Karena kedua anak laki-laki ini berteman, kedua keluarga harus mengevaluasi kembali keyakinan dan sikap xenophobia mereka sebelum terhubung dengan identitas asli mereka.
Apakah Joseph dan Yacine akhirnya angkat koper dari rumah masing-masing dan kembali ke keluarga asal mereka yang berada di balik tembok tinggi yang memisahkan Israel dan Palestina? Saya tidak ingin tulisan ini jadi spoiler. Silakan cari sendiri filmnya dan cari tahu sendiri akhirnya.[]
Judul: The Other Son
Sutradara: Lorraine LévyProduser: Virginie Lacombe, Raphael BerdugoPemain: Emmanuelle Devos, Pascal Elbé, Jules Sitruk, Mehdi Dehbi, Areen Omari, Khalifa NatourMusik: Dhafer YoussefRilis: 23 Maret 2012 (Alès Film Festival), 4 April 2012 (Prancis)Durasi: 110 menit
Standard
Journal

Di Bawah Bendera Merah, Mo Yan, 2013


SAYA merasa agak rendah diri mau membahas buku Pemenang Hadiah Nobel Sastra 2012 ini. Soalnya, para suhu dan senior saya sudah sangat dalam mengulasnya, di antaranya bisa Anda tengok di Artefak Kenangan Mo Yan oleh Damhuri Muhammad, atau ulasan yang apik dari Hernadi Tanzil di “Di Bawah Bendera Merah by Mo Yan“.
Yang ingin saya sampaikan tentang buku ini, bahwa perjalanan hidup Mo Yan, yang berangkat dari masa-masa kecil dan remajanya yang sulit, tetap bisa menjadi kisah yang menarik. Nyaris tak ada kata-kata sulit yang tak terpahami; semuanya diungkapkan dengan kata-kata dan kalimat yang sederhana, tak berbelit-belit (juga tak bergenit-genit dengan diksi). Perasaan cinta, getar-getir pengungkapannya, dan bagaimana semua kegalauannya terselesaikan, juga diungkapkan dengan enak. Akhir kisah Mo Yan dan Lu Wenli, si gadis yang diam-diam dia cintai, juga berakhir sangat wajar: tanpa drama seperti telenovela, tanpa air mata.
Tentu, bukan sisi ini saja yang membuat karya Mo Yan ini merebut penghargaan paling bergengsi di panggung sastra dunia, dan berhak atas hadiah uang sekitar 12 miliar rupiah. Mo Yan, lagi-lagi dengan santai membawa sosok sebuah truk Gaz 51, sebuah truk militer buatan Soviet, truk yang dipakai oleh tentara Cina semasa perang, menjadi sosok yang sangat hidup, bahkan menjadi urat nadi cerita dari awal hingga akhir.
Akan truk Gaz 51 ini, saya jadi teringat pada kata-kata Melquiades, tokoh gipsi di pembukaan novel One Hundred Years of Solitudekarya Gabriel Garcia Marquez, “Tiap benda memiliki hidupnya sendiri, persoalannya hanyalah bagaimana membangunkan jiwa mereka.” Bagi Mo Yan–juga bagi semua anak lelaki lain di desa kelahirannya–truk Gaz 51 adalah benda impian yang dibawa-bawa sampai ke tempat tidur, tidak hanya membuat decak kagum, tapi menjadi hasrat yang terbawa-bawa sampai mereka dewasa. Dan itu terbukti pada teman masa kecil Mo Yan lainnya, He Zhiwu.
Sayangnya, novel otobigrafis setebal 140 halaman ini terlalu “pelit” mengungkap proses kreatif sang pengarang. Mo Yan sedikit sekali bercerita tentang proses kreatif kepengarangannya, terutama bagaimana novel-novelnya yang sangat terkenal, dilahirkan. Mungkin Mo Yan tak ingin rahasia dapurnya terdedah terlalu banyak ke ruang publik, atau memang dia punya alasan lain yang belum kita ketahui. Lepas dari itu semua, buku ini sangat saya rekomendasikan.[]
Data Buku:
Judul: Di Bawah Bendera Merah
Penulis: Mo Yan
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penerbit: PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Juli 2013
Tebal: 140 hlm
Standard
Journal

Norwegian Wood (2010)


