Books

Karnaval Kehilangan dalam “Norwegian Wood”

BENAR sudah apa yang dikatakan Virginia Quarterly Review saat mendeskripsikan novel-novel Haruki Murakami: “mudah dimengerti, namun dalam dan kompleks.” Meski baru membaca dua bukunya, saya setuju dengan pendapat itu. “Dengarlah Nyanyian Angin”, yang memenangi Gunzo Literary Award tahun 1979 adalah buku Murakami pertama yang saya kunyah-kunyah (akan saya ulas pula di lain kesempatan). Tuntas dengan buku itu, saya kemudian melahap habis “Norwegian Wood”, buku yang sebenarnya sudah cukup lama diterbitkan terjemahan Indonesianya (KPG, Juli 2005), namun baru sempat saya baca baru-baru ini.

Toru Wanatabe, karakter utama dalam novel ini adalah anak muda Jepang yang berteman dengan Kizuki, dan juga pacar Kizuki yang bernama Naoko. Setelah Kizuki mati bunuh diri, Naoko belakangan dekat dengan Wanatabe dan keduanya saling jatuh cinta. Namun, karena kondisi kejiwaan Naoko yang tak terlalu stabil, mereka terpaksa berpisah kota, dan itu menyakitkan buat keduanya, terutama Naoko. Sementara berusaha menekan rasa hampa karena ketiadaan Naoko, Wanatabe bertemu Midori, gadis sekampusnya, yang kemudian jatuh cinta setengah mati pada pemuda pendiam yang bekerja paruh waktu di sebuah toko penyewaan piringan hitam itu.

Karakter-karakter yang muncul dalam Norwegian Wood adalah karakter-karakter sunyi dan mendung. Hanya Midori yang terlihat ceria, meski sebenarnya Midori punya beban tak kalah rumit yang dibawa-bawanya setiap hari; sakit dan kematian ayahnya, juga kekasihnya yang tak bisa membuatnya bahagia seperti harapannya. Sepanjang membaca novel ini, saya membayangkan suasana Tokyo yang redup, jaket-jaket musim dingin, salju yang menempel di jendela, dan bibir-bibir yang pucat menahan dingin. Wanatabe adalah pemuda tertutup, pilih-pilih teman, penyendiri, menyukai musik dan buku, dan sangat percaya pada kata hatinya sendiri. Novel ini kian sendu karena tiga tokohnya bunuh diri; Kizuki, Naoko, dan Hatsumi (kekasih Nagasawa, teman Wanatabe yang doyan tidur dengan perempuan).

Novel ini banyak mengulas buku yang dibaca, penulis yang digemari, dan juga musik yang didengarkan Wanatabe. Haruki Murakami memang seorang penyuka musik. Entah terkait entah tidak dan mungkin karena itu pula novel ini diberi judul “Norwegian Wood”, satu tembang yang ditulis John Lennon dipopulerkan oleh The Beatles. Dalam cerita, lagu ini sangat disukai Naoko yang di sebuah pusat rehabilitasi berteman dekat dengan Reiko Ishida yang pandai bermain musik dan sering menyanyikan lagu ini untuk Naoko–dan belakangan untuk Wanatabe.

Ruang-ruang gelap dan dingin dalam buku ini memuncak saat Naoko bunuh diri di sebuah hutan yang sepi dan Wanatabe yang uring-uringan menggelandang dan melecut-lecut batinnya sendiri dari satu kota ke kota lain demi “melarikan diri” dari kesedihannya setelah kematian Naoko. Novel ini bicara tentang banyak sekali kehilangan. Kehilangan demi kehilangan yang sepertinya hanya orang yang kehilangan saja yang bisa memahami betapa sakitnya ketika sesuatu dicerabut dari diri mereka.