MEMBANDING-bandingkan sebuah novel dengan versi film dari novel tersebut memang perbuatan yang “tak adil”, selain itu juga (terkadang) tak ada gunanya, tapi itulah yang sering saya lakukan. Usai membaca sebuah novel, saya akan menonton versi filmnya, itu pun bila novelnya diangkat jadi film. Baca novelnya kemudian tonton filmnya, kemudian bandingkan, begitulah pola yang sering saya lakukan. Jarang-jarang sebaliknya. Saya sering menyesal membaca sebuah novel yang filmnya sudah saya tonton duluan. Kenapa? Biasanya imajinasi saat menonton film kalah kampiun dibanding imajinasi saat membaca novel.
Sudah lazim terjadi, versi film dari sebuah novel akan berbeda dari novelnya. Beberapa sebab bisa dijadikan alasan, tapi yang terutama tentulah bahwa film tidak bisa memvisualisasikan segala imajinasi yang bisa dibangun oleh sebuah novel di benak pembaca.
Setelah menamatkan “Norwegian Wood” karya penulis Jepang Haruki Murakami, saya mencari-cari film dari novel ini, tapi tak berhasil menemukannya. Mungkin usaha saya kurang maksimal, ya? Film ini dirilis tahun 2010, dan pramuniaga di beberapa toko yang menjual DVD mengaku tak kenal judul film ini. Bahkan seorang Mas-Mas penjual DVD di sebuah toko dengan lucu menjawab, “Saya belum pernah menjual film Norwegia.” Haha. Saya juga mencari film ini ke lapak-lapak penjual DVD bajakan, tapi mereka tak tahu film ini. “Norwegian Wood” mungkin tak sepopuler “The American”, “Black Swan”, “Blue Valentine”, “The King’s Speech”, “Inception”, atau bahkan “Never Let Me Go” (sebuah filmyang diangkat dari novel dengan judul sama karya penulis Jepang, Kazuo Ishiguro) yang dirilis di tahun yang sama dengan film “Norwegian Wood”. Tapi, ya, sudahlah, akhirnya jalan terakhir adalah menontonnya di YouTube, itu pun yang lengkap cuma bersubtitle Lithuania.
“Norwegian Wood” ditulis dan disutradarai oleh Tran Anh Hungdan dibintangi Ken’ichi Matsuyama (sebagai Toru Watanabe), Rinko Kikuchi (sebagai Naoko), dan Kiko Mizuhara (sebagai Midori). Begitu melihat karakter Naoko di film ini, saya langsung teringat film “Babel” di mana Rinko Kikuchi ikut bermain.
Banyak hal yang ada dalam novel tak ada dalam film berdurasi 2 jam 8 menit 22 detik ini. Lagi pula, kalau Tran Anh Hung menampilkan semua yang ada di novel ke layar, film ini akan jauh lebih panjang dan… “membosankan”. Tapi saya mengacungkan jempol untuk kedua-duanya, karena baik novel atau filmnya, sama-sama membuat saya merenung dan memikirkan karakter-karakter yang ada di dalamnya (terutama Wanatabe, Naoko, dan Midori) cukup lama.
“Norwegian Wood” adalah film drama percintaan yang tergolong “berat” untuk disukai penonton kebanyakan, terutama remaja, terutama lagi remaja Indonesia yang tak terlalu suka membaca sastra. Tapi, seperti yang sudah-sudah, kalau sudah jatuh cinta pada novelnya, tentu, seperti saya, Anda akan tertarik menonton filmnya.[]
Standard
Journal

Melestarikan Mahakarya Borobudur Sampai ke Hati

CANDI Borobudur berada di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah, lebih kurang 41 kilometer dari Yogyakarta dan 80 kilometer dari kota Semarang, Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah. Lingkungan geografis Candi Borobudur dikelilingi oleh pegunungan Manoreh di sisi selatan, Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah utara serta terletak di antara Sungai Progo dan Sungai Elo. Candi Borobudur berdiri di atas bukit dengan ketinggian 265 dpl.

Mahakarya Borobudur

Mahakarya Borobudur

Sejarah mencatat, Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga yang memerintah tahun 782-812 M pada masa Dinasti Syailendra. Pembangunan tahap pertama dilaksanakan tahun 780 M. Selanjutnya tahap kedua dan ketiga diperkirakan berlangsung 792 M. Tahap pembangunan keempat terjadi 824 M dan tahap kelima pada 833 M.

Namun, meski dibangun pada abad VIII-IX Masehi, oleh sebab-sebab yang belum diketahui dengan pasti, Candi Borobudur kemudian ditinggalkan oleh masyarakatnya. Bangunan ini tak terjamah peradaban manusia dan kemudian terkubur selama lebih kurang 900 tahun sampai akhirnya pada tahun 1814, Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stanford Raffles, berkunjung ke Semarang dan menemukan tanda-tanda adanya candi di bawah sebuah bukit yang sudah dipenuhi pepohonan dan semak belukar. Saat bukit itu digali dan dibongkar, kondisi candi ini sudah setengah hancur dan memerlukan pemugaran total. Namun, upaya penyelamatan baru dilakukan setelah hampir seratus tahun kemudian, yaitu pada tahun 1907-1911 dengan dilakukannya pemugaran pertama oleh seorang perwira zeni Kerajaan Belanda bernama Theodoor van Erp. Setelah dipugar, kondisi candi sudah lebih stabil, namun masih memerlukan pemugaran lebih lanjut, namun kondisi dunia yang dipenuhi gejolak perang pada saat itu membuat perhatian terhadap candi ini terabaikan. Barulah pada tahun 1973-1983, pemugaran terhadap Candi Borobudur kembali dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia bekerjasama dengan UNESCO.

Pemeliharaan dan pemugaran candi dalam skala kecil tetap dilakukan sampai sekarang.

Pemeliharaan dan pemugaran Candi Borobudur dalam skala kecil tetap dilakukan sampai sekarang.

TAHUN ini, saya berkesempatan mengunjungi Candi Borobudur sebanyak dua kali; dua-duanya dalam rangka penelitian dan riset untuk penulisan naskah film bertema Borobudur. Selama masa riset, tim kami didampingi berbagai pihak, baik instasi pemerintah maupun lembaga-lembaga sosial-budaya setempat. Bahkan, khusus untuk memaparkan bagaimana Candi Borobudur dipugar pada tahun 1973-1983, kami didampingi oleh Bapak Ismijono, Kepala Pemugaran Candi Borobudur pada masa itu.

Saya (paling kanan) bersama anggota tim riset film Borobudur berfoto bersama Bapak Ismijono (paling kiri), mantan Kepala Pemugaran Candi Borobudur 1973-1983

Saya (paling kanan) dan anggota tim riset film Borobudur berfoto bersama Bapak Ismijono (paling kiri), mantan Kepala Pemugaran Candi Borobudur 1973-1983

Tak bisa dibantah, Borobudur adalah mahakarya yang teramat memesona. Bukan bagi masyarakat Indonesia saja, tapi juga masyarakat seluruh dunia. Borobudur dibangun dengan perencanaan yang matang, dan memerlukan waktu puluhan tahun untuk menyelesaikannya. dikagumi oleh pengunjung dari seluruh dunia. Tak sedikit lembaga atau instansi asing yang melakukan riset dan penelitian terhadap candi ini serta seluruh aspek yang melingkupinya. Bahkan, belakangan, para sineas dari luar negeri tertarik untuk memfilmkan candi ini atau menjadikan Candi Borobudur sebagai latar cerita dalam film-film mereka.

Kekaguman saya pada monumen ini tak habis-habis sejak dulu. Sejarah mencatat Borobudur yang dibangun pada sekitar abad VIII-IX Masehi ini menjadi bukti bahwa wilayah Jawa Tengah pernah mengalami masa-masa kejayaan sehingga mampu membangun sebuah candi yang teramat megah yang masyhur ke seluruh dunia. Jauhnya rentang masa itu dengan masa sekarang, dapat disimpulkan, nenek moyang kita ternyata manusia-manusia luar biasa, memiliki pemikiran yang cerdas, yang dengan teknologi masa itu yang sangat terbatas mampu mendirikan bangunan semegah Candi Borobudur.

Kini, setelah 100 tahun pascapemugaran yang pertama dan pemugaran yang kedua, kondisi Candi Borobudur sudah jauh lebih stabil. Teknologi memudahkan pemantauan perubahan struktur bangunan dalam skala tertentu yang terjadi pada bangunan Candi Borobudur. Sempat muncul kekhawatiran saat erupsi Merapi tahun 2010 lalu, karena abu vulkanik yang disemburkan Gunung Merapi yang menutupi seluruh bangunan candi diduga akan merusak batu andesit yang menjadi bahan utama bangunan candi. Namun, upaya pembersihan sudah dilakukan oleh para ahli, dan dinyatakan bangunan Candi Borobudur tidak mengalami kerusakan.