Saya tak tertarik mengulas kehilangan-kehilangan yang dihadirkan dalam novel ini lebih jauh, karena saya bukan pengulas yang baik. Sebagai penulis, ada banyak yang bisa saya pelajari dari gaya menulis Haruki Murakami terutama “Norwegian Wood”, dan sayangnya saya tidak bisa mengungkapkannya di sini. Saya kini sedang berjuang mendapatkan buku-buku Murakami lainnya, mudah-mudahan yang berbahasa Inggris. Oh, ya, saya juga sudah nonton versi film dari novel ini (terima kasih YouTube!), dan berniat membandingkan keduanya suatu hari nanti.[]

Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Terbit: Mei 2013, (Cetakan ke-4)
Tebal: 426 hal.

Standard
Books

Novel Terakhir Pengarang Sitti Nurbaya

WARTAWAN Majalah Tempo, Iqbal Muhtarom, mewawancarai saya tentang proses penyuntingan novel “Memang Jodoh” karya Marah Rusli. Berikut petikannya:

Bagaimana proses editing naskah novel yang sudah selesai ditulis pada tahun 1961 tersebut? Apa tantangan mengedit naskah yang sudah terbit lebih dari 50 tahun lalu?

Bagi saya, naskah “Memang Jodoh” ini termasuk naskah kelas berat. Artinya, naskah yang sulit untuk disunting. Kalimatnya panjang-panjang, dan banyak sekali ungkapan, kalimat, atau kata yang tidak “asing” atau jarang dibaca atau didengar oleh pembaca sekarang. Banyak pula kata-kata yang belum baku, masih merupakan bahasa asli Minangkabau yang belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia.

Berapa lama Anda butuhkan menyunting naskah novel?

Naskah ini saya sunting lebih kurang selama 2,5 bulan.

Pada bagian apa saja yang Anda edit, sunting, dalam naskah novel?

Penerbit meminta saya menjadikan naskah ini lebih ringan buat pembaca. Namun, saya sekaligus diminta untuk tidak menghilangkan gaya bercerita khas a la Marah Rusli seperti dalam novel beliau yang lain semisal Sitti Nurbaya. Kalimat yang panjang saya pecah menjadi beberapa kalimat pendek tanpa merusak isi dan maksudnya; saya juga membuat catatan kaki untuk kata/ungkapan agar lebih mudah dipahami pembaca.

Adakah kata-kata yang Anda ubah ejaannya, yang Anda sesuaikan dengan kondisi sekarang?

Di naskah yang saya terima, ejaan yang digunakan sudah EYD. Jadi, tidak ada ejaan lama dalam naskah Memang Jodoh yang saya terima dari penerbit. Kalaupun ada yang saya ganti atau ubah hanya beberapa kata yang ditulis menurut cara bertutur orang Minangkabau tempo dulu, seperti “sekolah peripat” yang maksudnya “sekolah swasta”. Selagi kata yang dipakai masih bisa dipahami pembaca—meskipun kurang populer—saya akan mempertahankannya dan memberi catatan tentang kata tersebut.

Kesulitan apa yang Anda alami ketika menyunting naskah novel Memang Jodoh ini?

Kesulitannya hanya dalam mencari arti kata-kata yang tak saya temukan artinya di dalam kamus.

Dalam novel ini terdapat catatan kaki, apakah catatan kaki itu dari Anda? Mengapa diperlukan catatan kaki? Hal-hal apa saja yang Anda perlukan untuk diberikan catatan kaki?

Ya, catatan kaki itu dari saya, dan beberapa lagi ditambahkan oleh penerbit. Ya, tentu saja diperlukan, karena kalau saya biarkan tanpa catatan, pembaca akan merasa asing dengan kata yang dipakai oleh pengarangnya. Saya memang tidak berani mengubah kata-kata tersebut ke konteks sekarang, karena saya dan penerbit memang ingin tetap seperti itu. Nah, dengan catatan kaki inilah kita membantu pembaca untuk memahaminya.