Candi yang pernah menjadi salah satu dari 7 Keajaiban Dunia ini kini telah diwariskan oleh leluhur kepada kita, anak bangsa yang masih hidup. Semangat untuk selalu melestarikan Candi Borobudur yang sudah dimulai pada masa pemerintahan Hindia Belanda sampai masa sekarang tentulah harus terus dilanjutkan di masa-masa yang akan datang. Dengan begitu, keberadaan Candi Borobudur sebagai salah satu karya budaya nenek moyang bangsa Indonesia akan dapat diwariskan terus kepada generasi selanjutnya.

Upaya Dji Sam Soe menggelar ini merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap mahakarya buatan manusia Indonesia, termasuk tentunya Candi Borobudur. Ajang ini memberikan peluang kepada putra-putri bangsa untuk ikut andil dalam mengapresiasi puncak hasil kreatifitas manusia nenek moyang yang tetap berangkat dan berpijak dari tradisi / kearifan lokal Indonesia dan seluruh ciptaan Tuhan dengan keunikannya masing-masing yang masih bertahan, bahkan berkembang di era modern saat ini.

Kemegahan Candi Borobudur bukan hanya untuk dinikmati pesonanya, tapi juga untuk dipelajari sejarah pembangunan dan filosofi dan kearifan lokal di masa lampau yang terkandung di dalam relief-reliefnya. Mewariskan benda budaya bukan hanya dengan menjaga kelestarian fisik bangunannya, tetapi, yang paling utama adalah bagaimana melestarikannya di hati dan di dada seluruh anak bangsa. Seperti kata Pak Ismijono pada saya, “Banyak peradaban di dunia bermimpi memiliki monumen mahakarya seindah Borobudur, kita yang sudah ditakdirkan memiliki, jangan sampai menyia-nyiakannya.”[]

Standard
Journal

Karnaval Kehilangan Haruki Murakami


BENAR sudah apa yang dikatakan Virginia Quarterly Review saat mendeskripsikan novel-novel Haruki Murakami: “mudah dimengerti, namun dalam dan kompleks.” Meski baru membaca dua bukunya, saya setuju dengan pendapat itu. “Dengarlah Nyanyian Angin”, yang memenangi Gunzo Literary Award tahun 1979 adalah buku Murakami pertama yang saya kunyah-kunyah (akan saya ulas pula di lain kesempatan). Tuntas dengan buku itu, saya kemudian melahap habis “Norwegian Wood”, buku yang sebenarnya sudah cukup lama diterbitkan terjemahan Indonesianya (KPG, Juli 2005), namun baru sempat saya baca baru-baru ini.
Toru Wanatabe, karakter utama dalam novel ini adalah anak muda Jepang yang berteman dengan Kizuki, dan juga pacar Kizuki yang bernama Naoko. Setelah Kizuki mati bunuh diri, Naoko belakangan dekat dengan Wanatabe dan keduanya saling jatuh cinta. Namun, karena kondisi kejiwaan Naoko yang tak terlalu stabil, mereka terpaksa berpisah kota, dan itu menyakitkan buat keduanya, terutama Naoko. Sementara berusaha menekan rasa hampa karena ketiadaan Naoko, Wanatabe bertemu Midori, gadis sekampusnya, yang kemudian jatuh cinta setengah mati pada pemuda pendiam yang bekerja paruh waktu di sebuah toko penyewaan piringan hitam itu.
Karakter-karakter yang muncul dalam Norwegian Wood adalah karakter-karakter sunyi dan mendung. Hanya Midori yang terlihat ceria, meski sebenarnya Midori punya beban tak kalah rumit yang dibawa-bawanya setiap hari; sakit dan kematian ayahnya, juga kekasihnya yang tak bisa membuatnya bahagia seperti harapannya. Sepanjang membaca novel ini, saya membayangkan suasana Tokyo yang redup, jaket-jaket musim dingin, salju yang menempel di jendela, dan bibir-bibir yang pucat menahan dingin. Wanatabe adalah pemuda tertutup, pilih-pilih teman, penyendiri, menyukai musik dan buku, dan sangat percaya pada kata hatinya sendiri. Novel ini kian sendu karena tiga tokohnya bunuh diri; Kizuki, Naoko, dan Hatsumi (kekasih Nagasawa, teman Wanatabe yang doyan tidur dengan perempuan).
Novel ini banyak mengulas buku yang dibaca, penulis yang digemari, dan juga musik yang didengarkan Wanatabe. Haruki Murakami memang seorang penyuka musik. Entah terkait entah tidak dan mungkin karena itu pula novel ini diberi judul “Norwegian Wood”, satu tembang yang ditulis John Lennon dipopulerkan oleh The Beatles. Dalam cerita, lagu ini sangat disukai Naoko yang di sebuah pusat rehabilitasi berteman dekat dengan Reiko Ishida yang pandai bermain musik dan sering menyanyikan lagu ini untuk Naoko–dan belakangan untuk Wanatabe.
Ruang-ruang gelap dan dingin dalam buku ini memuncak saat Naoko bunuh diri di sebuah hutan yang sepi dan Wanatabe yang uring-uringan menggelandang dan melecut-lecut batinnya sendiri dari satu kota ke kota lain demi “melarikan diri” dari kesedihannya setelah kematian Naoko. Novel ini bicara tentang banyak sekali kehilangan. Kehilangan demi kehilangan yang sepertinya hanya orang yang kehilangan saja yang bisa memahami betapa sakitnya ketika sesuatu dicerabut dari diri mereka.
Saya tak tertarik mengulas kehilangan-kehilangan yang dihadirkan dalam novel ini lebih jauh, karena saya bukan pengulas yang baik. Sebagai penulis, ada banyak yang bisa saya pelajari dari gaya menulis Haruki Murakami terutama “Norwegian Wood”, dan sayangnya saya tidak bisa mengungkapkannya di sini. Saya kini sedang berjuang mendapatkan buku-buku Murakami lainnya, mudah-mudahan yang berbahasa Inggris. Oh, ya, saya juga sudah nonton versi film dari novel ini (terima kasih YouTube!), dan berniat membandingkan keduanya suatu hari nanti.[]
Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Terbit: Mei 2013, (Cetakan ke-4)
Tebal: 426 hal.
Standard
Journal