Bisa diceritakan proses penerbitkan novel Memang Jodoh ini, mengapa Qanita bisa menerbitkannya? Apakah keluarga Marah Rusli yang menawarkan? Kapan tawaran itu diberikan?

Pertanyaan ini lebih tepat dijawab oleh penerbit.

Berdasar wawancara kami dengan keluarga Marah Rusli, terdapat salah penulisan Merah Hamli, yang seharusnya ditulis Marah Hamli? Meskipun menurut cucu Marah Rusli, dalam naskah aslinya memang ditulis Merah Hamli.

Ya, dalam naskah yang saya terima, memang ada dua versi penulisan nama tersebut: Merah Hamli dan Marah Hamli. Namun, kekeliruan ini sudah diluruskan dan diperbaiki.

Apakah Anda membaca naskah asli dari novel ini yang ditulis dalam Arab gundul? Juga naskah yang ditulis Marah Rusli yang sudah ditulis dalam huruf latin?

Tidak, naskah yang saya terima dari penerbit adalah naskah yang sudah ditik ulang. Saya juga baru tahu kalau naskah aslinya dalam bahasa Arab gundul.[]

Judul: Memang Jodoh
Pengarang: Marah Rusli
Penyunting: Melvi Yendra
Penerbit: Qanita, 2013
Tebal: 535 halaman

Standard
Books

Sahabat Nabi Paling Kontroversial

Foto: Dakwatuna.com

MUAWIYAH bin Abu Sufyan adalah satu di antara sahabat Nabi Saw. yang paling kontroversial. Dia lahir dari kedua orangtua yang sebelumnya sangat memusuhi Islam: Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti Utbah. Sikapnya terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib, dianggap makar dan tergolong bughat (pemberontak). Tindakannya mengangkat putranya Yazid sebagai khalifah, dituding telah menciptakan sistem baru yang tak pernah ada sebelumnya.

Di sisi lain, jasa Muawiyah tak bisa dipungkiri. Pencatat wahyu ini tak hanya mampu mengakhiri konflik antar kaum Muslimin di masanya, tapi juga berhasil menancapkan pondasi sebuah dinasti yang telah memberikan begitu besar jasanya bagi dunia Islam: Dinasti Umayyah.

Maka, sosok Muawiyah pun mendapat banyak sorotan. Di satu sisi, ada yang membencinya habis-habisan. Berbagai julukan ditabalkan. Dia disebut licik, culas, musang berbulu domba, bahkan pengkhianat!

Di satu pihak, kita justru menemukan banyak “nash” tentang keutamaan sahabat Nabi Saw. ini. Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Tentara dari umatku yang mula-mula berperang mengarungi lautan sudah pasti mendapat surga,” (H.R. Bukhari dan Muslim). Dan, Muawiyah adalah pemimpin armada angkatan laut umat Islam pertama di masa pemerintahan Usman bin Affan.

Ketika mengangkatnya sebagai Gubernur Syam, Umar bin Khattab berkata, “Janganlah kalian menyebut Muawiyah kecuali dengan kebaikan.” Saat ditanya tentang mana yang lebih utama antara Muawiyah dan Umar bin Abdul Aziz, Abdullah bin Mubarak menjawab, “Demi Allah, debu yang berada di lubang hidung Muawiyah karena berjihad bersama Rasulullah Saw., lebih baik daripada Umar bin Abdul Aziz!”

Buku ini menguak biografi singkat Muawiyah bin Abu Sufyan dan segala kontroversi yang melingkupi dirinya. Juga tentang kronologis terjadinya Perang Shiffin, perang saudara yang menorehkan tinta hitam dalam lembar sejarah Islam.[]

Standard
Books

Presiden yang Hafal Qur’an

Image

Judul: DR. Mursi, Presiden yang Hafal Qur’an
Penulis: Hepi Andi Bastoni, dkk.
Penerbit: Pustaka Al-Bustan, Bogor.
Cetakan Pertama: Juli 2012