Mudik 2013: 1380 Kilometer Nan Lancar

TAHUN ini, untuk pertama kalinya saya mudik ke kampung halaman saya, Payakumbuh dengan menyetir kendaraan sendiri, bergantian dengan seorang keluarga jauh yang saya minta menemani. Menyetir sendiri siang-malam sejauh 1380 kilometer melewati hutan-hutan sepi di sepanjang lintas Sumatera tentu bukan pilihan yang bijak, apalagi saya mengajak anak-istri dan seorang ponakan.

Berangkat dari Depok pada Selasa malam 30 Juli 2013 pukul 19.00 WIB, kami sampai dengan selamat di kampung halaman pada Kamis pukul 11.30 WIB. Itu berarti sekitar 40,5 jam perjalanan. Menggunakan sebuah SUV Toyota bermesin 1500 cc, saya menghabiskan sekitar Rp 870 ribu untuk bensin (+/- 133 liter, diisi ulang 3 kali selama perjalanan). Untuk tol sekitar Rp 50.000, untuk bayar kapal ferry Rp 275 ribu, dan untuk makan selama perjalanan sekitar Rp 300 ribu. Bila dihitung total jenderal, biaya perjalanan “hanya” sekitar Rp 1.500.000 saja. Uang segitu setara dengan tiket pesawat Jakarta – Padang untuk satu orang. Lumayan hemat, kan?

Saya memilih rute Lintas Tengah Sumatera, yaitu:

Pelabuhan Bakauheni
Bandar Jaya
Martapura
Baturaja
Muara Enim
Lahat
Tebing Tinggi
Lubuk Linggau
Sarolangun
Bangko
Muara Bungo
Darmasraya
Sijunjung
Payakumbuh

Di antara kota-kota/kabupaten-kabupaten di atas, yang paling rawan kejahatan adalah Lahat dan Lubuk Linggau, tapi alhamdulillah saat melintasi kawasan itu, kami lewat tanpa halangan apa pun juga. Di antara kota-kota di atas, yang paling parah kondisi jalannya adalah Bandar Jaya. Sebagian besar jalan di daerah ini tidak layak. Sementara kota-kota lainnya kondisi jalannya mulus.

Di pintu tol Jakarta Merak

Di pintu tol Jakarta Merak

Pintu masuk Pelabuhan Merak.

Pintu masuk Pelabuhan Merak.

Rehat sejenak di SPBU Bandar Jaya.

Rehat sejenak di SPBU Bandar Jaya.

Melintasi Lintas Tengah Sumatera yang masih lengang.