Dia lahir dari keluarga sangat sederhana di Desa al-Adawa, Provinsi asy-Syarqiya, Mesir bagian timur pada 20 Agustus 1951. Ayahnya petani dan ibunya seorang perempuan rumah tangga. Setelah mendapat gelar insinyur dari Universitas Kairo pada 1975, kemudian gelar master di bidang teknik di universitas yang sama, pria ini melanjutkan pendidikannya di University of Southern California, dan mendapat gelar doktor pada 1982 dari universitas tersebut. Continue reading

Standard
Books, Journal

Buku dan Kenangan

Sebuah buku ternyata membawa banyak kenangan. Ia datang ke dalam hidup kita, bisa dengan cara tiba-tiba (seperti hadiah ulang tahun, misalnya), atau memang sudah diidam-idamkan sejak lama. Atau ia kita temukan secara tidak sengaja di toko buku, tanpa pernah kita rencanakan sebelumnya. Ia kemudian “ditakdirkan” menjadi milik kita, dan kita “ditakdirkan” memilikinya.

Sebuah buku kadang hadir sebentar saja dalam hidup kita. Ia kita akrabi cuma beberapa hari saja. Setelah selesai kita baca, kita melemparnya ke dalam kardus, atau disisipkan ke dalam rak buku (kadang di sudut terjauh) dan tak pernah kita sentuh lagi selamanya. Kadang-kadang kita sering lupa namanya (judulnya), dan sering pula lupa apakah kita pernah memilikinya. Konyolnya, kita kadang membeli buku yang sama dua kali, saking tidak ingatnya kalau kita pernah memilikinya.

Namun, ada pula buku yang “beruntung”. Ia menjadi kesukaan semua orang. Bahkan ketika ia hadir di tengah-tengah keluarga, semua anggota keluarga ingin menjadi yang pertama membacanya. Saking sukanya, kita suka mengulang-ulang membaca halaman yang sama, atau membaca lagi keseluruhan buku sampai kita benar-benar puas. Kita membicarakannya di kelas dengan teman-teman, menghadiahkannya kepada orang yang kita sayangi, atau begitu sedih ketika buku itu hilang dari rak buku kita di kamar. Kadang-kadang pula, kita ingin suatu saat bisa menulis buku seindah dan sehebat itu.

Dalam hidup saya, saya memiliki beberapa buku yang benar-benar penuh kenangan. Penuh kenangan dalam definisi saya adalah: buku yang mengesankan, buku yang saya miliki dilatari peristiwa “bersejarah”, buku yang memengaruhi hidup saya, dan buku yang membuat saya berubah.

Bagaimana dengan Anda?

Standard
Books

Andrea: Sebuah Puzzle Romansa

doc penerbit al-bustan


Judul: Andrea
Pengarang: D.A. Andiny
Penyunting: Melvi Yendra
Penata Letak dan Pewajah Sampul: Yudiarto Iskandar
Penerbit: Pustaka Al-Bustan
Cetakan 1: Juli 2011
Tebal: 300 hal. (13,5 x 20,5)

Novel sepanjang 300 halaman ini berkisah tentang Andrea, seorang gadis yang telah kehilangan satu-satunya cinta yang dikenalnya, Rio. Rasa itu terenggut saat Rio pergi dari hidupnya dan menikah dengan gadis asing yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam kehidupan mereka.

Andrea tak bisa menerima cobaan itu. Mencoba bertahan hidup dengan kondisi waras adalah hal tersulit baginya. Gadis ini makin labil dan kehilangan arah. Namun, seseorang muncul dalam hidupnya: Nadia, seorang pianis buta berparas jelita. Tapi kehadiran Nadia bukannya menyembuhkan lukanya, tapi menyeretnya ke jurang ketidakwarasan yang lebih menggila. Nadia jatuh cinta pada Andrea, dan tak ingin melepaskan gadis itu dari hidupnya.

Andrea terlena, mabuk, dan tidak bisa menolak gelora yang ditawarkan sosok Nadia yang memesona. Keduanya pun tenggelam dalam kubang rasa yang tidak mereka pahami.

Andrea adalah kisah pencarian identitas seorang gadis yang terempas di lautan kegalauan, terombang ambing oleh derasnya debur ombak patah hati.

Mas Ahmad Gozali, perencana keuangan Safir Senduk dan Rekan memberi endorsment untuk novel ini: “Buku yang Anda pegang adalah sebuah puzzle romansa. Penceritaannnya cerdas dan bikin penasaran.”

Nah, tunggu apa lagi?[]

Standard
Books

Novel Terbaru Saya, ‘Harmoni dalam ?’

dok. mahaka


Judul: Harmoni dalam ?
Penulis: Melvi Yendra
Penerbit: Mahaka Publishing
Cetakan 1: Desember 2011
Tebal: 344 hal.
Harga: –

Ini dia novel terbaru saya. Judulnya agak lain dari biasa, “Harmoni dalam ?”. Awalnya draft novel ini saya kerjakan sendiri, tapi belakangan, penerbit melakukan revisi atas draft saya. Ada editor di internal Penerbit yang dilibatkan “merampungkan” novel ini.

“Harmoni dalam ?” adalah novel pesanan. Dipesan? Iya, benar. Novel ini ditulis berdasarkan film arahan sutradara Hanung Bramantyo, yang diproduksi Dapur Film Productions dan Mahaka Pictures, yang sempat bikin heboh dan menuai protes beberapa waktu lalu. Anda pasti sudah bisa menebak film apa yang saya maksud. Ya, film “?”. Novel ini ditulis “berdasarkan” film itu. Mahaka Publishing, yang notabene satu payung dengan Mahaka Pictures, ingin melakukan sesuatu, agar kontroversi yang dipicu film “?”, tidak meluas dan kisah dalam film itu bisa dijabarkan dengan lebih logis.

Novel ini saya kerjakan hanya dalam waktu satu bulan. Pihak Penerbit mengajak saya menonton gala premiere film ini, kemudian memberi saya draft final skenarionya yang ditulis oleh Titin Wattimena. Ya, hanya itulah modal saya menulis novel ini. Tak ada waktu buat riset, wawancara, apalagi survei ke lapangan. Waktu itu, Penerbit menargetkan, novel ini sudah beredar saat filmnya masih hangat di penggorengan.

Tapi, sehari setelah gala premiere itu, film ini mulai jadi berita di media. MUI bersuara keras soal film ini, begitu pula beberapa organisasi Islam. Melihat reaksi yang hangat itu, Penerbit ingin novel ini tampil “tidak main-main”. Diskusi mendalam dilakukan beberapa kali. Alur dan plot dibuat sedemikian rupa. Karakter tokohnya diperkuat, dan kisah cinta segitiganya dibumbui secukupnya agar novel ini tak melulu berisi ketegangan.

Tapi karena novel ini melibatkan banyak pihak, tak mudah menemui kata sepakat. Dan itu ternyata makan waktu. Pada titik ini, saya tidak terlalu melibatkan diri. Novel ini tertunda penerbitannya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Lalu kemudian saya mengira bahwa novel ini tak jadi diterbitkan karena beberapa pertimbangan. Bisa jadi karena isunya tak lagi hangat dan penerbit takut novel ini tak laku. Bisa jadi pula karena Penerbit takut akan ancaman pihak tertentu. Pasalnya, saat sebuah stasiun televisi swasta berniat memutar film “?”, ada organisasi massa yang mengancam akan membakar kantor stasiun televisi swasta itu. Mungkin, sekali lagi mungkin, karena itu pula, penerbitan novel ini tertunda jauh, bahkan saya sempat menerima kabar dari Penerbit bahwa novel ini memang tak jadi diterbitkan.