Melintasi Lintas Tengah Sumatera yang masih lengang.

Masjid Al-Ikhwan Sungai Rumbai Jambi. Perhentian terakhir sebelum kampung halaman.

Masjid Al-Ikhwan Sungai Rumbai Jambi. Perhentian terakhir sebelum kampung halaman.

Standard
Journal

Saya dan Hikayat Sebuah Mesin Jahit Tua

MALAM ini, entah kenapa, kepala saya dipenuhi gambar-gambar mesin jahit. Bukan mesin jahit yang sudah modern dan canggih seperti yang dipakai orang sekarang, tapi mesin jahit tua, dengan sabuk dan pedal, dengan bau minyak dan aroma kainnya. Tiba-tiba saya merasa harus menyampaikan sebuah kisah pada Anda.

Saya—sedikit atau banyak—hidup bersama mesin jahit. Waktu balita, saya dan kakak lelaki saya sering dibawa ke kedai oleh ayah saya yang seorang tukang jahit. Bukan perjalanan wisata tentunya, karena hampir tiap hari kami dibawa ke kedai. Bukan perjalanan wisata namanya kalau dilakukan setiap hari, bukan? Itu semacam pembagian tugas antara Ibu dan Ayah, karena saat itu kami belum punya pembantu yang bisa menjaga kami di rumah.

Tiap hari (kecuali hari Minggu), begitu lelah bermain benang atau perca kain, saya atau kakak saya, tidur siang di kolong meja gunting. Meja gunting adalah sebutan Ayah untuk sebuah meja setinggi perut dengan panjang dua setengan meteran dan lebar satu meteran yang digunakan Ayah untuk memotong kain. Di bawah meja itu tidak ada apa-apa selain sebuah ruang kosong yang muat untuk kami yang masih kecil-kecil tidur berdua.

Sedikit lebih besar, ketika kaki-kaki saya dan kakak saya mulai bisa menjangkau pedal mesin jahit, Ayah mulai mengajari kami menjahit. Sebuah aktivitas, yang kalau saya pikir-pikir, teramat mengasyikkan untuk anak kecil seusia kami. Memasukkan benang ke lubang jahit, memutar pedal tangan, mengayuh pedal kaki, alangkah menyenangkannya. Begitu pedal dikayuh, jarum jahit menghunjam lubang jahit turun-naik, menarik dan mengaitkan benang, menyambung-mengikat-menjerat dua sisi kain yang akhirnya bisa disatukan.

Setelah matang berlatih menjahit kain perca, Ayah menyuruh kami menunaikan tugas sungguhan pertama: menjahit bendera. Menjahit bendera adalah bagian paling ringan dan paling kecil risikonya. Anda tinggal menyambung dua helai kain dua warna, merah dan putih, melipat keempat sisinya, memberi tiga atau lima kain ikatan di salah satu sisinya, dan jadilah ia sebuah bendera. Di awal-awal bulan Juli seperti sekarang, beberapa minggu sebelum peringatan Hari Kemerdekaan RI, sudah banyak pelanggan yang datang mencari bendera, dan itu adalah masa-masa “bekerja” pula bagi saya dan kakak saya. Itu pulalah masa-masa kami mencari uang jajan tambahan, dengan keringat kami sendiri.

Sedikit lebih besar lagi, saat duduk di kelas dua SMP (dan kakak lelaki saya di kelas tiga SMP), Ayah mulai menurunkan ilmu menjahitnya pada kami berdua, mulai dari bagaimana memilih kain dan benang, bagaimana mengukur kemeja dan celana, bagaimana membuat pola, dan bagaimana memotongnya, dan mulai menjahitnya.

Sebenarnya, menjahit itu dibagi ke dalam dua bagian kemahiran. Pertama, kemahiran menjahit. Kedua, kemahiran mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Di antara dua kemahiran ini, ilmu kedua memiliki strata lebih tinggi. Ketika ingin jadi seorang penjahit, Anda harus pandai terlebih dahulu menjahit. Kalau sudah mahir, Anda baru akan diajari bagaimana cara mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Paling tidak, seperti itulah yang diajarkan Ayah saya.