Tapi, alhamdulillah, kerja keras saya akhirnya mendapat buahnya juga. Novel ini jadi diterbitkan. Tapi sayangnya, saya dikabari setelah novel ini turun cetak. Penerbit mengundang saya ke kantor mereka untuk mengambil jatah buku untuk saya. Di sanalah, di halaman credit title, saya melihat satu hal yang membuat saya kurang selesa, yaitu kesalahan penulisan nama saya (tertulis Melvy Yendra, yang seharusnya Melvi Yendra). Dan bila Anda membaca paragraf pertama di Bab 1, Anda akan menemukan satu kesalahan fatal. Ya, tapi… sudahlah.

Apa yang saya tulis dalam novel ini? Apa hanya sekadar me-novel-kan filmnya, seperti yang dilakukan banyak penerbit lainnya? Tidak, saya justru diminta oleh Penerbit “meluruskan” logika dan menambal bolong-bolong yang banyak sekali ada di versi filmnya. Kalau Anda sudah nonton film “?”, Anda pasti paham maksud saya. Setidaknya, menurut saya, film “?” belum utuh sebagai sebuah cerita. Dan karena belum utuh itulah, saya diminta Penerbit untuk membantu “meluruskan”-nya lewat novel ini.[]

Catatan: Anda tidak perlu menonton film “?” untuk paham kisah dalam novel ini, karena sesungguhnya novel ini sudah utuh menjadi dirinya sendiri.

Standard
Books

Samudera Pasai: Cinta dan Pengkhianatan

Penulis: Putra Gara
Editor: Melvi Yendra
Penerbit: Hikmah Publishing House, 2010

Putra Gara, penulis novel ini, sudah memulai karier jurnalistiknya sejak SMA, sebagai wartawan freelance untuk koran-koran mingguan. Dia juga aktif menulis cerita di majalah-majalah remaja. Selain hobi melukis dan menulis skenario, ia juga seorang sutradara. Dia pernah menerbitkan buku kumpulan cerita, tetapi ini adalah novel perdananya, yang mengambil latar sejarah Aceh.

Novel 452 halaman ini berkisah tentang tiga generasi di jantung Kerajaan Samudra Pasai, yang berjuang untuk negeri yang sama, namun dengan kisah yang berbeda. Malikussaleh, sang pendiri, adalah sosok penuh kharisma dan sangat dicintai rakyatnya. Ia pergi, saat kecintaan seluruh negeri sedang memuncak padanya. Malikuddhahir, terperangkap dalam bara dendam musuh lama, yang nyaris memicu perang saudara yang penuh darah. Malikuddhahir II, terjebak dalam kisah cinta tak sampai, yang membawa pergi jauh dirinya untuk mengobati luka hatinya, namun kemudian kembali menjadi sosok yang gagah perwira.

Samudra Pasai, kerajaan Islam pertama yang ada di Nusantara. Kerajaan yang makmur dan berdaulatm dengan raja yang adil dan bijaksana, berada di ujung tanduk, saat Gajah Mada berniat memperluas wilayah kekuasaannya.[]

Standard
Books

Doa-Doa Mustajabah

Judul: Doa-Doa Mustajabah
Penulis: Abu Qalbina
Editor: Melvi Yendra
Penerbit: Grasindo (Kompas Gramedia Group), 2009
Doa adalah pilar ibadah. Setiap gerak dari seorang muslim pada hakikatnya adalah doa. Buku yang sederhana ini akan memberikan manfaat yang sangat besar karena mengetengahkan doa-doa yang praktis, lengkap, dan mudah digunakan bagi segala usia. Doa-doa yang terdapat dalam buku ini bisa langsung digunakan untuk membentuk kepribadian muslim.

Di saat kita berdoa akan merasakan ketenangan batin. Sebab itu, hidup ini akan terasa indah dan nikmat jika dijalani dengan doa. Buku ini adalah salah satu jalan kenikmatan batin itu…[]

Standard