Awalnya, saya dan kakak saya, melakukan pemberontakan kecil-kecilan terhadap upaya Ayah “memaksa” kami belajar menjahit. Saya dan kakak saya tidak pernah bercita-cita jadi penjahit. Kami sudah cukup melihat betapa susahnya hidup dari profesi itu dijalani ayah kami. Dan, di antara saya dan kakak saya, sayalah yang paling kuat memberontak. Saya bilang pada Ayah, saya tidak punya bakat menjahit. Saya bilang, saya ingin jadi insinyur. Saya tidak ingin keluarga saya hidup susah kelak, sebagaimana Ayah membesarkan saya.

Namun Ayah berkata, “Kalau kamu tidak mau menjadi penjahit, tidak mau menjadikan ini sebagai mata pencaharian, tak apa. Tapi paling tidak, saat kelak hidupmu tiba-tiba susah, tiba-tiba kau terjepit hidup, kau bisa menjadikan ilmu menjahit ini sebagai ban serap, sampai kesempitanmu hilang.”

Kata-kata beliau itu lekat di kepala saya sampai hari ini. Dan satu lagi yang beliau pesankan pada saya dan kakak saya: “Meski nanti sudah jadi orang kaya, milikilah sebuah mesin jahit di rumah. Pasti bahagia rasanya, bisa sesekali melihat anak lelaki kalian memakai kemeja dan celana yang dijahit ayah mereka sendiri. Percayalah pada Ayah.”

Kata-kata itu tak pernah saya ikuti. Sampai sekarang, kalau ada keperluan memotong celana yang kepanjangan kakinya, atau baju yang terlalu longgar, saya pasti lari ke tukang jahit. Mengupah mereka untuk mengerjakan sesuatu yang sudah saya kuasai sejak saya masih kecil.

Sementara kakak saya, setelah berlika-liku mencari peruntungan dengan ijazah sarjananya, akhirnya memutuskan untuk menjadi penjahit seperti Ayah, tentu saja dengan skala yang berbeda. Kakak saya itu, bahkan ketika memutuskan menjadi penjahit, sudah merendam ijazah S1-nya, yang seingat saya, membuatnya ribut dengan Ibu saya dan istrinya selama berhari-hari.

Begitulah kenangan saya tentang sebuah mesin jahit. Kini, saat menulis tulisan ini, keinginan saya untuk memiliki sebuah mesin jahit manual tua (bukan mesin jahit listrik) kembali menggebu-gebu. Saya rindu mendengar derak-derik suara pedalnya, dan suara tik-tik saat benang kawin dengan benang, dan melihat putaran rodanya yang dulu sekali waktu kecil pernah menjepit jari-jari saya.[]

Standard
Journal

Saya dan Hikayat Sebuah Mesin Jahit Tua


MALAM ini, entah kenapa, kepala saya dipenuhi gambar-gambar mesin jahit. Bukan mesin jahit yang sudah modern dan canggih seperti yang dipakai orang sekarang, tapi mesin jahit tua, dengan sabuk dan pedal, dengan bau minyak dan aroma kainnya. Tiba-tiba saya merasa harus menyampaikan sebuah kisah pada Anda.
Saya—sedikit atau banyak—hidup bersama mesin jahit. Waktu balita, saya dan kakak lelaki saya sering dibawa ke kedai oleh ayah saya yang seorang tukang jahit. Bukan perjalanan wisata tentunya, karena hampir tiap hari kami dibawa ke kedai. Bukan perjalanan wisata namanya kalau dilakukan setiap hari, bukan? Itu semacam pembagian tugas antara Ibu dan Ayah, karena saat itu kami belum punya pembantu yang bisa menjaga kami di rumah.
Tiap hari (kecuali hari Minggu), begitu lelah bermain benang atau perca kain, saya atau kakak saya, tidur siang di kolong meja gunting. Meja gunting adalah sebutan Ayah untuk sebuah meja setinggi perut dengan panjang dua setengan meteran dan lebar satu meteran yang digunakan Ayah untuk memotong kain. Di bawah meja itu tidak ada apa-apa selain sebuah ruang kosong yang muat untuk kami yang masih kecil-kecil tidur berdua.
Sedikit lebih besar, ketika kaki-kaki saya dan kakak saya mulai bisa menjangkau pedal mesin jahit, Ayah mulai mengajari kami menjahit. Sebuah aktivitas, yang kalau saya pikir-pikir, teramat mengasyikkan untuk anak kecil seusia kami. Memasukkan benang ke lubang jahit, memutar pedal tangan, mengayuh pedal kaki, alangkah menyenangkannya. Begitu pedal dikayuh, jarum jahit menghunjam lubang jahit turun-naik, menarik dan mengaitkan benang, menyambung-mengikat-menjerat dua sisi kain yang akhirnya bisa disatukan.
Setelah matang berlatih menjahit kain perca, Ayah menyuruh kami menunaikan tugas sungguhan pertama: menjahit bendera. Menjahit bendera adalah bagian paling ringan dan paling kecil risikonya. Anda tinggal menyambung dua helai kain dua warna, merah dan putih, melipat keempat sisinya, memberi tiga atau lima kain ikatan di salah satu sisinya, dan jadilah ia sebuah bendera. Di awal-awal bulan Juli seperti sekarang, beberapa minggu sebelum peringatan Hari Kemerdekaan RI, sudah banyak pelanggan yang datang mencari bendera, dan itu adalah masa-masa “bekerja” pula bagi saya dan kakak saya. Itu pulalah masa-masa kami mencari uang jajan tambahan, dengan keringat kami sendiri.
Sedikit lebih besar lagi, saat duduk di kelas dua SMP (dan kakak lelaki saya di kelas tiga SMP), Ayah mulai menurunkan ilmu menjahitnya pada kami berdua, mulai dari bagaimana memilih kain dan benang, bagaimana mengukur kemeja dan celana, bagaimana membuat pola, dan bagaimana memotongnya, dan mulai menjahitnya.
Sebenarnya, menjahit itu dibagi ke dalam dua bagian kemahiran. Pertama, kemahiran menjahit. Kedua, kemahiran mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Di antara dua kemahiran ini, ilmu kedua memiliki strata lebih tinggi. Ketika ingin jadi seorang penjahit, Anda harus pandai terlebih dahulu menjahit. Kalau sudah mahir, Anda baru akan diajari bagaimana cara mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Paling tidak, seperti itulah yang diajarkan Ayah saya.
Awalnya, saya dan kakak saya, melakukan pemberontakan kecil-kecilan terhadap upaya Ayah “memaksa” kami belajar menjahit. Saya dan kakak saya tidak pernah bercita-cita jadi penjahit. Kami sudah cukup melihat betapa susahnya hidup dari profesi itu dijalani ayah kami. Dan, di antara saya dan kakak saya, sayalah yang paling kuat memberontak. Saya bilang pada Ayah, saya tidak punya bakat menjahit. Saya bilang, saya ingin jadi insinyur. Saya tidak ingin keluarga saya hidup susah kelak, sebagaimana Ayah membesarkan saya.
Namun Ayah berkata, “Kalau kamu tidak mau menjadi penjahit, tidak mau menjadikan ini sebagai mata pencaharian, tak apa. Tapi paling tidak, saat kelak hidupmu tiba-tiba susah, tiba-tiba kau terjepit hidup, kau bisa menjadikan ilmu menjahit ini sebagai ban serap, sampai kesempitanmu hilang.”
Kata-kata beliau itu lekat di kepala saya sampai hari ini. Dan satu lagi yang beliau pesankan pada saya dan kakak saya: “Meski nanti sudah jadi orang kaya, milikilah sebuah mesin jahit di rumah. Pasti bahagia rasanya, bisa sesekali melihat anak lelaki kalian memakai kemeja dan celana yang dijahit ayah mereka sendiri. Percayalah pada Ayah.”
Kata-kata itu tak pernah saya ikuti. Sampai sekarang, kalau ada keperluan memotong celana yang kepanjangan kakinya, atau baju yang terlalu longgar, saya pasti lari ke tukang jahit. Mengupah mereka untuk mengerjakan sesuatu yang sudah saya kuasai sejak saya masih kecil.
Sementara kakak saya, setelah berlika-liku mencari peruntungan dengan ijazah sarjananya, akhirnya memutuskan untuk menjadi penjahit seperti Ayah, tentu saja dengan skala yang berbeda. Kakak saya itu, bahkan ketika memutuskan menjadi penjahit, sudah merendam ijazah S1-nya, yang seingat saya, membuatnya ribut dengan Ibu saya dan istrinya selama berhari-hari.
Begitulah kenangan saya tentang sebuah mesin jahit. Kini, saat menulis tulisan ini, keinginan saya untuk memiliki sebuah mesin jahit manual tua (bukan mesin jahit listrik) kembali menggebu-gebu. Saya rindu mendengar derak-derik suara pedalnya, dan suara tik-tik saat benang kawin dengan benang, dan melihat putaran rodanya yang dulu sekali waktu kecil pernah menjepit jari-jari saya.[]
Standard